BANYAK yang beranggapan menjadi seorang pengajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah hal yang mudah dijalani. Namun faktanya begitu banyak suka duka yang didapatkan Ardhayanti dalam mengajar di PAUD. Ia harus rela di gaji minim hingga kesejahteraan yang kurang.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Menurut Ardhayanti yang disapa Ardha, menjadi seorang guru PAUD di Kota Makassar tidak pernah terpikirkan olehnya. Bermula ketika Ardha masih menginjak usia kanak-kanak ibundanya menghadap sang khaliq, dimana pada saat itu ia masih kecil dan membutuhkan sosok sang ibu.
“Bukan karena cinta anak-anak juga, karena lebih kepada panggilan jiwa. Sayakan anak bungsu, mama saya sudah meninggal pada saat saya masih kecil, jadi bagaimana yah mbak. Rasa kesendirianku hilang kalau sama anak-anak,” ungkapnya saat ditemui disela mengajarnya.
Apalagi ketika mengajar di PAUD banyak kesenangan tersendiri yang dirasakannya. Mulai dari dilatih kesabaran, memahami pola pikir anak yang biasanya diluar kewajaran hingga belajar menjadi sosok orangtua kedua bagi siswanya.
“Anak-anak sekecil beginikan mbak memiliki daya rekam dan daya ingat yang luar biasa besar, jadi kalau kita salah dalam mengajarkan anak sejak dini mereka akan tumbuh menjadi anak yang keras dan sulit diatur,” ujarnya.
Hanya saja, jelas Ardha, tujuan mulia ini tidak sepadan dengan kesejahteraan yang dirasakan apalagi menjadi seorang guru PAUD kontrak. Belum lagi, jarak tempuh antara rumah dan tempatnya bekerja sangatlah jauh, Ardha tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan sedangkan sekolahnya berada di Jalan Mapala.
“Gaji guru PAUD itu kecil tidak usahmi’ disebut, tapi yang namanya pengabdian kita harus laksanakan. Rumah juga jauh, saya ke sekolah di Mapala itu naik pete-pete,” akunya.
Ardha juga mempelajari dunia pendidikan kanak-kanak ketika menempuh pendidikan di Universitas Negeri Makassar (UNM) jurusan PAUD, hingga mengampilkasinya di PAUD Melati UNM.”Saya mengajar di sentra Imtaq, sejak kuliah dan pada saat itu diajak teman. Kalau bagaimana watak anak-anak yang saya ajarkan, kalau lagi suka mereka semangat, kalau malas kita ajak belajar sambil bermain. Kalau menangis saya biasanya bawa permen,” tuturnya.
Di sekolah berbagai macam yang diajarkan Ardha mulai dari membaca huruf, mengenali binatang, bernyanyi, mengaji hingga bagaimana cara sholat dan berdoa yang benar.”Kita harus menjadi teman mereka, kalau mau dekat dengan anak. Tidak jarang juga biasa ketemu sama anak-anak didik dulu itu mereka sudah SMP atau SMA, berasa juga kalau saya sudah lama mengajar mereka tapi mereka masih ingat, itu sih,” bebernya.
Ardha juga menuturkan dunia kanak-kanak sangat berbeda jauh dengan anak-anak yang memasuki sekolah dasar dan dewasa. Dunia kanak-kanak memiliki tantangan sendiri baginya, utamanya banyak pertanyaan yang sering ia tidak duga dari siswa didiknya.
“Meskipun saya belum berkeluarga, belum tahu rasanya seperti apa jadi ibu. Tapi di tempat saya membina mereka banyak ilmu yang saya peroleh seperti keingintahuan mereka soal dunia anak. Pertanyaan itu harus kita jawab yang memang betul-betul masuk akal,” jelasnya.
Anak bungsu dari empat bersaudara ini juga tidak mempermasalahkan statusnya yang masih honorer. Ardha juga menjalani aktvitasnya sebagai guru PAUD dari hari senin-jumat, mulai pukul 07.00 hingga 14.00 siang. (ita)
