Site icon Berita Kota Makassar

Istri Minta Cerai, Bunuh Diri di Sel Isolasi

MAKASSAR, BKM — Senin pagi (22/10) pukul 09.20 Wita. Suasana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IA, Jalan Sultan Alauddin, Makassar sudah ramai dengan aktivitas warga binaan.
Petugas jaga bersama petugas dapur tengah mengantarkan makanan untuk tahanan di Blok i1. Ini adalah ruang isolasi sel khusus. Letaknya di lantai bawah sel tipikor (tindak pidana korupsi).
Akbar Dg Ampu (32) menghuni sel ini. Otak pembakaran satu keluarga di Jalan Tinumbu itu hanya berdua di dalamnya. Yakni Iwan Idris, seorang tersangka pembunuhan.
Petugas kemudian memasuki sel isolasi tersebut. Iwan masih tertidur.
Sementara Akbar tak merespon ketika dibangunkan.
Ketika diperhatikan, sesuatu tampak ganjil. Rantai yang dipakai untuk memborgol salah satu tangannya terlilit di leher Akbar. Karena curiga, petugas jaga langsung melapor ke komandannya.
Setelah dicek, ternyata Dg Ampu sudah tak bernyawa. Kuat dugaan ia bunuh diri dengan melilit lehernya menggunakan rantai.
Karena menjadi tahanan dalam sel isolasi, salah satu tangan Dg Ampu tetap harus diborgol. Rantai borgolnya cukup panjang. Tujuannya agar dia bisa tetap ke toilet. Sementara tangan lainnya yang tak terborgol bisa dipakai untuk makan.
”Namanya sel khusus, kita harus ekstra ketat. Diduga dia (Akbar) menggunakan rantai borgolnya untuk bunuh diri. Teman satu selnya tidak menyadari kalau dia sudah meninggal,” ujar salah seorang sipir Lapas, kemarin.
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polrestabes Makassar Kompol Wirdhanto Hadicaksono, mengatakan bahwa kuat dugaan Akbar Dg Ampu bunuh diri dalam sel. Hal tersebut dikuatkan dengan penjelasan saksi yang merupakan teman satu selnya.
“Dugaan awal dia bunuh diri. Lehernya dililit menggunakan rantai atau borgol,” terang Wirdhanto yang mendatangi Lapas sesaat setelah Akbar ditemukan tak bernyawa.
Penuturan Iwan Idris mengungkap fakta penyebab tewasnya Akbar Dg Ampu. Menurut dia, pada Jumat (19/10), teman satu selnya itu dijenguk oleh istri dan anaknya. Selama Akbar menghuni sel khusus, ini untuk pertama kalinya pihak keluarga datang.
Bukannya melepas rindu. Pasangan suami istri ini malah terlibat pertengkaran hebat. Akbar pun uring-uringan setelah istri dan anaknya pulang.
”Waktu hari Jumat, anak dan istrinya datang. Mereka bertengkar. Dia sempat curhat ke saya. Katanya, istrinya minta cerai. Sebagai teman satu sel, saya hnya bisa menyarankan ke dia untuk istigfar dan banyak berdoa,” tutur Iwan yang ditemui di ruang pemeriksaan Lapas, kemarin.
Pada malam sebelum ditemukan meninggal dunia, Akbar dan Irwan sempat ngobrol panjang lebar. Bahkan sampai pukul 24.00 Wita. Keduanya pun sama-sama sahur untuk berpuasa keesokan harinya.
Pada pukul 00.30 Wita, Irwan meminta Akbar untuk mengaji. Hingga keduanya tertidur.
”Subuh saya bangun duluan untuk salat. Setelah itu saya bangunkan dia (Akbar). Kami bergantian salat. Usai salat subuh sempat mengaji. Masih sempat saya kasih saran untuk sabar. Setelah itu saya tidur lagi. Pagi-pagi saya bangun, dia sudah meninggal,” terangnya lagi.
Namun, ketika Akbar menyampaikan bahwa istrinya minta cerai, ia tampak tertekan. ”Dia bilang istriku minta cerai. Pusingmi di situ. Saya bilangji istigfarki,” jelasnya.
Sehari sebelum bunuh diri, Akbar tampak mondar mandir dalam sel sambil merokok. ”Stres betulki saya lihat. Kata-kata bunuh diri sering saya dengar kalau putus asami,” tambah Iwan.
Kepala Lapas Kelas IA Makassar Budi Sarwono menjelaskan, Akbar dan Iwan menghuni kamar isolasi ukuran 3×6 meter. Teralisnya dibuat sangat rapat. Penghuni yang ada di dalam kamar hanya bisa dilihat dari jarak dekat.
”Akbar menghuni kamar isolai sejak 18 September lalu. Jadi sudah satu bulan empat hari. Pas satu bulan, dia meminta untuk bisa dijenguk. Karena itu saya izinkan. Khususnya bagi anak dan istrinya,” terang Budi Sarwono.
Sekadar mengingatkan, peristiwa kriminal yang melibatkan Akbar Dg Ampu sebagai otaknya berlangsung, Senin dini hari (6/8) pukul 03.45 Wita. Kejadiannya di Jalan Tinumbu, Lorong 166B, Makassar.
Enam orang yang merupakan satu keluarga menemui ajal dalam kebakaran maut ini. Masing-masing pemilik rumah H Sanusi (70) bersama istrinya Hj Bondeng (65), anak perempuannya Musdalifa (30), serta cucunya Ahmad Fahri (25), Namira Ramadina (21), dan Hijas (2,5).
Tak berselang lama polisi berhasil mengungkap bahwa kebakaran itu merupakan pembunuhan berencana. Akbar Daeng Ampu yang memerintahkan anak buahnya untuk menganiaya dan membunuh lalu membakar rumah korbannya itu.
Alasan di balik pembunuhan satu keluarga itu adalah persoalan utang senilai Rp10 juta dengan salah satu korban yang tewas terbakar, yakni Fahri. Uang tersebut merupakan hasil penjualan narkoba jenis sabu.
Akbar mengendalikan peredaran narkoba kala dirinya sudah berstatus sebagai warga binaan lapas. Karenanya, ia kemudian ditempatkan di ruang isolasi, hingga akhirnya mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. (jun/rus)

Exit mobile version