Site icon Berita Kota Makassar

Tak Ingin Dikubur di TMP

HARI ini, Sabtu (10/11) diperingati sebagai Hari Pahlawan. BKM memilih satu sosok pejuang asal Makassar yang namanya diabadikan pada sebuah jalan. Yakni Abdullah Daeng Sirua.

JIKA anda warga Makassar, atau pernah berkunjung ke kota ini, nama Abdullah Dg Sirua atau biasa disingkat Abdesir, tak asing lagi. Sebab itu adalah nama jalan yang membentang di dua kelurahan, yakni Karampuang dan Tamamaung, Kecamatan Panakkukang.
Tapi, tidak banyak yang tahu siapa itu Abdesir. Hingga alasan apa sehingga namanya ditasbihkan menjadi nama jalan. Padahal, dia menjadi salah satu sosok yang banyak berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Khususnya di Makassar.
Sebuah rumah di Jalan Kampung Tidung Mariolo, Makassar didatangi BKM, Kamis (8/11). Di sini tinggal HM Yahya Dg Nai, ponakan Abdullah Dg Sirua.
Ia berturut tentang sang paman. Sebuah catatan dipegangnya. Sesekali dia membuka lembarannya.
Di bagian lain dalam rumah masih tersimpan rapi tempat penyimpanan obat-obatan, serta keris yang dipergunakan Abdullah kala berperang. Sebuah sumur tua yang menjadi saksi bisu untuk memandikan para pejuang sebelum berangkat ke medan tempur.
Tak jauh dari rumah ini, Abdullah Dg Sirua dimakamkan. Cukup sederhana. Tanpa tertulis nama pribadi sang pemilik makam. Apalagi sampai ditulis sebagai pejuang.
”Keluarga memang sudah dapat amanah dari bapak (Abdullah Dg Sirua) untuk tidak dipindahkan ke sana (Taman Makam Pahlawan/TMP). Beliau maunya dikuburkan dekat dengan keluarga,” begitu penjelasan HM Yahya Dg Nai.
Abdullah Dg Sirua meninggal dunia tahun 1979 karena sakit. Makamnya berdekatan dengan makan putra satu-satunya. Termasuk almarhuma istrinya Sania Dg Puji, serta bapakanya Yusuf Dg Ngawing.
”Sebenarnya, dulu di makamnya itu ada namanya. Tapi sudah hilang sekarang,” tuturnya.
Semestinya, menurut HM Yahya, Pemerintah Kota Makassar memiliki kepedulian terhadap makam para pejuang yang ada. Namun, perhatian tersebut hingga saat ini belum terlihat.
Sejak kecil, Abdullah Dg Sirua telah ikut berperang membela kemerdekaan. Ia mengikuti jejak sang ayah Yusuf Dg Ngawing melawan penjajah.
Abdullah Dg Sirua memiliki tiga orang saudara. Ia merupakan anak pertama. Tiga adiknya masing-masing Abdullah Djaya Dg Muntu, Hj Hapsah Dg Ngugi, dan H Muh Saleh Yusuf Dg Pata.
Pemilik empat orang putr ini, berjuang bersama Wolter Monginsidi, Emmy Saelan, serta para laskar lainnya. Namun, yang menjadi perhatian penjajah Belanda kala itu adalah Abdullah Dg Sirua. Sehingga dirinya dijadikan target buruan paling utama.
Abdullah Dg Sirua lahir tahun 1922 di Kampung Mapala, Tidung. Di usia yang masih belia, yaitu tujuh tahun, ia sudah mewarisi sifat ayahnya yang merupakan kepala kampung Mapala. Yusuf Dg Ngawing begitu membenci penjajah.
Bahkan, rumah Abdullah digunakan sebagai markas dan tempat menyuplai makanan maupun obat-obatan bagi para pejuang. Termasuk adiknya yang bersama Hapsah. Tak mengherankan jika Abdullah bersama ayahnya diburu Belanda.
