Site icon Berita Kota Makassar

Caleg dan Capres Jangan Gunakan Hoax Sebagai Senjata Kampaye

MAKASSAR, BKM–Meski tensi politik terus memanas jelang perhelatan politik untuk memilih presiden dan wakil presiden serta wakil rakyat, namun kontestasi tersebut dapat berlangsung aman, damai dan tanpa gesekan. Hal tersebut disampaikan dosen politik dan Kebangsaan dari Unismuh Makassar Arqam Azikin dalam sebuah ngobrol politik di warkop Kopites jalan Bhayangkara Makassar, Jumat (19/10).
Menurut Arqam, menjelang Pileg dan Pilpres mendatang, caleg dan maupun capres tidak seharusnya menjadikan hoax dan politik uang sebagai senjata dalam pemilu kedepan. “Yah tidak boleh dong gunakan hoax dan politik uang ini sebagai senjata untuk dapat menang di pemilihan mendatang. Kalau itu yang mereka gunakan, yakin dan percaya maka ketika mereka terpilih janji dan visi misinya untuk mensejahterakan rakyat akan hoax juga,”ujar Arqam kemarin.
Menurut Arqam, politik uang sering terjadi menjelang pemilihan, terlebih lagi pada saat menjelang kampaye. Hal itu bukan hal baru lagi ditengah partai politik yang sering memainkan permain kampanye hitam. “Sejak beberapa tahun belakangan ini, hoax, politisasi Sara, dan politik uang sudah dilakukan. Yang saya sayangkan ini menjadi kebiasan dan tidak pernah diubah sejak bertahun tahun,” ucapnya.
Olehnya itu, Arqam meminta bagaimana sistem tatanan perpolitikan harus di benahi, “Jika ada caleg yang memainkan isu hoax untuk meraih suara. Maka tugas tim partainyalah yang menegur, tidak lupa pula peran dari masyarakat itu sendiri, karena usia 17 sekarang sudah disisipi dengan kegiatan politik uang, yang biasanya dilakukan keluarganya yang mempengaruhi,”tambahnya.
Sementara itu, Senior Jurnalis AJI Makassar, Andi Fadli mengaku untuk mencegah terjadi hoax ditengah perpolitikan saat ini dengan memperbanyak literasi media. Serta masyarakat jangan mudah percaya dan mencerna langsung informasi yang beredar tanpa data yang valid. “Berita hoax itu beda dengan isu hoax, sebab berita itu sudah memenuhi kaidah jurnalis, jadi kecil kemungkinan terjadi hoax. Perlu kita terapkan ini adalah literasi, hal ini selalu saya tekankan sama mahasiswaku dan para jurnalis,” ujarnya.
Menurut Fadli, lebih bagus lagi kalau ngopi bersama, walaupun berbeda pendapat, “Iya supaya tidak melebar terus yang bisa menjadikan konflik antar sesama members group, karena kalau saja terus saling menyerang, apa gunanya ada group,” tutupnya. (ita/rif)

Exit mobile version