DI JALAN Hertasning Raya, tidak jauh dari perempatan dan lampu lalu lintas (traffic light) ada sebuah lapak mini menjajakan koran dan majalah. Pemilik lapak berukuran dua meter lebar serta panjang setengah meter ke belakang, adalah Tina.
Laporan: ARIF AL QADRY
Bagi pembaca berita koran dan majalah, nama Tina tak lagi asing. Sudah 17 tahun mulai sejak 2001, perempuan kelahiran Ujung Pandang, 3 Juni 1976 sudah mulai jualan koran dan majalah. Berpindah-pindah tempat dari satu ruas jalan ke ruas jalan lainnya, membuat ibu lima orang anak cukup banyak mendapat pelanggan atau langganan setia.
Perempatan Jalan Alauddin-Jalan AP Petta Rani, di bawah lampu lalu lintas jadi awal di mana Tina memulai langkah menjual koran dan majalah dan bertahan hingga sampai sekarang ini. Selain sudah berhasil mempekerjakan satu orang menjaga lapak jualannya, sering Tina dibantu oleh anak-anaknya menjajakan koran di perempatan jalan di lampu lalulintas.
“Dari dulu saya mau melihat anak-anak saya baik, sama dengan anak-anak yang lain seperti bersekolah dan lain sebagainya. Tetapi anak-anak saya sendiri yang tidak mau sekolah, mereka lebih suka bantu saya jualan koran. Saya cukup bingung mau tegur bagaimana lagi kalau memang anaknya seperti itu,” kata Tina.
Sembari merapikan dan mengatur lembaran koran-koran dan majalah dalam lapaknya, Tina menuturkan kisahnya sewaktu mejajakan koran di perempatan jalan di bawah lampu lalulintas. Dikejar-kejar Satpol PP maupun Satgas dari Dinas Sosial (Dinsos) Makassar menjadi hal biasa-biasa saja baginya. Dan bukan hanya dia, anak-anaknya juga seperti itu.
Dari banyaknya pengalaman serta duka yang dirasakan selama menjadi penjual koran di tepi jalan, kejadian di Jalan Boulivard dan di Jalan Hertasning yang hingga ini masih berkesan. Di Jalan Boulivard, satu anaknya yang turun ke jalan membantu jualan koran dan majalah ikut terjaring razia Satgas Dinsos Kota Makassar. Walhasil, satu anaknya berusia 10 tahun digiring di kantor Dinsos Kota Makassar.
Hanya saja dalam proses assesment, anaknya tersebut kabur dari kantor Dinsos Kota Makassar. Anaknya itu kabur lantaran takut dimasukkan ke panti oleh petugas.
“Satu jam saya keliling kota cari anak saya, saya dapat anak ku jam 02:00 pagi di Jalan Urip Sumoharjo. Kabur karena takut ditahan dan dimasukkan ke dalam panti,” sebutnya.
Hal menarik lainnya dari kisah perjalanan hidup Tina ada pada pemberian nama anak bungsunya. Namanya Fajar. Nama diambil dari nama koran Harian Fajar yang ia jual setiap hari di samping Lapangan Emmy Saelan, di Jalan Tamalate-Jalan Hertasning Raya.
“Waktu jualan di samping Lapangan Emmy Saelan, saya hamil tua. Cukuo banyak koran saya jual seperti Berita Kota Makassar, Harian Fajar dan beberapa koran. Jadi ketika saya lahirkan anak bungsu saya ini, saya berikan nama Fajar karena saya penjual koran Harian Fajar,” ucapnya.
Pendapatan yang diperoleh Tina setiap hari tidak tetap dan menentu, namun dalam satu hari minimal bisa dapat Rp50 ribu dari hasil jualan koran berbagai media nasional maupun lokal. Waktu jualan dari pukul 06:00 sampai 22:00 dengan target semua koran-koran laku dijual.
Untuk Harian Fajar, setiap hari bisa laku 100 eksamplar, dan Berita Kota Makassar sesuai yang masuk dulunya bisa dijual semua yaitu 50 eksamplar. Satu koran yang berhasil dijual ada untung minimal 500 rupiah sampai Rp1.500. Tidak ingin mengejar banyak untung jelasnya semua koran-koran semuanya laku terjual dan dibaca.
“Koran banyak dicari kalau ada berita-berita bagus, hot dan keras. Kalau ada pengumuman anak sekolah dan pengumuman kerja banyak orang-orang cari koran. Itu mi bisa ki lebih hemat tenaga jualan juga,” tambahnya.
Koran dan majalah yang dijual oleh ibu lima orang anak itu, diperoleh langsung dari kantor perusahaan media. Setiap hari dia dibawakan ke tempat jualannya oleh kurir. Jumlah koran yang dijual variatif, ada sampai ratusan lembar dan cuma puluhan lembar saja. Tapi semuanya tetap dia jual, dipajang di lapak maupun di tepi jalan.
“Modal harga satuan koran berbeda-beda, jelasnya satu koran yang laku saya bisa dapat Rp1.000. Sedangkan koran yang tidak laku saya ganti atau bayar. Jadi pintar-pintar jualan saja,” tambahnya.
Bahkan saat ini Tina sudah mampu mempekerjakan satu orang sebagai pegawainya. (arf)
