GOWA, BKM — Intensnya musibah kebakaran terjadi di beberapa wilayah di Kabupaten Gowa membuat jajaran Dinas Damkar Gowa berupaya optimal bertindak.
Sayangnya keoptimalan Damkar ini terbentur sarana prasarana fisik. Bukan hanya dari segi armada tapi juga fasilitas penunjang lainnya.
Tak heran jika tanggap darurat yang dilakukan Damkar Gowa kerap menemui hambatan termasuk kondisi akses menuju tempat kejadian kebakaran.
Seperti kejadian kebakaran tiga unit rumah dan satu unit mobil di dekat kanal belakang kantor Pengadilan Agama Gowa pada Jumat (26/10/2018) kemarin petang.
Karena terkendala armada dengan hanya menurunkan 4 unit armada masing-masing 3 mobil penembak dan hanya 1 unit mobil tangki membuat upaya pemadam api terhambat. Apalagi proses pemadamam sempat terhenti lantaran mobil tangki kehabisan air sehingga harus ke sumber air baku PDAM di Jl Tirta Jeneberang yang akses jalannya sempit dan padat kendaraan.
Kadis Damkar Gowa Rostam Razak melalui Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Mustamin Raga kepada Berita Kota Makassar, Sabtu (27/10/2018) membenarkan hal tersebut.
Diakuinya, pihak Dinas Damkar yang memiliki armada terbatas sangat sulit untuk melakukan kinerja maksimal seperti diharapkan masyarakat.
“Untuk melayani kondisi dalam kota seperti di metro Somba Opu, kita
perlu dibantu dengan menyediakan Hidrant Kota maupun titik-titik pengambilan air yang mudah diakses oleh mobil tangki kami. Sebab selama ini mobil tangki kami sedikit kewalahan melakukan akses pengisian air karena harus menuju sumber air dengan kondisi akses jalan sempit dan padat kendaraan. Kalau di PDAM kami lakukan pengisian air maka selain akses sempit juga fasilitas pengisian tidak standar pemadam, jadi prosesnya lama. Ini tentu menyita waktu sementara penyelamatan kebakaran harus secepatnya dilakukan,” jelas Mustamin.
Selain kesulitan akses, Dinas Damkar juga kekurangan mobil tangki.
” Satu dari dua mobil tangki kami rusak yang tidak bisa kami perbaiki karena terkendala biaya. Sudah dua bulan tidak beroperasi. Anggaran untuk biaya perbaikan dan pemeliharan sangat kurang. Sesungguhnya keluhan ini bukan untuk kami tapi untuk perlindungan masyarakat terutama di daerah perkotaan metro Somba Opu,” jelas Mustamin.
Diapun mengatakan, idealnya metro Somba Opu sendiri harus dibackup sekurang-kurangnya 8 mobil penembak jika mengacu pada standard pelayanan minimal berdasarkan Permendagri No 69 tahun 2012.
“Sekarang penembak di kota cuma 3 unit, itupun rencananya akan kami kirim satu unit ke Kota Malino untuk Pos Pelayanan Kota Malino dan sekitarnya. Kami perlu utarakan ini karena sudah menjadi kebutuhan mendesak demi perlindungan masyarakat yang maksimal,” tambahnya.
Disebutkannya, armada Damkar Gowa meliputi 8 unit mobil namun yg terpakai hanya 6 unit. Secara rinci 4 unit mobil penembak (3 unit standby di posko induk Damkar di Manggarupi, 1 unit di posko Damkar Bontonompo) dan 2 unit mobil tangki (keduanya standby di posko induk Manggarupi, satunya rusak). Sedang lainnya yakni 1 unit mobil penembak (sudah rusak berat selama tiga tahun setelah mengalami kecelakaan lalulintas), serta 1 unit lagi mobil kecil bantuan Jepang yang juga tidak maksimal digunakan karena kekurangan biaya operasional.
“Kalau yang bantuan Jepang ini ukurannya kecil tapi kekuatannya sebenarnya sangat besar hanya saja kondisinya juga memprihatinkan kini butuh pemeliharaan,” tambahnya. (saribulan)
