EVA Rofni duduk di ruang tunggu pasien Rumah Sakit Umum (RSU) Daya, Minggu (30/9). Rasa cemas masih tampak pada raut wajahnya. Trauma juga melingkupinya.
Sesekali air bening bergulir di sudut matanya. Ia menangis kala mengingat tragedi gempa yang disusul tsunami di tempat tinggalnya Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9).
Saat itu, Eva sedang makan malam. Tiba-tiba lantai rumahnya bergoyang. Disusul lemari dan benda-benda yang ada di dalam rumah berjatuhan.
Dalam hitungan detik, tangannya ditarik oleh sang suami. Mereka langsung keluar rumah dan berdiri di median jalan.
”Saya tidak tahu lagi mau ke mana. Ini bumi bergoyang keras. Lampu mati. Lemari banyak yang jatuh. Untung suamiku tarik saya keluar dari rumah lalu berdiri di median jalan. Tangisan di mana-mana seiring guncangan hebat,” kenangnya dengan suara agak tertahan.
Tidak ada lagi di pikiran Eva dan suaminya untuk menyelamatkan harta dan benda yang ada di dalam rumahnya. Dia cuma bergerak mencari tempat yang aman dan tinggi.
Apalagi, di saat bersamaan terdengar teriakan yang saling bersahut-sahutan. Orang-orang menyebut air dan lumpur sudah sangat dekat dari tempat tinggalnya di Jalan Tondo, Kelurahan Mantikulore, Kecamatan Palu Timur. Lokasinya tidak begitu jauh dengan pesisir pantai.
“Panik dan tangisan di mana-mana. Tidak tahu kita mau ke mana. Sementara air dan lumpur sudah dekat. Saya dan suami saya terjebak air dan lumpur dari bawah. Ditambah lagi guncangan. Pilihan satu-satunya adalah naik ke tempat lebih tinggi,” akunya.
Di RS Umum Daya, Eva mengantar adik iparnya bernama Winda (28) dan Melsi (26). Keduanya mengalami luka di tubuh terkena jatuhan benda dalam rumah. Untungnya, secara fisik, luka keduanya tidak begitu berat. Namun traumanya cukup mendalam. Sebab mereka tinggal cukup dekat dari pantai.
“Adik ipar saya ini tinggal dekat pantai. Rumahnya dikepung air bercampur lumpur. Untung selamat. Saya dapat setelah bersama-sama keluarga cari di posko penampungan. Setelah itu diberangkatkan ke Makassar menggunakan pesawat Hercules TNI AU,” tuturnya.
Di RSU Daya, sejak Sabtu pagi (29/9) pukul 04.00 Wita hingga Minggu, sore (30/9), sudah tercacat sebanyak 10 korban luka-luka dari Kota Palu mendapat perawatan. Terbanyak mengalami luka memar, bahkan ada yang patah tulang.
Korban yang terdata adalah A Awiluddin (42), Ferawati (24), Miana (38), Ilham Suliadi (25), Anton Appang (64) dan Darmin (39). Sementara empat orang lainnya yang baru masuk pukul 16:10 Wit,a kemarin masih dalam pendataan. Namun terlihat, empat orang yang kesemuanya perempuan ini mengalami luka memar dan patah tulang.
Kepala Bagian Humas RS Umum Daya Zaenal Arifin, memprediksi jumlah korban luka dari Palu dan Donggala akan terus bertambah. ”Pasien yang dirawat terbanyak perempuan. Mereka luka memar dan patah tulang akibat terkena runtuhan bangunan saat terjadi gempa,” kata Zaenal, kemarin.
Satu orang korban yang sebelumnya sempat dirawat, lanjut Zaenal, sudah dipulangkan. Kondisinya telah membaik usai mendapatkan perawatan medis.
Sementara di Ruang Unit Gawat Darurat RS Wahidin Sudirohusodo, cukup banyak korban luka yang dirawat akibat gempa Palu. Mereka mengalami luka berat dan patah tulang. Terdiri dari perempuan dewasa serta anak-anak.
Pihak RS Wahidin masih menunggu waktu untuk memberikan keterangan terkait jumlah pasien atau korban gempa Palu yang dirawat di tempat ini.
Kirim Anjing Pelacak
Direktorat Sabhara Polda Sulsel mengerahkan dua ekor anjing pelacak untuk turut serta dalam melakukan pecarian para korban gempa bumi di Palu dan Donggala. Jenis anjing Ras Pinter dan Belgian Malinois ini memiliki indera yang cukup tajam yang dapat mengendus korban bencana yang sudah jadi mayat.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani, mengatakan dua anjing pelacak K9 tersebut sudah terjun di lokasi melakukan penyisiran.
“Penyisiran di lokasi tempa dipimpin Ipda B Salu didampingi lima personel lainnya,” ujar Kombes Dicky, Minggu (30/9).
Dari data yang diperoleh, lanjut Dicky, ada delapan anggota polri yang jadi korban gempa di Palu. Saat ditemukan langsung dievakusi ke Rumah Sakit Bhayangkara Palu. (arf-ish/rus)
