GOWA, BKM — Ratusan petani yang ikut dalam musyawarah Appalili atau rembuk bersama membicarakan dan menyepakati jadwal musim tanam 2018-2019 akhirnya sepakat musim tanam dilakukan pada November 2018-Januari 2019.
Kesepakatan ini ditandai diskusi panjang sehari di Desa Pallangga, Senin (8/10/2018) yang dipusatkan sebagai tempat rembuk bersama para petani yang hadir dari berbagai penjuru desa di Kabupaten Gowa.
Musyawarah Appalili ini dibuka resmi Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan dihadiri Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura (DKPTPH) Sulsel Muchlis, Forkopimda Gowa dan para petani yang berasal dari 167 desa/kelurahan di 18 kecamatan di Gowa.
Dalam kesempatan sebelum musyawarah, Sekdis Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulsel Muchlis mengatakan Kabupaten Gowa banyak berkontribusi dalam pemenuhan pangan di Sulsel.
“Gowa adalah salah satu kabupaten yang memberikan kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan pangan di Sulsel khususnya komoditi hortikultura. Buktinya produksi kacang hijau dan ubi kayu Kabupaten Gowa lah yang tertinggi pertama di Sulsel, ubi jalar urutan kedua menyusul produksi jagung dan padi se Sulsel. Markisa, kentang, kubis, tanaman hias dan cabai juga menjadi potensi besar di Gowa,” kata Muchlis.
Disebutkannya, lahan sawah Gowa saat ini seluas 34.223 Ha dan biasanya ditanami dua kali hingga tiga kali. ” Gowa ketika panen bisa menghasilkan produktivitas 5,4 ton per hektar dikali luas sawah itu kurang lebih Rp 641.681.000. Jadi jika dua kali produksi setahun bisa mencapai Rp 1,2 miliar lebih,” kata Muchlis.
Olehnya untuk meningkatkan pembangunan Kabupaten Gowa di sektor ketahanan pangan maka Pemprov telah mengalokasikan anggaran seperti bantuan benih jagung, bibit tanaman hias, pembangunan sanggar tani, pengembangan jaringan irigasi, hingga bantuan alsintan (alat dan mesin pertanian).
Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan mengapresiasi perhatian Pemprov terhadap pengembangan sektor pertanian di daerah yang dipimpinnya.
Dikatakan Adnan musyawarah Appalili inilah yang menjadi salah satu hal yang meningkatkan produksi pertanian di Gowa. Adnan pun berterimakasih kepada masyarakat khususnya Kelompok Tani, Gapoktan dan penyuluh pertanian yang taat dan patut mengikuti hasil musyawarah setiap tahunnya.
“Terima kasih kepada Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura dan seluruh penyuluh pertanian yang mampu membantu Gowa dalam bidang pertanian, semoga ke depan pertanian di Gowa tidak terpaku pada produksinya saja tapi juga pada mutu dan kualitasnya lebih baik,” kata Adnan.
Dirinya tak menampik adanya masalah dan tantangan yang dihadapi dalam memajukan pertanian di Kabupaten Gowa, yakni terbatasnya tenaga penyuluh pertanian yaitu program satu penyuluh satu desa belum dapat terpenuhi secara menyeluruh pada 167 desa/kelurahan.
Selain itu, penyaluran sarana produksi terutama benih dan pupuk yang tidak tempat waktu dan tidak sesuai dengan kebutuhan permintaan petani menyebabkan tertundanya jadwal tanam yang telah disepakati.
“Salah satu masalah itu, ada beberapa bibit tidak cocok ditanam di Kabupaten Gowa, sehingga ini bisa menjadi perhatian agar bisa dilakukan survei pada lahan yang ada di Kabupaten Gowa,” ungkap Adnan.
Adnan pun berharap hal tersebut bisa menjadi perhatian bagi Kementerian Pertanian RI, agar Kabupaten Gowa bisa mendapatkan bibit unggul yang akan meningkatkan produksi dan jadwal tanam pada musim tanam yang ditarget November-Januari mendatang bisa selesai.
“Tentu kami harap semuanya lancar dan ekonomi rakyatpun semakin meningkat di masa yang akan datang. Karena tradisi musyawarah Appalili ini turun temurun kami lakukan bentuk upacara adat untuk menandai awal musim tanam di Kabupaten Gowa,” jelas Adnan. (saribulan)
