MAKASSAR, BKM — Usia pernikahan Tayeb Tahir (43) dan Idha Susanti (44) belum cukup setahun. Pria asal Makassar itu mengikat janji suci dengan istrinya yang asal Malang pada 29 Desember 2017.
Perjalanan biduk ramah tangga keduanya dijalani dengan suka dan duka. Apalagi, mereka tinggal berjauhan.
Di Makassar, keluarga Tayeb tinggal di sebuah perumahan Jalan Prof Abdulrahman Basalamah. Tayeb bekerja pada sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Sementara sang istri tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di Institut Pertanian Bogor (IPB). Idha tercatat sebagai dosen di sebuah univesitas Bangka Belitung.
Perjalanan rumah tangga mereka kini menghadapi cobaan berat. Idha Sanusi menjadi salah satu korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Jawa Barat, Senin pagi (29/10). Hingga kemarin, belum ada kepastian tentang nasib Idha.
Dihubungi melalui sambungan telepon selularnya, Selasa (30/10), Tayeb tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia tengah berada di Rumah Sakit Polri Kramat Jati memantau perkembangan pencarian korban Lion Air.
Dengan nada terbata-bata, Tayeb mengenang kebersamaannya dengan Idha. Mereka telah menyusun sejumlah rencana kehidupan rumah tangganya. Salah satunya keinginan untuk bisa memiliki anak, serta pindah dan menetap di Bangka Belitung.
”Saya dulu tinggal di Makassar sebelum ada istri. Setelah menikah saya pindah ke Jakarta,” tutur Tayeb.
Sejak menikah dengan Idha, Tayeb mengaku belum pernah memboyong istrinya itu ke Makassar. ”Keluarga di Makassar sering tanya, kapan ke Makassar bawa istri. Mereka mau lihat ipar baru katanya,” ujarnya sambil menahan sedih.
Saat peristiwa Lion Air jatuh, Idha Susanti dalam perjalanan menuju Bangka Belitung untuk mengajar. ”Dia mengejar pesawat yang berangkat pagi. Sibuk juga urus persiapan sidang promosi doktornya,” terangnya lagi.
Ketika berangkat menuju bandara, Tayeb mengantar langsung istrinya. Ia sama sekali tak menyangka kejadian buruk akan menimpa teman hidupnya itu. Sebab Idha sudah sering bolak balik Jakarta-Bangka Belitung. Dua kali dalam seminggu ia melakukannya.
”Dalam tiga bulan terakhir istri saya bolak balik terus ke sana (Pangkal Pinang). Bisa seminggu dua kali buat mengajar. Kasihan juga melihatnya. Tapi karena tuntutan pekerjaan, ya… mau apa lagi,” ujarnya sambil menghela nafas.
Ia masih mengingat pakaian yang dikenakannya saat sang istri berangkat. Yakni baju putih, hijab putih, dan rok hitam. Di jari manisnya melingkar cincin pernikahannya. Jam tangan bertali kulit juga dipakainya.
”Dia bawa perlengkapan dan satu helm. Rencananya kami akan pindah dan menetap di Bangka Belitung setelah istri menyelesaikan doktornya. Sudah ada rumah di sana, cuma belum ditempati. Barang-barang sudah dikirim separuh. Rencananya bulan 12 pindahnya,” ungkap Tayeb lagi.
Di mata Tayeb, Idha merupakan sosok yang sabar dan tidak pernah marah. ”Dia orang paling baik yang pernah saya kenal,” tuturnya.
Ada satu yang diingatnya sebelum peristiwa nahas menimpa istrinya. Idha selalu menanyakan perihal perhatian dan cinta kasih suaminya ketika mereka tengah terpisah jarak. Selain itu, Tayeb mengaku ada begitu banyak kejanggalan yang Idha ucapkan kepada dirinya sebelum insiden terjadi.
“Banyak yang dia tanyakan. Tapi satu yang selalu saya ingat. Kemarin itu sebelum pergi, dia sempat bertanya ke saya. Salah satunya dia bilang; kuat nggak bang kalau saya tidak ada kabar dalam satu hari. Terus saya jawab, nggak kuat sembari tersenyum,” kenangnya.
Seorang adik kandung Tayeb yang ditemui di kediamannya Jalan Prof Abdulrahman Basalamah, kemarin mengakui jika Idha belum pernah sekalipun datang ke Makassar. Karenanya, keluarga selalu meminta Tayeb untuk membawa sang istri ke Makassar.
“Belum pernah ke sini. Mereka kan tinggalnya di Jakarta. Kita di sini selalu tanya terus kabar disana, apakah sudah ada informasi pastinya. Sampai sekarang belum ada kepastian. Semoga bisa segera ditemukan,” ucapnya. (ita/rus)
Diantar ke Bandara, Bertanya Perhatian dan Cinta Kasih
