MAKASSAR, BKM– Walaupun pertumbuhan pekerja di Sulawesi Selatan terus mengalami peningkatan, namun tidak dipungkiri jumlah pengangguran yang tercatat di Badan Pusat Statistik Sulsel masih tinggi.
Hingga triwulan ketiga ini, jumlah pengangguran mencapai 213.105 orang. Bahkan Kota Makassar adalah kota tertinggi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 12,19 persen. Bahkan dominan tingkat pendidikan pekerja di dominasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 12,48 persen.
Hal itu dibeberkan langsung, Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Sulsel, Faharuddin. Ia mengatakan, jumlah angkatan kerja pada Agustus 2018 sudah sebanyak 3.988.029 orang, naik 175.671 orang dibanding Agustus 2017 lalu. Sejalan dengan itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga meningkat 2,03 poin, walaupun memang tingkat pengangguran Sulsel masih ada.
“Memang pengangguran ini masih ada, tapi dalam setahun terakhir, pengangguran ini sudah berkurang 590 orang di Sulsel. Karena dominasi sekarang ini masyarakat lebih banyak mencari kerja di perkotaan dibanding pedesaan, perbandingannya itu pedesaan 3,16 persen dan perkotaan 8,38 persen, sehingga pekerja kita menumpuk diperkotaan,” ungkapnya saat di kantor BPS Sulsel, Selasa (6/11).
Lanjutnya bahwa, akibatnya terlalu banyak masyarakat yang lebih memilih bekerja di perkotaan, sehingga lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase penduduk yang bekerja terutama pada industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi. Sedangkan lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan utamanya pada pertanian, jasa pendidikan, dan administrasi pemerintahan.
“Kalau status pekerjaan saat ini masih banyak yang bekerja sebagai buruh, karyawan, pegawai 33,44 persen itu, kalau berusaha sendiri 20 persen dan pekerja kelaurga tidak dibayar itu sebesar 15,86 persen. Jika pekerja di bidang IT itu sendiri belum kami data karena kita tidak bisa data jumlahnya karena mereka banyak bekerja tanpa ikatan kerja,” bebernya.
“Saat ini kab/kota yang masih tinggi tingkat pengangguran terbukanya berada di Kota Makassar sebesar 12,19 persen, Palopo 11,60 persen, Pangkep 6,91 persen, Maros 6,19 persen dan Barru 5,38 persen. Ini sedang kita upayakan agar tingkat pengangguran ini segera menurun dan tidak didominasi diperkotaan saja lapangan pekerjaan ini,” tambahnya.
Selama setahun terakhir,persentase tertinggi pada Agustus 2018 adalah pekerja penuh memiliki jam kerja minimal 35 jam per minggu atau sebesar 64,28 persen. Sedangkan penduduk yang bekerja dengan jam kerja 1-7 jam memiliki persentase yang paling kecil yaitu sebesar 2,34 persen. Serta pekerja tidak penuh terbagi menjadi dua yaitu pekerja paruh waktu 28,14 persen dan pekerja setengah penganggur 7,57 persen.(ita)
