Site icon Berita Kota Makassar

NA Usulkan Nama Pasar Induk Parepare

MAKASSAR, BKM — Sulawesi Selatan merupakan salah satu lumbung beras andalan Indonesia. Dengan produksi mencapai dua juta ton per tahun, Sulsel bisa meng-cover kebutuhan beras di beberapa provinsi tetangga.
Kualitas hasil produksi giling yang sangat bagus dan menjadi pemasok gabah/beras ke sebagian besar wilayah Indonesia. Sulsel juga memiliki sarana pasca panen yang memadai di kabupaten penghasil padi. Memiliki sarana pelabuhan di Kota Makassar dan Parepare. Namun, jumlah total produksi dan pengiriman beras Sulsel ke provinsi lain tidak tercatat dengan akurat. Kendala itu ke depan harus diatasi.
Badan Urusan Logistik (Bulog) saat ini berupaya untuk menghadirkan gudang beras di Wilayah Lapadde dengan kapasitas cukup besar, yakni 10 ton.
Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah menyampaikan, hadirnya ide pengembangan dari Bulog tersebut adalah berkah bagi Sulsel. Ini juga akan menghilangkan masalah yang dihadapi yaitu database perberasan.
“Ini berkah buat Sulsel, pengembangan bisnis Bulog. Sementara itu tanggung jawab provinsi ini bagaiman ketersediaan beras. Kedua, perencanaan bisa sinkron. Salah satu kelemahan kita tidak punya data beras,” sebut NA.
Nurdin juga menyampaikan musyawarah tudang sipulung merupakan tradisi yang dilaksanakan masyarakat di Sulsel untuk dilestarikan dan menjadi bisa solusi masalah pertanian.
Musyawarah ini dihadiri oleh berbagai kalangan hadir dalam acara ini. Tradisi dimana semua stake holder terutama masyarakat dan pemerintah bertemu merumuskan rencana sektor pertanian ke depannya.
Terkait PIB Lapadde, NA mengusulkan agar namanya lebih dipopulerkan dengan nama Pasar Induk Parepare.
“Saya senang sekali mendengarkan. Kalau bisa pasar namanya induk Parepare pak. Karena kalau Parepare orang langsung ingat Pak BJ Habibie,” ujarnya.
Tahun 2017 Divre Sulselbar telah melakukan pengiriman beras ke sebagian besar wilayah Indonesia sebesar 260.768 ton atau dengan nilai sekitar Rp2,3 triliun
Dengan adanya PIB Lappade, diharapkan mampu mencatat neraca perdagangan daerah. Juga berfungsi sebagai instrumen pengedalian harga, potensi peningkatan pendapatan daerah, sebagai pusat perdaganagn wilayah, menjamin ketersediaan dan akses pangan masyarakat, meningkatkan pengembangan kewirausahaan petani dan meningkatkan nilai tambah petani.
“PIB adalah tempat pertemuan penjual dan pembeli untuk perdagangan komoditas pangan beras yang dikelola oleh Perum Bulog dengan dukungan penuh pemerintah pusat dan daerah,” kata Imam.
Manfaatnya PIB Lapadde, meningkatkan penyerapan gabah/beras petani dengan kualitas jenis yang bervariasi. Standarisasi kualitas pangan (khususnya beras), menjamin keberlangsungan pasokan pangan. Selain itu sebagai pusat perdagangan beras ke seluruh Indonesia, serta memperluas jaringan distribusi dan akses pangan kepada masyarakat.
PIB ini juga hadir dengan fasilitas ATM, kantor bank, kantor pemasaran PIB, kios, masjid, Pujasera, toilet umum, aula, poliklinik, lapangan tennis, parkir mobil dan truk, mesin rice to rice dan mesin packaging (pengemasan).
Dukungan yang diharapkan dari Pemprov berupa regulasi, promosi dan pemasaran serta koordinasi aktif mendukung.
Sementara untuk progres realisasi infrastruktur per 26 September 2018, fasilitas berupa kios 9,78 persen dan realisasi infrastruktur pendukung 2,70 persen sehingga totalnya 12,48 persen. Sedangkan untuk realisasi pemasaran kios, dari total 78 jumlah kios, telah dipesan 35 kios atau sekira realisasi 45 persen.
Adapun total potensi Sulsel untuk produksi beras 4.075.218 ton, konsumsi 825.944 ton dan surplus 3.249.274 ton pertahun. (rhm)

Exit mobile version