Site icon Berita Kota Makassar

Mulai dari Staf Hingga Wali Kota Menggunakan Jasanya

BERBAJU coklat dan bercelana panjang hitam. Pakaian lusuh yang kerap ia kenakan mengais rezeki. Membawa tas berwarna coklat, didalamnya ada beberapa bahan semir sepatu dan sikat untuk menyemir. Dialah Kiki wanita penyemir sepatu di Kantor Balai Kota Makassar.

LAPORAN: NUGROHO

Di Kantor Balai Kota, hampir semua pegawai negeri maupun honorer mengenal Kiki. Kiki sudah puluhan tahun mencari rezeki di kantor tersebut, dan bahkan sudah berapa wali kota berganti, Kiki tetap bertahan.
Kepada penulis, Kiki mengaku tetap ingin melakoni tukang semir sepatu hingga tua nanti.
Usianya yang masih sangat muda, masih 19 tahun, tetapi dirinya harus menanggung biaya hidupnya sendiri. Terik panasnya matahari, derasnya guyuran hujan telah ia rasakan bertahun-tahun demi bertahan hidup.
Wanita asal Sinjai ini memulai harinya dengan berangkat dari rumah kakaknya di Jalan Abdul Kadir, Makassar ke Balai Kota. Ya, ia tinggal bersama kakak tirinya beserta suami kakaknya di sebuah rumah kontrakan di salah satu sudut Jalan Abdul Kadir.
Dari rumah itu ia berangkat tepat pukul 8.00 pagi menggunakan pete-pete. Tujuan utamanya Balai Kota Makassar. Walaupun tempatnya mencari nafkah bukan hanya di Balai Kota saja.
“Saya keliling ka, biasanya kalau dari sini ma, terus ke Polrestabes, BRI, Warkop Poenam, Pelabuhan, Kantor Pos. Keliling-keliling sekitar sini jalan kaki,” katanya.
Walaupun lelah mencari pelanggan dengan berjalan kaki, Kiki tetap saja tampak ceria. Seperti saat diwawancara oleh BKM, tak sedikitpun raut lelah maupun sedih akan hidupnya. Mulai menawari satu persatu pegawai di Balai Kota, dari staff biasa hingga walikota pernah menggunakan jasanya.
Kiki juga membawa sebuah kantong plastik hitam yang didalamnya terdapat sepasang sandal jepit. Sandal itu ia gunakan untuk para pelanggannya. Jika ia sedang menyemir sepatu pelanggannya, ia meminjamkan sandal tersebut untuk dipakai pelanggannya teraebut.
“Kalau lagi saya semir kan na lepas ki sepatunya, jadi saya kasih dulu ini sandal. Biar pak wali juga begitu ji, saya kasih juga dulu ini sandal, baru saya semirkan sepatunya,” katanya.
Tarif yang dipasangpun berbeda-beda. Untuk sepatu biasa ia pasang tarif sebesar Rp10 ribu. Jika sepatu laras dipasang Rp15 ribu. Kalau sandal, Rp5 ribu.
Dalam sehari, Kiki mendapat keuntungan sekitar Rp100 ribu perhari. Itu jika cuaca cerah, karena ia bisa bebas kemana-mana. Namun jika sedang hujan, penghasilannya hanya Rp30 ribu saja perhari, bahkan dikatakannya, pernah beberapa kali ia bahkan tak mendapat penghasilan sama sekali dalam sehari.
Jika telah usai, saat tepat pukul 17.00, ia pun kembali ke rumahnya. Kembali harus menggunakan pete-pete untuk pulang. Sesampainya dirumah, ia pun hanya tinggal beristirahat untuk menyiapkan tenaganya kembali keesokan harinya.(nug/b)

Exit mobile version