MONUMEN Mandala merupakan salah satu monumen paling bersejarah di Makassar, dan juga menjadi salah satu ikon Makassar. Monumen Mandala tetap berdiri dengan kokoh dari tahun ke tahun. Hal ini tentu tak lepas dari kinerja Mappaturung, penjaga monumen tersebut.
Laporan: NUGROHO
Mappaturung merupakan pria asli Makassar yang sudah 19 tahun menjaga monumen yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman tersebut.
Mappaturung sendiri adalah seorang pegawai negeri sipil dari Dinas Pariwisata Provinsi Sulsel. Ia mengatakan, dirinya memang sengaja ditunjuk untuk menjaga monumen ini. Ia tidak keberatan walaupun tak memiliki libur. Bahkan dikatakannya, sangat senang setiap hari menjaga monumen ini.
“Saya ndak punya libur. Sabtu dan minggu tetap masuk. Tapi ini mi yang namanya cinta sama pekerjaan, biarpun begitu, senang ji ki kerja,” kata Mappaturung.
Ada beberapa tanggung jawab yang harus dikerjakannya. Selain terus mengawasi daerah sekitar monumen, dirinya juga mengoordinir beberapa tenaga kebersihan yang ditugaskan di area monumen. Selain itu, dirinya juga harus mengoordinir pula para petugas keamanan.
Setidaknya ada tiga petugas kebersihan dan tiga petugas keamanan yang ia koordinir. Semuanya ia awasi untuk selalu menjaga keindahan dan kenyamanan Monumen Mandala.
Pasalnya, beberapa tangan jail kerap ingin mengotori bangunan ikonik ini. Mappaturung mengatakan, khususnya anak-anak sekolah yang kerap sekali ingin mencoret-coret beberapa bagian dinding monumen.
Anak-anak sekolah setingkat SMA diakui Mappaturung kerap sekali mengunjungi monumen saat masih jam sekolah. Bukan hanya sekedar mengunjungi, beberapa dari mereka pernah kedapatan membawa piloks untuk digunakan mencoret dinding. Beberapa tidak ketahuan, beberapa juga ketahuan.
“Biasa jam sekolah kesini, saya tegur lah mereka, apalagi jam sekolah. Beberapa kali juga saya dapat na coret-coret itu dinding, dinding monumen sama dinding pagar. Kalau begitu saya tegur saja secara halus, mereka biasanya kabur mi,” jelasnya.
Aksi corat-coret di Monumen Mandala yang tak bisa ia larang adalah ketika terjadi demonstrasi. Para demonstran kerap sekali mencoret dinding monumen. Namun Mappaturung tak bisa melarangnya, karena dihadang oleh satuan keamanan yang tak takut jika dilarang, malah akan terjadi kontak fisik.
“Kalau ada demo na coret-coret, ndak bisa mi ki larang i, karena dilarang ki sama polisi halangi. Ya mengerti ki juga, karena kalau kita larang, nanti malah bentrok ki disitu,” tambahnya.
Monumen Mandala selama ini memang dikenal sebagai tempat yang kerap dijadikan lokasi demonstrasi. Apalagi saat datangnya hari Pahlawan pada 10 November nanti.(nug/b)
