Site icon Berita Kota Makassar

Buka Sanggar Seni Lukis Untuk Anak Tidak Mampu

BELAKANGAN ini, seni melukis dinding atau biasa disebut mural yang sedang ditekuni Lukman Maulana (30) sedang digandrungi banyak kalangan. Tren bisnis ini pun mulai mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir, khususnya para pelaku bisnis yang ingin tempat usahanya tampak indah karena lukisan.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Awalnya, lukis di dinding hanya merupakan hobi Lukman, kini hobi itu menjadi sebuah bisnis. Dari penghasilannyapun kini, Lukman telah membuka sangar seni lukis yang dapat dijumpai di Jalan Hertasning. Lukman juga membuka sanggar seni untuk mahasiswa dan anak-anak yang kurang mampu hanya ia buka hanya bermodalkan Rp1 juta.
“Ada sekitar 26 orang kalau tidak salah sekarang muridnya, dan itu saya gratiskan jika anak-anak yang kurang mampu tapi syaratnya itu memang memiliki minat besar didunia lukis. kalau peralatan lukis itu saya sisipkan dari penghasilan saya dapat, sama biasanya ada bantuan atau dana didapatkan,” ungkapnya saat ditemui di Makassar, kemarin.
Menurutnya apa yang Lukman dapatkan sekarang ini, dimana setiap penghasilan lukis dinding yang diperoleh. Ia selalu menyisipkan penghasilannya itu sanggar seninya, yang menurutnya memang diperuntukkan untuk anak-anak yang mencintai dunia lukis tapi tidak memiliki wadah untuk menyalurkannya, tidak jarang hasil lukis muridnya ia pajang disetiap pemeran seni lukis.
“Jadi disamping penghasilan yang saya dapat biasanya itu ada bantuan yang datang dari siapa saja yang ingin membantu. Tapi kebanyakkan itu hasi karya yang menurut saya itu pantas diikutkan dalam pameran, kita ikutkan dan biasanya itu ada beberapa yang terjual, hasil itu biasanya kita gunakan untuk tambahan peralatan dan bahan,” jelasnya.
Sebab diakui Lukman bahwa, untuk memenuhi bahan warna yang digunakan untuk pekerjaanya dan sanggar seninya sangatlah sulit didapatkan. Apalagi diketahui masing-masing pelukis memiliki ciri khas tersendiri, itu yang menjadi kreativitasnya menghasilkan produk unik dan berkualitas serta menjadi pembeda dari pelukis lainya.
“Pasti itu mba, karena tiap pelukis itu beda karakter lukisannya. Karena sda harga, ada kualitas dan ini berlaku dalam bisnis seni mural. Jadi tiap harga memiliki daya tahan yang tak sama, tergantung bahan yang digunakan makanya beda-beda ki harganya,” bebernya.
Selain itu, Lukman juga mengaku, untuk bisnis lukisannya memiliki berbagai macam karakter dan motif tulisan, wajah realis, kartun, bahkan karikatur. “Jadi kita melukis karakter yang akan dibuat langsung di dinding, baju dan kertas itu menggunakan pewarna beda-beda, tapi pewarnanya juga sulit untuk didapat butuh waktu sebulan untuk mendapatkannya,” akunya.
Tapi dari bisnisnya ini Lukman sudah mencapai beberapa titik kepuasan, belum lagi bisa menghasilkan keuntungan yang fantastis hingga Rp 30 juta per bulan. “Alhamdulillah, saat ini saya menghasilkan lebih dari yang saya sangka. Modal awal sudah kembali dan keuntungannya bisa membantu keluarga dan orang lain,” ujarnya.
Ide membuka bisnis kreatif ini muncul dari keinginannya sejak duduk di bangku kuliah.
“Suka saja sama menggambar, melukis. Karena saya memang dominan itu lukis-lukis mural yang kayak di dinding cafe, rumah, hotel, masjid dan hampir semua itu saya kerjakan. Kalau seni lukis itu sejak dulu saya suka, dulu kalau di bangku sekolah itu sering lukis-lukis kartun. Masuk kuliah ambil jurusan seni di Makassar,” ungkapnya.
Alumni mahasiswa seni Universitas Negeri Makassar ini juga mengaku, seni lukis itu saat ini menjadi trend anak muda. Apalagi kata Lukaman (30), jika suatu seni itu tidak akan ada matinya, malah ia mengumpamakan jika seni itu ada dalam rumah atau tempat usaha maka menurutnya akan menghidupkan suasana ditempat terse but. Olehnya itu, ia lebih memilih mengembangkan bisnis kreatifnya itu dibidang lukis.
“Kalau usaha seni itu tidak ada matinya mba, malah seni ini akan terus berkembang. Coba kita perhatikan saja jika didalam rumah atau cafe itu tampilan rumahnya atau cafenya itu biasa-biasa saja pasti sedikit yang betah tinggal didalamnya karena tidak ada seni didalamnya. Makanya kenapa saya bilang bisnis begini tidak ada matinya, dan hampir kita bilang ruginya itu cuman 10 persen saja,” tuturnya.
Kini melalui keahliannya melukis, Lukman juga disibukkan selain panggilan melukis. Ia juga banyak terjun mengajarkan seni rupa dan seni lukis dengan membuka setiap tahun kelas melukis di Makassar. Bahkan Lukman sedangkan mengembangkan menggunakan baju kaos lukis yang saat ini menjadi stylist anak muda kekinian.
Melalui jasa lukis panggilan biasanya Lukman menerima panggilan kerjaan setiap bulan empat-lima kali. Sebab untuk jasa lukis dinding saja, Lukman habiskan waktu sekitar seminggu untuk menyelesaikan satu lukis dinding disatu tempat. Tidak tanggung-tanggung jasa bisnis lukis dinding ini, Lukman dapatkan upah sedikitnya Rp 15 Juta lebih satu kali lukis.
“Lumayan sih dapatnya biasanya Rp15 juta keatas. Biasanya kalau tidak terlalu sulit saya kerja ji sendiri, tapi kalau biasanya full sekali dinding yang mau dilukis baru detail sekali saya biasanya panggil teman. Karena kalau selesaikan satu lukis itu ada juga deadlinenya biasanya konsumen itu mau seminggu paling cepat biasanya itu lima hari kalau dinding, kalau kaligrafi itu seminggu lah,” katanya. (ita)

Exit mobile version