Site icon Berita Kota Makassar

Pengaruh Tagline Caleg di Media

MAKASSAR, BKM–Branding media menjadi salah satu instrumen untuk mengangkat popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas calon anggota legislatif (caleg) jelang pemilu legislatif (pileg) 2019 mendatang.
Tidak sedikit caleg memanfaatkan media, baik itu media daring maupun media sosial sebagai ajang kampanye.
Pengamat Politik dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Arqam Azikin mengatakan gerakan media brand dalam menatap pileg tentu sangat berpengaruh, baik itu media daring maupun media sosial. “Di pileg semua ada pengaruhnya, ada istilah satu pengaruh karena pileg banyak sekali efek bisa mempengaruhi, termasuk branding media atau tagline,” ungkapnya, Rabu (24/10).
Dia mengkategorikan, media massa yang paling berpengaruh adalah media online atau media portal. Sementara untuk media sosial keuntungannya karena update-nya jauh lebih cepat. “Trendnya orang yang memperhatikan media massa sekarang itu, yang pertama media online, kemudian TV, baru cetak kemudian disusul radio yah. Itu mungkin kalau di Sulsel, tapi ada kecenderungan radio tidak lagi signifikan,” ujarnya.
Meski begitu, dia menuturkan tidak semua caleg mampu memanfaatkan perkembangan media dengan baik. Menurutnya, perlu metode khusus dalam memanfaatkan pengaruh media. Bahkan metode media sosial dan media massa harus memiliki metode yang berbeda. “Antara media massa dan media sosial perlu metode khusus dipakai oleh caleg. Tapi itu tadi, pola komunikasinya tidak semua caleg memahami pola komunikasi itu, saya perhatikan gambar-gambar dan banner-banner yang mulai dipasang, baik iklan media portal maupun media sosial, penggunaan kata yang tidak tepat dan masih banyak diksi dan tidak menarik,” tuturnya.
Olehnya, tidak sedikit kontestan dalam event politik menggunakan jasa professional di bidang pendampingan penggalangan opini dan media. Arqam mengatakan, sebagai kontestan politik mestinya hanya menggunakan kata atau kalimat yang tepat dan mempengaruhi pemilih. “Dia kan butuh banyak peminat, tidak hanya untuk orang-orang yang terlanjur mengenalnya saja. Sehingga tidak hanya sekedar memasukkan gambar, benner, dan beritanya,” katanya.
Dijelaskan lebih jauh, untuk mengenal caleg di semua level, memang sangat efektif menggunakan branding media. “Apalagi bagi mereka yang Caleg pendatang baru, sangat berpengaruh, terutama untuk mengenal Caleg di semua level, mulai dari DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi dan DPR RI,” tandasnya.
Pengamat Komunikasi politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Iqbal Sultan berpandangan bahwa pemanfaatan branding dan tagline bagi caleg pendatang baru yang belum memiliki popularitas yang memadai, branding media ataupun tagline adalah satu jalan pintas yang tepat. “Yang pertama bagi caleg yang belum terkenal tentu media sangat memberi pengaruh besar kalau bisa saya katakan media power, artinya kuat untuk mensosialisaikan dan memperkenalkan Caleg ini ke Publik,” bebernya.
Apalagi, banyak caleg yang hanya dikenal di lingkungan internalnya. Tidak hanya itu, branding media juga sangat membantu ‘caleg kiriman’. Dimana tidak memiliki basis pemilih di suatu wilayah tertentu tapi karena instruksi partai, kemudian ditempatkan diwilayah yang sama sekali tidak ada basisnya. “Sehingga butuh-bantuan media yang memperkenalkan dirinya. Tergantung sasaran khalayaknya, tapi kan pengaruhnya terbatas setiap media memiliki karakteristiknya sendiri, sehingga para Caleg ini harus lebih memahami karakteristik media tidak memilih media begitu saja, harus memahami baik,” tuturnya.
Dijelaskan lebih jauh bahwa caleg yang sudah pernah berkompetisi dan belum terpilih harusnya melakukan evaluasi diri, karena ada banyak fariabel, tapi yang paling kuat memperlihatkan bahwa dia tidak memiliki basis atau tidak kuat akarnya di wilayah itu. “Sehingga apa yang harus menjadi rekomendasi ini, bahwa seharusnya dia harus memiliki bantuan media yang tepat,” tutupnya. (ita/rif)

Exit mobile version