PINRANG, BKM — Minggu pagi (11/11). Kira-kira pukul 09.00 Wita. Di Kampung Ujung, Kelurahan Tiroang, Kabupaten Pinrang.
Sembilang orang tengah berada di areal persawahan. Dua orang berhadap-harapan dengan tujuh orang lainnya. Mereka terlibat pembicaraan serius, yang berujung pada pertikaian.
Pihak pertama adalah lelaki Nasir alias La Kiku. Berusia 50 tahun. Warga Dusun Padang, Desa Paddaloang, Kecamatan Patampanua.
Satu rekannya adalah H Massi. Kakek usia 60 tahun ini berprofesi sebagai petani. Warga Dusun Padang, Desa Padalloang.
Sementara pihak kedua, masing-masing H Puang Lambulang, petani asal Kelurahan Maccarinna, Kecamatan Patampanua. Ia ditemani dua orang, yakni P Lobi (45), beralamat di Desa Malimpung, Kecamatan Patampanua. Serta Puang Tale (47), berdomisili di Kampung Ujung, Kelurahan Tonrosaddang, Kecamatan Tiroang, Pinrang. Ada pula empat lain yang belum diketahui identitasnya.
Pada suatu titik pertengkaran mereka, kedua pihak yang saling berhadap-hadapan ini tak mampu lagi menahan diri. Baku serang pun terjadi.
Nasir terkena tusukan sebilah parang pada bagian dadanya. Dia pun meregang nyawa di lokasi kejadian akibat kehabisan darah.
Di pihak lawan, H Puang Lambulang juga menemui ajal. Ia menderita luka menganga di bagian kepala, dada, dan punggung. Korban meninggal dalam perjalanan menuju Puskemas Kecamatan Tiroang.
Sementara H Massi, rekan Nasir juga menderita luka pada bagian tangannya. Hingga kemarin masih masih menjalani perawatan intensif di RSUD Lasinrang, Pinrang.
Dua orang yang menemani H Puang Lambulang saat kejadian, yakni Puang Lobi dan Puang Tale langsung melarikan diri usai kejadian. Mereka kini dalam pencarian aparat.
Duel maut yang berakhir dengan dua orang tewas ini, dipicu perebutan lahan seluar 1 hektare 20 are. Tanah sengketa ini berlokasi di Kampung Ujung, Kelurahan Tiroang, Pinrang.
Perselisihan kedua petani yang tewas ini bermula dari pihak H Massi bersengketa dengan korban H Puang Lambulang.
Nasrul alias Bagong (28), seorang saksi mata di lokasi kejadian, menurutkan sebelum peristiwa berdarah tersebut berlangsung, terlebih dahulu diawali dengan perang mulut. Kedua kubu saling klaim lahan persawahan yang disengketakan.
Sehari sebelumnya, Sabtu (10/11) sekitar pukul 10.00 Wita, kedua belah pihak sudah bertemu di lokasi. Berlanjut pada esok harinya, Minggu (11/11).
Dikatakan saksi, pada saat adu mulut, tidak ada kesepakatan sehingga emosi kedua pihak memuncak. Dalam keadaan marah, H Lambulang langsung mencabut dan berteriak; “Siapa-siapa saja yang dipikul pulang.”
Spontan ia langsung menebas Nasir dengan parang. Nasir sempat menangkisnya dan berbalik menyerang. Serangan balik itu membuat Lambulang terkapar tak berdaya.
Melihat H Lambulang tak lagi berkutik, rekannya langsung menyerang Nasir secara bersamaan. Meski sempat melakukan perlawanan, namun Nasir kewalahan menghadapi orang yang mengeroyoknya. Akhirnya, satu tusukan parang lolos menembus bagian dada Nasir hingga tersungkur dan tewas di TKP.
Di bagian lain, H Massi berhadapan dengan Puang Lobi. H Massi mengalami luka sabetan parang pada bagian tangan kirinya dan dilarikan ke RSU Tipe C Lasinrang.
Melihat lawannya sudah tak berkutik lagi, Puang Lobbi bersama temannya yang lain langsung meninggalkan TKP menuju Kampung Ujung Tiroang.
Kasat Reskrim Polres Pinrang AKP Suhardi yang dikonfirmasi, Minggu (11/11) membenarkan peristiwa tersebut. “Kasusnya sementara kami tangani,” ujarnya singkat.
Di lokasi kejadian, polisi tampak berjaga-jaga. Mereka mengantisipasi terjadinya bentrok susulan yang dikhawatirkan datang dari kedua kubu. (ady/rus/b)
Saling Tebas Rebutan Sawah, Dua Tewas
