TERBIASA menangani anak-anak berkebutuhan khusus, tidak akan sulit dikerjakan jika penanganan dan metode belajarnya tepat. Seperti yang saat ini dilakoniNuhayati (48) yang mengabdikan dirinya mengajar di SLB-A Yapti Makassar hampir puluhan tahun.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Jika ditanya mengenai suka dukanya selama mengabdikan dirinya mengajar anak kebutuhan khusus, ia hanya mengaku sangat menantang. Sebab mengajar anak yang berkebutuhan khusus berbeda dengan anak yang berada di sekolah umum.
Selain pendidikan dan keterampilan khusus, diperlukan juga yang namanya ketulusan, kesabaran, dan rasa mengasihi.
“Ditanya suka duka bagi kami guru SLB tentu banyak dek, apalagi kita ini beda dengan guru yang ada di umum, umum yah mengajari yang umum. Kalau kita ini anak berkebutuhan khusus jadi ajarannya juga khusus, seperti ini kita ikutkan mereka lomba-lomba, acara-acara yang memacu semangat mereka belajar,” ungkapnya saat ditemui penulis di sebuah acara di Makassar.
Lebih lanjut Nuhayati menuturkan, baginya tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok antara anak yang berkebutuhan khusus dengan anak yang normal pada umumnya, sebab ia melihat anak yang berkebutuhan khusus jauh lebih tekun berusaha belajar dan mau berusaha mandiri tanpa perlu dikasihani orang lain.
“Kan banyak sekarang anak-anak itu jauh tidak menghargai kesempurnaan yang tuhan berikan, sedangkan anak seperti adel ini (Tunjuk anak didiknya), tekad usaha belajarnya tekun sekali, mencari tahu apa yang ada disekitarnya, mau mencoba pelan-pelan. Makanya saya yakin anak khusus seperti ini jauh lebih dari anak yang lainnya,” tuturnya.
Seperti saat ini, Nuhayati yang mengajar kelas B atau anak-anak tuna rungu, terus melakukan upaya untuk siswanya dengan mengikutkan berbagai lomba siswa dan mengajarkan berbagai keterampilan yang menurut orang sulit dilakukan bagi anak yang berkebutuhan khusus. Ia mengajar keterampilan kepada anak-anak berkebutuhan khusus ini mulai tahun 2002 hingga saat ini mulai mengajari menari, menjahit, olahraga dan lainnya.
“Kita memang punya namanya keterampilan di sekolah dek. Jadi, dimana minat mereka kita ajari sebisa mungkin, kami juga harus banyak mengajar dengan mereka itu sebenarnya ngobrol, berbicara, masukan kata-kata jadi biar mereka itu paham kalau misalnya garam rasanya asin, musik itu dengan irama,” jelasnya.
Menurut Ati sapaan akrabnya, menjelaskan anak berkebutuhan khusus ini lebih tertarik pada pelajaran keterampilan dari pada teori. Olehnya itu, pengajaran yang diterapkannya tidak banyak di penjelasan, lebih banyak kebutuhannya adalah keterampilan untuk kemandirian mereka sendiri.
“Beda, sangat jauh beda. Karena praktek lebih mereka perlukan ketimbang teori. Banyak biasanya salah mengajarkan, biasanya itu guru baru, kalau saya dek lama mi jadi apa yang mereka butuhkan dan mau itu saya sudah tahu. Tidak gampang dek, salah maksud saja biasanya mereka susah diajarkan, harus sentuh hatinya dulu untuk mau kita dekati,” katanya.(ita)
