PALU, BKM — Saat gempa dan tsunami meluluh lantakkan Donggala dan Palu gempa bermagnitudo 7,4 Sulawesi Tengah pada Jumat (29/9/2018). Tak hanya besar, gempa tersebut juga menimbulkan tsunami dengan ketinggian 1,5 meter .
Data terakhir korban gempa bumi dan tsunami di Kabupaten Donggala-Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang berhasil dievakuasi terus bertambah korban meninggal yang berhasil dievakuasi sebanyak 925 jiwa.
“Sementara untuk jumlah pengungsi sebanyak 59.450 jiwa yang terpapar di 109 titik,” ujar dr Siswato Wahab Ketua IDI Kota Makassar.
IDI Makassar menyalurkan bantuan untuk menunjang operasional operasi mulai dari obat hingga peralatan medis lain baik dari IDI Makassar, Lions Club dan FK Unair.
“Yang luka-luka sebanyak 799 jiwa. Sementara untuk korban yang hilang sebanyak 99 jiwa. Dapur umum dan Trauma Healing untuk korban tsunami di Palu dikerahkan,” ujar dokter Anto.
Relawan yang tim gabungan dari Public Savety Center (PSC) 119 RS Wahidin dan Sulawesi Selatan, IDI Makassar, dan FK UNHAS serta Persatuan Bedah Orthopedi Indonesia (PABOI) telah melakukan operasi fraktur di RS Undata Palu.
Dr. Muhammad Sakti Sp.OT, koordinator PABOI menyebutkan bahwa tim gabungan telah tiba sejak Sabtu, (30/9) sehari setelah gempa di pimpin langsung Prof Idrus Paturusi.
“Kami langsung survei pasien-pasien yang butuh segera tindakan operasi dan kamar operasi yang bisa dipakai. Kondisi kamar operasi memprihatinkan terutama karena masalah listrik, dan bahan bakar, jadi kami mencoba mengaktifkan kamar operasi dengan menggunakan genset seadaanya,” kata dr. Sakti.
Sakti menegaskan bahwa pasien-pasien butuh segera operasi. Bila tidak akan menyebabkan sepsis dan syok hipovolemik dan berujung kematian pasien.
Hari pertama hingga saat ini tim dokter berhasil mengoperasi pasien dengan alat seadanya dan monitor anastesi.
Pasien dengan fracture terbuka, dislokasi, yang membutuhkan debridemant, amputasi dan external fixasi. Selain itu, ada pula pasien yang akan melahirkan dengan operasi sectio.
Tim medis gabungan sudah mengoperasi lagi 47 pasien, hingga hari ini Rabu (3/10).
Adapun untuk pasien yang dirawat, banyak yang mengalami dehidrasi karena kepanasan. “Beberapa pasien dirawat pula di bawah pohon,” tambah Sakti.
“Alhamdulillah semua pasien di rumah sakit daerah Undata beserta pasien rujukan nya sudah di operasi semua, berkat bantuan dari semua pihak (tim relawan medis Makassar, IDI Makassar, UNHAS, Wahidin, PABOI, Lion Club, RSU UIT dan yang lainnya,” terangnya.
Pasien yang tidk bisa dilakukan operasi perlu perlakuan khusus sudah di rujuk semua ke Makassar. “Mungkin sebentar lagi akan kembali ke Makasaar untuk membantu teman kami menangani sekitar 300 pasien yang di rujuk dari Palu,” pungkas Sakti. (*)
