Site icon Berita Kota Makassar

Harus Teliti Jika tak Ingin Tangan Terluka

SETIAP pagi Ramli menjajakan hasil kreasinya. Jika malam ia hanya menyimpan tirai-tirai itu di belakang rumahnya. Jadi saat pagi, ia tak repot meletakkan tirai bambunya di depan rumah.

Laporan: NUGROHO

Ramli tak memiliki kebun bambu sendiri. Jadi ia harus pintar-pintar menyimpan modal untuk membeli bambu yang akan ia buat menjadi tirai. Jadi tiap kali ia ingin membuat tirai, ia membeli bambu itu di sekitar Perumahan Hartaco Indah Makassar.
Proses pembuatan tirai bambu sebenarnya tak membutuhkan waktu yang lama. Namun pengerjaannya lah yang lumayan rumit. Karena bambu amatlah rentan melukai tangan.
Ramli mengatakan, pembuatan tirai bambu rata-rata hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja. Namun yang menjadi rumit adalah struktur bambu yang rentan melukai tangan jika tidak berhati-hati. Apalagi dulu saat Ramli pertama kali membuka usaha ini, tangannya kerap kali luka.
“Ndak lama ji untuk satu tirai, palingan beberapa menit selesai mi. Tapi susahnya itu, namanya bambu, cepat sekali na gores tangan ta. Apalagi dulu waktu pertama-tama ku buka ini. Luka-luka tanganku,” katanya.
Selain dari bambunya, pengerjaan tirai bambu juga harus hati-hati karena menggunakan pisau dan parang secara langsung. Dimana tirai bambu harus dikerjakan secara teliti, makanya penggunaan pisau dan parang juga harus ekstra teliti.
Ramli sendiri baru turun menjajakan tirai bambu setelah mencoba sedikit demi sedikit. Sebelumnya, ia hanya seorang buruh bangunan yang pekerjaannya tak menentu.
Ramli mengatakan, jika dulunya ia hanya bekerja jika ada panggilan membuat bangunan. Jika tak ada, maka ia tak bekerja. Olehnya, saat ini ia begitu bersyukur karena telah mampu megembangkan keterampilannya dalam membuat tirai, dan mampu menghidupi keluarganya.
Walaupun terkadang, dirinya masih berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Namun Ramli saat ini mengatakan jika dirinya masih realistis. Ia tak ingin memaksakan kehendak mencari pekerjaan lain, karena saat ini saja dirinya telah bisa menghidupi keluarganya.
“Alhamdulillah dengan ini saja sudah cukup untuk saat ini. Walaupun ndk berlebih, tapi Alhamdulillah cukup,” ucap Ramli.
Ia pun merasa sangat bahagia jika para pelanggannya bisa puas menikmati karyanya. Karena salah satu tujuannya, Ramli memang berkomitmen untuk selalu memberikan yang terbaik.
Kepada penulis, Ramli mengaku, tirai bambu dulunya amat mudah didapat di Jalan Andi Tonro, Makassar. Sepanjang jalan itu sekitar 15 tahun lalu berderet para penjual tirai bambu. Namun kini tinggal satu atau dua penjual saja.
Ramli saat ini tinggal bersama istrinya yang bernama Nining dan lima anaknya. Selama kurang lebih 20 tahun, Ramli menghidupi dan menyekolahkan senua anaknya ini dari hasil jual tirai bambu.
Berbagai macam tirai bambu yang dijualnya. Ada yang terbuat dari kulit bambu, ada juga yang terbuat dari isi bambu. Ukurannya juga berbeda. Ada yang ukuran 2,5 meter, 2 meter, dan 1,5 meter.
Harganya juga beda-beda, tergantung ukurannya. Ada yang Rp 270 ribu, itu yang ukuran 2,5 meter. Yang Rp 200 ribu itu ukuran 2 meter, ada juga Rp 100 ribu yang ukuran 1,5 meter. Itu yang terbuat dari isi bambu, beda kalau yang dari kulit bambu. Kalau yang terbuat dari kulit bambu, lebih mahal. Yang ukuran 1,5 meter saja harganya Rp 175 ribu.
“Yang kulit jelas lebih mahal. Lebih susah ki dibuatnya, lebih kuat juga,” kata Ramli.
Walaupun diakui Ramli peminat tirai bambu telah menurun, namun hingga saat ini masih ada saja yang meminatinya. Bahkan peminatnya bukan hanya di Makassar saja. Melainkan sampai saat ini masih ada yang meminati sampai di luar Makassar.
Beberapa pembeli di tempatnya, dikatakan Ramli masih ada yang berasal dari Takalar, bahkan dari Palopo. Mereka semua sengaja memesan di tempatnya. Kadang ada yang datang langsung, kadang juga meminta untuk dikirimkan saja.
“Kalau dulu memang banyak yang pesan dari luar, Alhamdulillah sekarang juga masih ada ji yang pesan dari luar. Dari Takalar ada, kemarin juga sempat ada yang pesan dari Palopo,” kata Ramli.
Bahkan dikatakan Ramli, selain membeli eceran, ada juga beberapa orang yang memesan banyak. Dikatakannya memang ada beberapa orang diluar Makassar yang menjualnya kembali, dengan memesan dari tirai bambu buatannya.(nug/b)

Exit mobile version