GOWA, BKM — Sebanyak tujuh Kepala Keluarga (KK) atau 21 jiwa korban gempa dan tsunami asal Palu dan Donggala, kini mengungsi di Kabupaten Gowa. Mereka tiba dari kota Palu dan Sigi pada Rabu dinihari (3/10). Mereka kini ditempatkan di rumah salah seorang warga di Perumahan Pesona Asri, Jalan Tumanurung, Kabupaten Gowa.
Dari 21 jiwa tersebut terdiri atas 11 orang dewasa usia 18 sampai 63 tahun, 1 orang lansia usia 95 tahun, 8 orang anak usia 8 sampai 12 tahun, serta 1 bayi umur 2 bulan. Para korban gempa yang berhasil meninggalkan Palu melalui jalur darat ini, ada yang dalam kondisi sehat, ada juga yang luka-luka. Bahkan, Apris (39), harus dijahit 15 jahitan karena terkena kaca saat menolong seorang nenek.
Saiful Bahri (33), salah seorang pengungsi Palu, saat disambangi wartawan mengungkapkan, dirinya datang bersama rombongan lainnya menggunakan tiga mobil di jalur darat melalui Pasangkayu, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulbar sejak Selasa siang (2/10) dan tiba Rabu dinihari.
”Kami pakai mobil yang disiapkan langsung ibu Trisnawati. Beliau adalah notaris di Gowa sini. Mereka yang mengajak kami tinggal di sini. Karena kebetulan, salah seorang korban gempa bernama ibu Ipa adalah keluarga dari ibu Trisnawati,” kata Saiful Basir yang tiba hanya dengan pakaian di badan.
Saiful mengatakan, dari 21 korban yang mengungsi ini, satu KK di antaranya berasal dari Kota Sigi. Lainnya berasal dari Kota Palu. Sementara Apris, korban gempa Palu lainnya, mengungkapkan, dirinya sangat trauma atas peristiwa gempa yang cukup keras dengan kekuatan 7,7 skala richter (SR) dan disertai tsunami. Gempa ini baginya adalah yang pertama dirasakan selama hidupnya.
”Kami masih trauma untuk kembali tinggal di Palu. Gempa ini adalah paling besar. Biasanya hanya gempa, tidak ada tsunami. Tapi ini gempa disertai tsunami juga terjadi longsor,” kata Apris.
Para pengungsi Palu ini bersukacita. Apalagi, Pemkab Gowa datang membawa bantuan makanan, pakaian, perlengkapan mandi, pakaian bayi dan susu bayi serta pakaian anak. Menurut Saiful lagi, saat ini mereka hanya pikirkan keselamatan dan mendiamkan diri sejenak dan mencoba melupakan apa yang dialami sejak Jumat 28 September lalu.
”Termasuk sekarang kami memikirkan nasib anak-anak yang ada di sini untuk kelanjutan sekolahnya. Semoga pemerintah di Gowa berlapang dada menerima kami seutuhnya,” tutur Saiful.
Sementara itu Kadis Sosial Gowa Syamsuddin Bidol saat dikonfirmasi Beritakota Makassar mengatakan saat para pengungsi ini tiba dinihari kemarin pihaknya bersama pemerintah kelurahan setempat langsung meninjau langsung kondisi pengungsi.
Terkait permintaan para pengungsi agar anak-anak mereka bisa bersekolah di Gowa, direspon Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan. Terbukti, saat hal ini disampaikan, Bupati Adnan lalu menginstruksikan kepada Kadis Pendidikan Gowa untuk segera menindaklanjutinya.
”Iya, kasian mereka. Pak bupati memang sudah komitmen membantu mereka dengan mengakomodir anak-anak sekolah eksodus tsunami palu ini. Secepatnya setelah data-data mereka sudah masuk,” kata Salam, Kadis Pendidikan Gowa saat dihubungi Jumat siang (5/10).
Salam mengatakan, sikap kepedulian yang tinggi dari bupati Gowa merupakan sikap prihatin yang mendalam. Apalagim Gowa adalah daerah yang welcome dan melaksanakan pendidikan gratis. ”Siapa pun boleh sekolah di Gowa. Apalagi, mereka itu adalah korban gempa tsunami Palu dan sekitarnya,” tandas Salam. (sar/mir)
Bupati Gowa akan Sekolahkan Anak-anak Korban Gempa Tsunami
