Site icon Berita Kota Makassar

Peluang Politisi Asal Sulsel Bertarung di Provinsi Lain

MAKASSAR, BKM–Sejumlah politisi asal Sulawesi Selatan kembali mengincar kursi di dewan perwakilan rakyat (DPR) RI pada pemilu legislatif (Pileg) 17 April 2019 mendatang.
Hanya saja para politisi tersebut tidak maju melalui tiga daerah pemilihan (Dapil) yang ada di Sulawesi Selatan, namun mereka ikut bertarung dan berjuang dengan politisi dari provinsi lain, seperti di DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Papua, Sulawei Tenggara dan Sulawesi Barat.
Mereka ada yang tetap bertahan di partainya namun ada pula yang pindah partai. Politisi yang bertarung di luar dan pindah partai diantaranya mantan anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Hj Fatmawati Rusdi Masse. Kini Fatmawati maju di Dapil DK Jakarta lewat Partai Nasdem. Tak hanya itu, mantan anggota DPR RI dari Partai Hanura Syarifuddin Sudding juga kembali maju namun melalui Partai Amanat Nasional (PAN) di Sulawesi Tengah.
Mantan Ketua DPC Gerindra Pangkep Kamru Samad juga pindah Dapil ke DKI Jakarta. Hal sama juga dilakukan mantan anggota DPR RI dari PAN Jamaluddin Jafar Jerre (Triple J). Kali ini Triple J tak maju lewat Dapil Papua, namun melalui Dapil Kalimantan Utara. Tiga petahana juga kembali maju yakni politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Prof Dr Hamka Haq Al Badri juga kembali maju di Dapil Jawa Timur II, serta politisi Partai Golkar Eka Sastra dan Ibnu Munzir Bakri Wahid. Eka Sastra maju di Dapil Jawa Barat III, sementara Ibnu Munzir juga kembali maju lewat Dapil Sulawesi Barat. Dua wajah baru yakni politisi Partai Golkar Dr Sabil Rahman dan Andi Nurhatman Nurdin Karumpa. Sabil Rahman maju di Dapil Jawa Barat II, sementara Andi Nurhatman maju lewat Dapil Jakarta I.
Pengamat politik dari Unibos Dr Arief Wicaksono menilai jika Eka Sastra dan Hamka Haq yang justru punya basis elektoral diluar Sulsel. Mereka sebenarnya patut diapresiasi karena telah membuktikan bahwa “perantauan” mereka berhasil dengan baik, namun tetap juga perlu dikritisi karena ketergantungannya terhadap DPP masing-masing partainya sangat besar. “Eka Sastra sangat dekat dan bergantung di DPP Golkar, sedangkan Hamka Haq sangat dekat dan bergantung pada DPP PDIP. Kedekatan dengan DPP itulah yang kemungkinan besar, membuat Eka Sastra dan Hamka Haq tidak akan merubah pola geraknya pada Pileg 2019 kali ini. Karena pola gerakan kemungkinan tidak berubah, maka di Pileg 2019 kedepan tinggal bagaimana cerdiknya tim Eka Sastra dan tim Hamka Haq untuk mengantisipasi perubahan atau dinamika di dapil mereka masing-masing,”ujar Arief Rabu (3/10).
Sementara tiga anggota DPR RI yakni Syarifuddin Sudding, Jamaluddin Jafar Jerre dan Ibnu Munzir juga punya basis dan strategi yang bagus untuk menggalang dukungan dan suara. Sementara itu, dosen politik UIN Alauddin Dr Firdaus Muhammad menilai jika kontestasi makin ketat, sehingga perlu upaya lebih progresif dan inovatif. “Selain mengenali peta basis pemilih,”pungkas Firdaus. (rif)

Exit mobile version