Site icon Berita Kota Makassar

20 Pegawainya di Lion Air, Sri Mulyani Menangis

JAKARTA, BKM — Jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 meninggalkan duka bagi banyak pihak. Tak terkecuali jajaran pemerintahan, terutama Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Mengingat di dalam daftar penumpang (manifest) pesawat terdapat 20 karyawan Kemenkeu yang bertugas di Bangka Belitung.
Terkait insiden ini Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyambangi kantor Basarnas Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (29/10). Ia datang didampingi beberapa stafnya.
Ditemui usai bertemu dengan Basarnas, Sri mengatakan kedatangannya untuk mengecek insiden jatuhnya pesawat ini. Sebab dia belum mendengar langsung kabar tersebut dari Basarnas.
“Saya hadir siang hari ini (kemarin) untuk mengecek langsung berita mengenai kecelakaan dari pesawat Lion Air. Karena kebetulan di dalam pesawat itu ada 20 dari jajaran Kemenkeu,” ujar Sri.
Selama memberi keterangan kepada awak media, terlihat Sri begitu terpukul dengan peristiwa ini. Bahkan nada bicaranya pun terlihat tersedak-sedak. Matanya terlihat berkaca-kaca berlinangan air mata.
Sri menjelaskan, sampai saat ini pihaknya masih berharap agar para korban masih bisa diselamatkan. Selain itu, update informasi kecelakaan ini diminta terus diperbaharui.
“Bagi kami yang paling penting mendapatkan berita dan kita tetap berharap (untuk keselamatan korban),” harapnya.
Zuiva Puspitaningrum, pegawai dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di wilayah Bangka Belitung (Babel) menjadi salah seorang penumpang pesawat Lion Air JT-610 jurusan Jakarta-Pangkal Pinang. Keluarga besar dari Pita (panggilan Zuiva) pun cukup terpukul dengan adanya kabar pesawat tersebut hilang kontak pada Senin (29/10) pagi.
Paman Pita, Mutiek Admadji menceritakan, ayah dari Pita mengetahui adanya kabar pesawat hilang kontak saat melihat berita melalui saluran televisi.
“Ayahnya Ridwansyah, ibunya Latifah Hanim. Bapaknya Pita ini nonton tivi. (Ada kabar pesawat hilang kontak) lha ini kan anak saya, dia langsung kontak anaknya,” katanya di rumah orangtua Pita di Jalan Kaliurang km 5, Gang Jeruk nomor 1, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (29/10) sore.
Setelah tak ada respon, Ridwansyah kemudian menghubungi suami Pita yang ada di Jakarta. Setelah itu ia baru mendapat kepastian bahwa Pita juga menjadi salah satu penumpang pesawat nahas itu.
Pita semasa kecil tinggal berpindah-pindah. Salah satunya di Sleman, DIY. Ia mengenyam pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Lanjut Mutiek, Pita bersama suami dan tiga anaknya selama ini tinggal di Jakarta. Sejak dua tahun terakhir yang bersangkutan berdinas di BPK wilayah Babel.
“Umurnya sekitar 40-an tahun. Anak bungsu dari 4 bersaudara. Anaknya juga masih kecil-kecil. Ada yang kelas 4 SD, kelas 2 SD, dan yang terkahir di TK,” katanya.
Selama berdinas di Babel, Pita pulang ke Jakarta setiap hari Jumat. Kemudian baru balik ke tempat kerjanya, saat Senin. “Dia auditor, dulu (berdinas) di Jakarta. Baru dua tahun ini dinas di Babel,” ucapnya.
Sebelumnya, pesawat Lion Air JT-610 dipastikan telah jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10). Pesawat tersebut semula dijadwalkan terbang dari bandara internasional Soekarno Hatta menuju Pangkal Pinang, Bangka Belitung.
Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsda TNI Muhammad Syaugi menjelaskan, pihaknya pertama kali mendapat informasi pesawat tersebut hilang kontak sekitar pukul 06.50 WIB. Koordinat hilangnya disekitar Tanjung Karawang.
“Lost contact ada di atas sini (Tanjung Karawang). Ini jaraknya dari kantor Jakarta 34 NM (nautical mile, Red), dari Tanjung Priok 25 NM dan dari Karawang 11 NM,” ujar Syaugi di kantor Basarnas, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (29/10).
Saat hilang kontak, pesawat belum lama terbang setelah take off. Diperkirakan pesawat baru mencapai ketinggian 2.500 meter.
Pesawan mengangkut 181 penumpang. Terdiri dari 124 laki-laki, 54 perempuan, satu anak-anak dan dua bayi. (jpc)

Exit mobile version