Site icon Berita Kota Makassar

Sempat Canggung dan Jarang Berkumpul Bersama Keluarga

MENJADI seorang sales kanvas selama tujuh tahun lamanyasebenarnya bukan pilihan Abadi. Apalagi ia tahu akan jarang berkumpul bersama anak istri dan keluarga.

Laporan: JUNI SEWANG

Namun, kata Abadi kepada penulis, pekerjaan itu sudah menjadi garis tangan tuhan. Apalagi ia memperoleh pendapatan Rp5 juta pe bulan dari kantornya di PT Enseval Putra Megatrading, perusahaan yang bergerak di bidang Farmasi.
Sebagai sales kanvas selama tujuh tahun, tentunya banyak pengalaman dan suka duka dijalaninya.
“Pertama-tama sebagai sales saya diberi tugas sebagai sales di daerah. Saya masih meraba-raba dalam belajar di bidang ini, soalnya masih baru yang harus berhadapan langsung dengan konsumen, dimana konsumen ini bukanlah orang sembarangan. mereka adalah pemilik pemilik toko baik besar maupun skala kecil, jadi bukan ke end-user langsung,” katanya.
Bahkan cerita Abadi, ia terkadang mendapat marah dari pemilik toko jika hendak menagih, padahal marahnya pada karyawan yang mengantar barang.”Enak jika kita berhadapan dengan pemilik toko yang ramah. Tapi yang tidak enaknya jika ketemu pemilik toko yang suka marah-marah atau penagihannya mereka tunda,” ungkap Abadi.
Awal dapat tugas sales luar kota, ia merasa canggung, apalagi luar kota dengan dialeg bahasa tiap daerah berbeda-beda.”Saya kadang bingung dengan dialeg bahasa daerah, tapi saya mencoba untuk belajar dan terus belajar beradaptasi ke mereka,” katanya.
Selain dukanya, ia juga menemui banyak sukanya. Termasuk jika ia bertemu dengan sales lain dari produk yang sama maupun beda. Kalau di hotel kadang kalo pas tidak capek, ikutan ngobrol, sharing pengalaman, sharing informasi, berbagi pandangan hidup. dan tentunya ada rasa motivasi ke diriku sendiri, padahal mereka tidak kasi motivasi secara langsung,” jelas Abadi.
Dirinya juga banyak belajar strategi bisnis yang baik, menjadi sales force, bagaimana memasarkan suatu produk ke toko-toko. Belajar sistem nya mereka seperti apa, siapa tau kelak berguna.
“Yang jelas, saya bersyukur bisa dapat pekerjaan ini, hanya saja harus hati hati biasa kalau pulang banyak bawa uang dari hasil tagihan seminggu, jumat sore pulang, atau sabtu sore pulang, kemudian penyetoran ke kantor, bawa uang banyak terkadang saya juga was was, kalau malam hari melalui jalan yang rawan, apa lagi isu banyak begal,” tuturnya.
Abadi bekerja sebagai sales dengan sejumlah daerah yang harus dijalaninya.”Saya pegang delapan daerah, dari kabupaten Gowa hingga kabupaten Soppeng. Tugas pokok saya menagih, mencatat pesanan (order), mengontrol stok dan lain lain. Pendapatan sales ada gaji pokok, uang makan, uang transport, sales mendapatkan komisi, intensif, bonus, itu yang enaknya,” katanya.
Namun tidak enaknya kadang nombok karena seorang sales harus selalu mobile/muter-muter keliling kota untuk mendapatkan konsumen yang mau membeli produknya. Di jalan itu banyak pengeluarannya, misalnya bayar parkir kendaraan, jajan, minum lebih tidak enaknya jauh dari anak istri, senin sudah harus ke daerah, sabtu sore baru kembali ke Makassar,” jelasnya.
Abadi kepada penulis juga mengakui, kalau orang tidak boleh menganggap remeh pekerjaan sales. Banyak orang yang telah sukses dalam bidang penjualan meski butuh bertahun-tahun kerja keras.”Banyak teman-teman saya sukses karena mengeluti dan ikhlas bekerja sebagai salesmen. Sekarang rata-rata memegang peranan penting di sebuah perusahaan. Itulah menjadi dorongan saya,” katanya.(jun)

Exit mobile version