MAKASSAR, BKM — Jalan AP Petta Rani kian macet pasca penutupan atau penyempitan badan jalan di beberapa titik untuk kepentingan pembangunan tol layang.
Kondisi tersebut, menurut Direktur Utama PT Bosowa Marga Nusantara, Anwar Toha susah dihindari saat ini. Penutupan beberapa titik jalan itu karena ada sejumlah pekerjaan yang dilakukan. Misalnya untuk pemindahan pipa PDAM. Namun dia menjamin itu tidak berlangsung lama.
Selain itu, lanjut dia, penyempitan jalan juga disebabkan ditutupnya lokasi yang dijadikan jalan naik ke tol layang AP Pettarani. Khususnya di sekitar belokan ke Abu Bakar Lambogo.
“Kita sementara melakukan pengeboran untuk tiang pancang jalan naik ke tol layang AP Pettarani, sekitar 200 meter itu,” ungkapnya, Jumat (26/10).
Penyempitan juga terjadi di sekitar Pasar Tamamaung karena ada badan jalan ditutup akibat penggalian pipa PDAM.
Dia juga menjamin penutupan tersebut tidak berlangsung lama. Begitu pipanya sudah selesai dipindahkan, lokasi itu kembali akan dibuka.
Untuk meminimalisir penyempitan jalan, lanjut Anwar Toha, pihaknya meminta agar reklame besar berupa billboard yang membentang di tengah jalan juga dibongkar.
“Alhamdulillah, pemilik billboard sudah mau membongkar,” ungkapnya.
Dia meminta para pengguna jalan bersabar menghadapi kondisi ini. Jika memang ada jalan alternatif lain ke tujuan, sebaiknya menghindari jalan AP Pettarani.
” Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Diharapkan bisa bersabar sekitar 20 bulan sampai tol layang selesai dikerjakan,” tutur Anwar Toha.
Sementara itu,
Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat XIX, Benny Nurdin Yusuf menjelaskan Jalan AP Petta Rani merupakan salah satu backbone yang menghubungkan Timur ke Barat serta Selatan ke Utara. Dengan jarak sekitar 4 km, ada sekitar 30an akses jalan yang mengarah ke Petta Rani.
Tidak ada pengerjaan jalan saja, lalu lintas di sana sudah cukup padat. Apalagi dengan adanya pengerjaan tol layang AP Pettarani.
“Jadi memang sangat sulit untuk dihindari kemacetan di sana,” ungkap Benny.
Sebenarnya, lanjut dia, jika masyarakat cerdas membaca situasi, dengan kondisi yang terjadi saat ini, seharusnya jalan itu dihindari. Carilah jalan alternatif lain. Apalagi, sebelum tol layang dikerjakan, pihak pengelola jalan tol sudah memberi pilihan soal jalan-jalan alternatif yang bisa dilewati untuk menghindari kepadatan yang terjadi di AP Petta Rani.
“Contohnya saya tinggal di Hertasning. Kalau ke kantor tidak lewat Pettarani tapi ambil jalan lain. Harusnya kita jangan bodoh. Intinya kita harus cerdas menyikapi persoalan ini,” ungkapnya.
Selai itu, lanjut Benny, harus ada sinergitas dengan Pemerintah Kota Makassar untuk mengurangi hambatan samping yang ada.
“Contohnya, seperti Pasar Tamamaung seharusnya sudah harus direlokasi. Tidak boleh lagi ada disitu. Ini merupakan konsekuensi pembangunan infrastruktur yang tidak bisa dihindari,” tutur Benny.
Dia mengatakan, jumlah kendaraan yang mengaspal saat ini di Makassar sekitar satu juta lebih. Sementara pertumbuhan kendaraan hampir tujuh persen. Pertambahan jalan hanya satu persen.”Jadi tidak sebanding memang. Ketika ada pembangunan infrastruktur jalan, harus kita dukung,” pungkasnya. (rhm)
