Site icon Berita Kota Makassar

Perajin Anyaman Lontar di Takalar Masih Berorientasi Pesanan

TAKALAR, BKM — Para perajin anyaman lontar, di antaranya songkok guru, di Desa Bonto Kassi, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, masih berorientasi pada pesanan. Bukan berorientasi pada persediaan atau ketersediaan. Padahal, prospeknya sangat bagus.
Itu terjadi karena mereka mengalami keterbatasan modal usaha dan lemahnya fungsi pemasaran. Juga lemahnya networking atau jejaring kemitraan dengan instansi atau lembaga terkait, baik lembaga pemerintah maupun swasta.
”Kendala lain yaitu kurangnya pengetahuan dalam bidang manajemen organisasi dan administrasi keuangan, pembukuan belum tertata baik, serta kurangnya diversifikasi produk yang dihasilkan akibat keterbatasan keterampilan produksi dan belum adanya sentuhan teknologi,” tutur dosen Administrasi Publik, Fisipol, Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Andi Rosdianti Razak, di Makassar, Kamis (4/10).
Perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Takalar terhadap pengembangan usaha anyaman lontar, lanjutnya, juga terasa kurang. Ditambah lagi rendahnya minat generasi muda untuk mempelajari warisan keterampilan yang sudah turun-temurun di Desa Bonto Kassi dan sekitarnya.
Untuk itu, kata Andi Rosdianti, dirinya bersama Dr Ruliaty (dosen Fakultas Ekonomi Unismuh Makassar) dan dibantu tiga mahasiswa Fisipol Unismuh, yakni Muskar, Muhlis, dan Andi Karlina, mengadakan pelatihan kewirausahaan yang menitikberatkan pada pengembangan usaha, meliputi pelatihan manajemen organisasi, pelatihan produksi, pelatihan administrasi keuangan, serta pendampingan.
Dia mengatakan, ada beberapa kelompok perajin anyaman lontar di Desa Bonto Kassi. Tapi pihaknya memberikan pelatihan kepada dua kelompok usaha kerajinan, yaitu Kelompok Lontara Paraikatte yang diketuai Abdul Jabbar Daeng Betta, dan Kelompok Lontara Community yang diketuai Hasni Umar Daeng Tauni.
”Mereka sangat antusias mengikuti pelatihan yang kami adakan. Program kerja dan tahap selanjutnya yaitu pengembangan produksi dengan berbagai macam produk, agar pasarnya juga berkembang dan produksi hasil kerajinan mereka dapat dikenal secara luas, baik di dalam negeri maupun di mancanegara,” tutur Andi Rosdianti. (mir)

Exit mobile version