BISNIS kecil-kecilan dengan jualan bensin botolan, tambal ban dan ganti ban masih dilakoni pria yang lahir di Jeneponto, 20 Januari 1961. Sejak dulu hingga sekarang tempat jualan bensin Kadir tidak pernah berpindah-pindah di Jalan AP Petta Rani.
Laporan: ARIF AL QADRY
“Dulu saya cuma ikut dengan orang sebagai penambal ban motor termasuk jualan bensin botol kaca, tapi lokasinya di tempat lain. Ada beberapa tahun saya ikut bekerja dan kemudian berdiri sendiri. Modalnya itu dari tabungan ku bekerja,” kata Daeng Dongko.
Beberapa tahun ikut bekerja sebagai tukang tambal, ada banyak cerita suka dan duka berkesan, khususnya upah yang diterima dari hasil menambal ban sangat sedikit. Tergantung berapa banyak ban motor yang di tambal.
“Upah saya dapat tergantung dari berapa banyak ban motor di tambal. Jualan bensin botolan saya geluti setelah membuka usaha sendiri. Saya memilih buka usaha sendiri karena modalnya tidak banyak ji, tinggal tempat dicari,” tambahnya.
Kompresor dan alat-alat untuk usahanya dia pinjam dari keluarganya. Lima tahun jalan, usahanya cukup menjanjikan dan bahkan berhasil sekolahkan dua anaknya sampai selesai di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Makassar.
Harga bensin premium dijualnya Rp10.000 per botol, sama dengan harga Pertalite Rp10.000 per botol. BBM yang di jualnya dibeli dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dengan megisi full tanki motor. Berbeda tahun-tahun sebelumnya yang dibeli menggunakan jerigen.
“Belum ada rencana mau beralih ke pertamini, mesinnya juga mahal. Mending tetap jualan bensin botolan dan uangnya saya gunakan untuk tabungan anak saya,” tutupnya.
Bahkan, kata Kadir, permintaan akan bensin semakin hari semakin meningkat, bahkan masalah harga pun tidak begitu dipedulikan oleh konsumen. Karena mereka berfikir yang penting saya mendapat bensin.”Usaha ini tetap bertahan dek, karena saat ini banyak orang yang tidak memiliki banyak waktu dan mereka pun sibuk dengan segala aktivitasnya. Mereka tidak akan mau antri di Pom bensin karena lama, maka mereka lebih suka untuk membeli bensin botolan karena lebih cepat dan praktis,” ujar Kadir.
Kadir menambahkan, rata-rata pengendara hanya mengisi satu dan paling banyak dua botol. Seusai perkiraannya untuk bisa sampai ke SPBU mengisi lebih banyak lagi bensin di tanki kendaraannya.
Harga bensin premium dijualnya Rp10.000 per botol, sama dengan harga Pertalite Rp10.000 per botolnya.
Pria kelahiran Jeneponto, 20 Januari menggunakan cara mengisi full tanki motornya ketika masuk ke SPBU.
Cara ini dilakukan sudah dua tahun, setelah dibatasinya pembelian BBM dengan jumlah banyak dan menggunakan jeriken. Tanki motornya yang telah berisi bensin full, itu kemudian dipindahkan ke botol-botol bensin dan jerigen menggunakan selang kecil. Dalam sehari dapat dilakukan satu kali. (arf)
