Site icon Berita Kota Makassar

Karena Program Healing, Kini Anak-anak Korban Gempa Palu Mulai Tersenyum

GOWA, BKM — Berkat program healing (penyembuhan) yang dilakukan Aliansi Relawan Tumanurung (ART) terhadap anak-anak korban gempa dan tsunami Sulteng, kini anak-anak asal Palu dan Sigi yang kini berada (mengungsi) di Kabupaten Gowa tepatnya di kompleks Pesona Asri di Jl Tumanurung, Kelurahan Pandang-pandang, Kecamatan Somba Opu, sudah mulai mau berkomunikasi dan bermain.

Padahal sejak mereka tiba di Gowa pada Rabu (3/10/2018) lalu, sejumlah anak terlihat mengalami trauma yang cukup tinggi. Akibatnya mereka tidak mau bicara dan tidak mau bergaul meski hanya bermain.

Karena kondisi traumatik itulah akhirnya para relawan dari ART ini tergerak hati untuk melakukan proses penyembuhan dari rasa takut (traumatik) tersebut.

Melalui Taman Baca Masyarakat Lontara Mangkasara’, relawan ART ini pun melakukan program healing tersebut yang digelar sejak Minggu (7/10/2018) di Taman Sultan Hasanuddin.

Alhasil para anak korban bencana alam yang berjumlah 11 orang itu kini mulai menunjukkan interaksi mereka yakni mau bermain dan berkomunikasi.

Salah seorang anggota ART bernama Nur Amaliya yang juga sebagai penggerak dari Taman Baca Masyarakat Aksara Lontara Mangkasara’, kepada media Sabtu (13/10/2018), mengatakan program healing ini merupakan bagian dari rencana Aliansi Relawan Tumanurung untuk membantu serta mengurangi beban trauma yang dialami anak-anak pasca gempa dan tsunami yang terjadi di Palu dan sekitarnya pada Jumat (28/9/2018) lalu.

“Program healing ini berfungsi untuk merilis tekanan-tekanan psikologi yang disalurkan melalui cara bermain agar anak-anak tidak merasa sedang diterapy penyembuhan masa traumanya,” kata Nur Amaliya.

Dikatakannya, program yang dijalankan ini berdasarkan paltform relawan sebagai penggerak literasi dengan mengajak korban bermain sekaligus mengedukasi membaca, dan bercerita.

“Selain teraphy penyembuhan masa trauma, anak juga bisa belajar sekaligus beradaptasi dengan lingkungan baru. Dan kami sangat bersyukur sebab upaya kami memberikan healing ini membuat mereka sedikit demi sedikit mulai berbaur dan mau diajak bermain,” kata Nur Amaliya sambil menunjuk
salah seorang anak korban Palu bernama Eza berusia 4 tahun.

Awalnya Eza sangat sulit diajak bicara. Dia tidak bereaksi. Dia hanya diam dan menatap dengan tanpa semangat.

“Sekarang Eza mulai menunjukkan reaksinya berkomunikasi dan sudah mau bermain bersama yang lain.
Kita berharap anak-anak korban gempa dapat ceria kembali dan bisa melupakan kesan buruk musibah yang mereka alami di Palu. Kami bahagia jika mereka sudah tersenyum,” jelas Nur Amaliya. (saribulan)

Exit mobile version