DG NGERANG benar-benar sangat mensyukuri kehidupannya saat ini. Walaupun hanya sebagai tukang parkir, namun ia sudah sangat bersyukur dengan pekerjaannya. Yang penting katanya, bisa menghidupi keluarga.
Laporan: NUGROHO
Dg Ngerang sendiri saat ini tinggal bersama istrinya yang bernama Ani di Jalan Veteran Makassar. Anaknya ada empat, dua diantaranya telah menikah. Kini, ia telah dianugerahi juga empat orang cucu.
Kesyukurannya didasari karena pekerjaannya kini lebih santai dan bisa menghasilkan keuntungan yang lumayan, dibanding pekerjaannya dulu.
Sebelum menjadi tukang parkir, Dg Ngerang adalah penjual buah. Selama 10 tahun dirinya menjual buah-buahan seperti jeruk, mangga, dan sebagainya di Pasar Sentral Makassar. Namun akibat kurangnya mendapat untung, dan ditambah lagi kebakaran Pasar Sentral, ia saat itu berpindah berjualan di Pelabuhan Makassar.
“Sudah di Pasar Sentral, jual ka lagi buah di pelabuhan. Kalau ada kapal singgah, saya tawari mi beberapa orang yang baru turun sama orang yang mau naik kapal,” kata Dg Ngerang.
Hingga suatu saat, salah satu driver Wali Kota Makassar, yang juga merupakan temannya, menyarankan dirinya untuk menjadi tukang parkir di pelataran luar gedung balai kota. Sejak tiga tahun lalu, ia pun secara resmi menjadi tukang parkir di balai kota.
Dg Ngerang mengatakan, pelayanan yang baik menjadi prioritas utamanya kepada para pemarkir. Menjaga agar helm tidak saling tertukar juga menjadi hal yang ia jaga.
Sambil menunggu orang-orang yang memarkirkan kendaraannya, saat tiba di Balaikota, ia tak lupa membersihkan tempat tersebut terlebih dahulu. Ia mengakui, selain menjaga kendaraan, tak lupa pula ia menjaga kebersihan lingkungan tempatnya bekerja.
Dg Ngerang pun mengaku, dalam sehari dirinya bisa mendapat keuntungan lebih dari Rp 100 ribu. Dengan penghasilan seperti itu, Dg Ngerang sudah sangat bersyukur karena bisa menghidupi keluarganya, walaupun kondisinya pas-pasan.
Selain sebagai tukang parkir, Dg Ngerang ternyata juga aktif sebagai pengurus panti asuhan. Tercatat, ia saat ini terdaftar sebagai seksi keamanan di dua panti asuhan sekaligus. Yaitu di Panti Asuhan Mutmainnah, Jalan Rapokalling, dan Panti Asuhan Al-Amanah di Jalan Urip Sumoharjo.
Karena dedikasinya atas penerapan parkir dalam jaringan atau online yang pernah diterapkan oleh pemerintah, Dg Ngerang pernah mendapat penghargaan dari PD Parkir Kota Makassar atas dedikasinya konsisten menerapkan parkir online.
Mengapa ia bisa mendapatkan penghargaan tersebut? tentu karena ia berani terus mencoba sistem parkir yang lebih modern dan efisien, bukan hanya mementingkan keuntungan semata.
Pria 51 tahun ini tiap paginya sekitar pukul 06.30 telah harus ada di samping Kantor Balai Kota untuk mengatur motor-motor yang mulai berdatangan. Ia harus lebih dahulu datang dari para pegawai dan pengunjung balaikota, supaya motor di sana tidak langsung berantakan.
Setiap motor yang datang, ia langsung merapikannya sesuai susunan yang rapi. Jadi para pemarkir saat memarkir motornya, langsung disusun oleh Dg Ngerang, tidak dibiarkannya begitu saja.
Bukan hanya itu saja, yang pastinya, Dg Ngerang benar-benar merawat motor yang ada di parkirannya. Mulai dari membungkus helm-helm, mengelap motor jika terlihat kotor terkena debu, hingga mengamankan barang-barang pengguna motor jika tertinggal di motor.
“Ini kayak begini, orang na lupa kuncinya (sambil memperlihatkan beberapa kunci dari kantongnya), saya amankan. Bahkan biasa hape atau barang-barangnya ketinggalan di motor, saya amankan. Pokoknya kalau disini aman ki,” kata Dg Ngerang.
Pria asal Kabupaten Takalar ini pun tidak memaksa beberapa pemarkir untuk membayarnya. Ia mengatakan dengan ikhlas bekerja di situ. Jika ada orang yang memberikan uang parkir, ia terima, namun jika tidak, ia juga tak apa-apa.
Jika telah tiba sore hari, Dg Ngerang juga tak lupa pulang untuk beristirahat. Sekitar jam 18.00 Dg Ngerang pulang. Namun ia masih menunjukkan tanggungjawabnya sebelum pulang.
Dg Ngerang terlebih dahulu memasukkan motor-motor yang belum beranjak ke dalam pelataran Balaikota. Ia memindahkannya satu-satu. Setelah semuanya masuk, ia baru meminta izin kepada petugas jaga di Balai Kota untuk pamit pulang, tanda bahwa pekerjaannya hari itu telah selesai.
Kinerja seperti itulah, yang pernah ia aplikasikan saat pemerintah coba menerapkan parkir online. Dirinya konsisten terus mencoba menerapkan, sehingga didapatkan lah penghargaan tersebut.
Bahkan walau pendapatan yang cukup kecil itu, Dg Ngerang tetap menerimanya dengan penuh rasa syukur. Ia selalu menganggap bahwa ‘’Apabila pekerjaan selalu dijalani dengan ikhlas, maka akan menjadi berkah’’.(b)
