Site icon Berita Kota Makassar

Wariskan Mata Air, Bukan Air Mata

MAKASSAR, BKM– Tugas dari pemimpin saat ini yakni mempersiapkan berbagai sarana dan strategi. Ini menjadi dasar dan batu loncatan kepada generasi muda agar bisa berbuat yang terbaik untuk bangsa ke depan.
Tugas itu cukup berat. Butuh dukungan berbagai stakeholder. Intinya, Kata Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, ia tidak ingin mewariskan air mata kepada generasi yang akan datang melainkan mata air yang mengalir ke berbagai penjuru negeri, terkhusus di Provinsi Sulsel.
Hal tersebut diungkapkannya saat menjadi inspektur pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 90 di Lapangan Upacara Rumah Jabatan Gubernur, Minggu (28/10). Nurdin menambahkan, seluruh masyarakat berhutang budi kepada para Pemuda Tahun 1928 yang telah mendelarasikan sumpah pemuda.
Pesatnya perkembangan teknologi informasi, disampaikan oleh NA ibarat dua mata pisau. Satu sisi memberikan jaminan kecepatan informasi, sehingga memungkinkan para pemuda meningkatkan kapasitas pengetahuan dalam peningkatan sumber daya serta daya saing.
“Namun pada posisi lain, perkembangan ini mempunyai dampak negatif, informasi-informasi yang bersifat destruktif mulai dari hoaks, hate speech (ujaran kebencian), pornografi, narkoba, pergaulan bebas hingga radikalisme dan terorisme juga masuk dengan mudah,” sebutnya.
Hal-hal tersebut akan masuk dengan mudah, jika kaum muda tidak membendung dengan ilmu pengetahuan serta kedewasaan dalam berbangsa dan bernegara. Gerakan Revolusi Mental yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi dinilai amat relevan mewujudkan pemuda yang maju. Dengan ciri, pemuda berkarakter, berkapasitas, dan berdaya saing.
“Revolusi Mental menjadi pemicu terwujudnya pemuda yang maju dengan mewujudkan pemuda yang maju dapat menghasilkan bangsa yang hebat,” ujarnya.
Dia mengatakan, tugas pemuda saat ini bagaimana mempersiapkan diri untuk ikut ambil bagian dalam pembangunan untuk kemajuan bangsa.
“Kuncinya, siapkan sumber daya manusia. Tidak hanya soal kecerdasan namun juga memiliki moral dan etika,” ungkapnya.
Di negara maju, kata mantan Bupati Bantaeng dua periode itu, anak mudanya tidak ada yang mengurusi politik. Mereka berpacu menguasai teknologi. (rhm)

Exit mobile version