MAKASSAR, BKM–Seminar nasional dengan tema “Pendidikan Luar Sekolah, Harapan dan Tantangan di Era Industri 4.0” dilaksanakan oleh Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) FIP UNM.
Seminar yang dilaksanakan di Hotel Aerotel Smile pada Sabtu (13/10) bertujuan untuk mempertemukan pimpinan jurusan PLS se Indonesia, untuk membahas berbagai masalah yang ada pada Pendidikan Non Formal (PNF), serta memberi masukan tentang revisi undang-undang mengenai pendidikan.
Ketua Jurusan PLS FIP UNM, Prof Syamsul Bakhri Gaffar cukup menyayangkan mengapa Pendidikan Luar Sekolah tidak terlau banyak mendapat perhatian. Padahal baginya, tiga jenis pendidikan, yaitu pendidikan informal, pendidikan non-formal, dan pendidikan formal harus jalan berbarengan jika ingin memajukan bangsa.
“kalau kita dengar soal pendidikan, pasti pendidikan di sekolah. Padahal pendidikan informal, non formal, dan formal ini harus jalan bareng kalau mau memajukan bangsa. Pendidikan informal di keluarga, non formal di masyaralat, dan formal oleh pemerintah,” kata Prof Syamsul.
Ketua Badan Akreditasi Nasional PAUD-PNF, Prof Supriyono mengatakan jika pendidikan non formal (PNF) harus mengaktualisasikan tiga hal. Yaitu Social Movement, Profesionalisasi dan Komersialisasi. Namun kenyataannya yang ia lihat saat ini, PNL lebih condong hanya kepada Social Movement.
Hal ini menjadi masalah, karena Lembaga Kursus dan Pelatihan yang lebih mengarah ke arah profeaional komersil, sangat penting untuk menciptakan tenaga advolasional.
“Nah kalau kita lihat teman-teman itu lebih kepada social movement seperti pemberantasan buta huruf, paket abc, pemberdayaan masyarakat. Sedangkan yang sifatnya profesional itu kurang. LKP contohnya itu sangat strategis, tapi ndak tergarap,” Kata Prof Supriyono.(nug/war/c)
FIP UNM Gelar Seminar Pendidikan Luar Sekolah