”Sebelum berangkat berperang, kakek (Yusuf Dg Ngawing) dulu itu selalu memandikan semua para pejuang. Setelah itu baru mereka berangkat ke medan perang. Makanya, sampai sekarang tidak saya apa-apakan itu sumur depan rumah,” terang Yahya lagi.
Dia menguraikan, pada masa perjuangan melawan Jepang, Abdullah dan ayahnya mengalami tiga kali penangkapan. Bahkan ia pernah disiksa oleh tentara KNIL, kaki tangan Belanda.
Menurut penuturan Abdullah ke Yahya, bahwa tentara KNIL banyak juga yang berkhianat. Penyiksaan yang dialami Abdullah, salah satunya digantung kepalanya dari dini hari hingga sore. Ibu jari tangannya diikat lalu diseret dengan menggunakan mobil.
Basis perjuangan Abdullah tidak hanya di Makassar. Tapi juga mencakup wilayah Takalar, Maros, Barru, hingga Malino, Gowa.
Karena Abdullah tak menyerah, penyiksaan pun dilanjutkan dalam bentuk dipasung, dipukul, dan digantung oleh tentara KNIL. Hingga kabar perlakuan kejam itu menyebar ke penduduk kampung seperti Mapala, Masale, Tamamaung, Cilallang dan Rappocini. Abdullah bahkan dinyatakan telah meninggal, padahal belum.
“Bapak itu meninggal tahun 1979 pada umur 57 tahun, karena sakit akibat bekas penyiksaan terdahulu. Nanti dia rasakan di usianya yang sudah tua. Karena penyiksaan yang bapak rasakan dulu itu sangat luar biasa. Dipukul pakai balok, digantung, ditembak dan diseret sampai dikira sudah meninggal karena penyiksaan itu. Jadi mungkin bekas penyiksaan itu ada tulang dan darah mati yang mengumpal, menyebabkan bapak baru merasakan sakit. Terakhir, bapak sudah menggunakan tongkat karena kaki yang sudah tidak kuat lagi berdiri tanpa alat bantu,” jelasnya.
Ketua RW 03 RT D ini menyebutkan, Abdullah Dg Sirua pernah mengeyam pendidikan di Muallimin Muhammadiyah Jongaya dan pendidikan di MULO. Itu adalah sekolah khusus anak-anak Belanda dan pribumi yang keturunan bangsawan belajar.
Abdullah termasuk siswa yang sangat rajin. Hampir setiap sore ia juga mengajar mengaji dan ilmu agama. Selepas kemerdekaan, Abdullah kembali menjadi penceramah dan guru agama di berbagai sekolah rakyat.
Sembilan tahun sebelum wafat, tepatnya di tahun 1970, Abdullah Dg Sirua menjadi kyai terkenal di Makassar. Ia juga dipercaya sebagai Kepala Urusan Agama di Kecamatan Karuwisi. Kemudian dipindahkan ke Kecamatan Panakkukang dengan jabatan yang sama.
Setelah itu, masa pensiunnya dihabiskan dengan mengisi pengajian, ceramah dan tetap mengajar ilmu agama kepada warga di sekitar rumahnya.
Karenanya, di kampung Tidung terdapat asjid Ar-Raudha. Ini menjadi peninggalan Abdullah Dg Sirua yang dijadikan sebagai pusat penghafal Alquran.
Kala ajal hendak menjemut, Abdullah menitip pesan kepada keturunannya. Dia meminta sumur yang ada saat ini agar dijaga. Begitu pula warisan berupa keris. Termasuk rutin menggelar pengajian di rumah yang telah ditinggalkannya.
Yang lebih penting lagi, Abdullah mengamanahkan pula agar Kampung Tidung tetap dilestarikan. Karenanya, di salah satu ujung jalan di Tidung Mariolo terdapat sebuah tugu. Di situ tertulis, Salamaki Battumae Rikampong Bersejarah Tidung Mariolo Markas Pejuang 45. (ita/rus)

Exit mobile version