Site icon Berita Kota Makassar

Bukan karena Harta, Tapi Demi Balas Budi

BUKAN karena harta. Tapi demi balas budi. Itulah alasan Muh Idris hingga ikhlas menikahi I Nade, wanita yang terpaut 45 tahun dengan dirinya.

Laporan: Purmadi

SUASANA begitu ramai di rumah I Nade, jalan poros Soppeng di Desa Corawali, Kecamatan Pancalautang, Sidrap. BKM kembali datang ke rumah ini, Rabu (24/10) menjelang sore.
Tenda resepsi pernikahan sudah berdiri dengan megah. Warna warni kain membalutnya. Keluarga kedua calon mempelai juga semakin bertambah ramai.
Ya, pada Rabu malam ba’da salat Isya (tadi malam), Muh Idris dan Idris melangsungkan ijab kabul, yang dilanjutkan dengan resepsi pernikahan.
“Sebentar malam (semalam) juga ada acara mappacci’ dan resepsi. Mohon doata’ semua, semoga kami bisa bahagia dunia akhirat,” kata I Nade, kemarin.
Tetamu sudah mulai berdatangan ketika BKM berada di rumah pasangan calon pengantin ini. Kursi pelaminan telah siap menyambut para undangan.
“Namanya juga jodoh. Meski beda usia sekitar 45 tahun, tetapi mereka sepakat melangkah ke pernikahan,” kata H Asma, ponakan I Nade, yang diamini diamini Mama Ayu, tante mempelai laki-laki Muh Idris.
Ia menceritakan, sejak kabar pernikahan tantenya muncul di medsos, beberapa orang menanyakan kebenaran kabar tersebut.
“Banyak yang tidak percaya. Tetapi pas laki-laki datang melamar, barulah mereka yakin,” ujarnya.
I Nade dilamar secara resmi oleh Idris dengan mahar Rp10 juta.
Cinta keduanya diketahui bersemi dari panen cengkeh di Suli, Kabupaten Luwu.
Setelah resmi menikah, pasangan pengantin baru ini berencana tinggal di rumah yang sudah dibangun I Nade dari hasil berkebun di Luwu. Tepatnya di Dusun Ponori, Desa Tembok’e, Kecamatan Larompong.
Idris yang ditemui, kemarin mengaku ikhlas mempersunting I Nade karena perempuan itu telah merawatnya hingga besar. Idris mengaku sebagai anak kedua dari ibunya yang telah bersuami lagi. Ia memiliki dua saudara tiri.
Sejak umur empat tahun, seperti diceritakan Mama Ayu dan Jumaati, keduanya tante Idris, ponakannya itu ditinggal cerai kedua orangtuanya.
“Sejak berumur 4 tahun saya bawa dia (Muh Idris) ke Tembok’e, Ponari sampai besar. Kami bertetangga dengan I Nade. Sering Idris bantu-bantu memetik cengkeh kalau musim panen tiba,”ungkap Mama Ayu, yang diiyakan Idris.
Biasanya, jika tidak lagi musim cengkeh, Idris beralih menjadi kuli bangunan sebagai sumber nafkah. “Saya biasa jadi kuli kalau tidak lagi musim petik cengkeh,” akunya.
Mengenai statusnya yang rela menikahi perempuan yang jauh di atas umurnya, Idris tidak memperdulikannya.
“Jujur, Pak. Saya sudah ihklas dan suka sama suka. Apalagi semua keluarga mendukung saya. Saya yang mau jalani,” tegas Idris meyakinkan publik bahwa semuanya sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
Mama Ayu dan Tante Jumaati juga mengaku sempat risih. Karena desas-desus soal perkawinan beda usia yang sempat viral ini dikarenakan ponakannya I Nade karena materi. Hal itu pun dibantah oleh keduanya.
”Mereka ini betul-betul dijodohkan. Semata karena balas budi. Karena selama ini kehidupan Idris membaik setelah tinggal dan bekerja di kebun cengkeh milik I Nade,” jelas Mama Ayu lagi.
I Nade merupakan janda ditinggal mati suaminya. Ia belum memiliki keturunan. Perempuan ini menggarap kebun cengkeh miliknya yang luasnya kurang lebih 5 hektare.
“Alhamdulillah, saya bersyukur sudah ada imam dari keluargaku. Dialah yang nanti menggarap kebun saya,” ujar I Nade sembari tersenyum.
Dia pun berharap, keluarga yang dibinanya kini bisa terjalin seumur hidup. Semoga. (*/rus/b)

Exit mobile version