Site icon Berita Kota Makassar

Kadisdik Gowa Perkenalkan Pola Pendidikan Berkarakter di Seminar Nasional

GOWA, BKM — Kadis Pendidikan Kabupaten Gowa Dr Salam MPd, mengenalkan pola pendidikan berkarakter yang selama ini telah diterapkan Pemerintah Kabupaten Gowa kepada ratusan peserta seminar nasional Bahasa dan Sastra Indonesia yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Dewan Mahasiswa Jurusan Bahasa Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (Himaprodi PBSI Dema JBSI FBS UNM) di Ball Room lantai 2 Menara Phinisi Universitas Negeri Makassar (UNM), Sabtu (17/11/2018) pagi.

Dalam seminar nasional yang menampilkan tiga pembicara utama diantaranya Kadis Pendidikan Gowa Dr Salam MPd yang juga adalah dosen Fakultas Bahasa dan Sastra UNM ini diikuti sekira 500-an peserta mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra baik S1, S2 maupun S3 dari berbagai universitas di Indonesia.

Kadis Pendidikan Gowa Dr Salam MPd dalam menyajikan materi dengan topik ‘Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter, Pendidikan dan Tenaga Kependidikan’ ini mendapat aplaus dari para peserta lantaran materi yang disampaikan dosen FBS UNM ini cukup mengena dan langsung membuat paham peserta termasuk dua guru besar yang juga sebagai pemateri utama yakni Prof Dr Imam Suyitno MPd (guru besar Fakultas Sastra UN Malang) dan Prof Dr Suminto A Sayuti (guru besar Fakultas Bahasa dan Seni dan Pasacsarjana UN Jogyakarta).

Dr Salam mengatakan belajar bahasa itu adalah kebutuhan pokok dan manusia memiliki potensi untuk belajar. Bahasa tidak hanya sebatas sebagai sarana komunikasi antar manusia tapi juga membentuk ide dan kreatifitas yang melahirkan karakter seorang manusia.

Hal penting yang menjadi inti dari suksesnya pembelajaran adalah memiliki guru yang menganut empat poin dasar yakni komitmen, visioner, kompeten dan kerja keras.

“Sekolah harus dijadikan taman belajar yang menyenangkan bagi anak didik. Begitu pula dengan bahasa dan sastra yang kita miliki. Harus diajarkan ke anak didik dengan pola pengajaran yang baik sehingga anak didik mampu menerima dan memahami pelajaran yang diterimanya,” jelas Dr Salam dihadapan peserta seminar yang turut dihadiri Dr Abd Halim, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FBS UNM.

Budaya dalam kehidupan bermasyarakat sangat gampang namun susah diterapkan. Pasalnya kata Dr Salam, seorang guru kadang mengajar tanpa etika dan tanpa senyum serta bahasa yang digunakan sangat kasar.

Akhirnya anak didik menjadi jenuh dan berimbas pada minat menerapkan perilaku, budaya dan bahasa yang baik. Dr Salam juga mengatakan ada tiga hal penting lainnya yang harus dianut mahasiswa calon guru bahasa dan sastra yakni karakter, kompetensi dan literasi.

Seminar nasional Bahasa dan Sastra Indonesia 2018 yang mengangkat tema Bahasa dan Sastra Indonesia Responsif Budaya untuk Penguatan Karakter Bangsa di Era Industri 4.0 dan dipandu moderator Dr Usman SPd MPd (dosen FBS UNM) ini mendapat apresiasi besar dari Kepala Balitbang Provinsi Sulsel Muh Iqbal Suaib. Iqbal yang hadir mewakili Gubernur Sulsel ini mengatakan kondisi sastra di Indonesia saat ini adalah sarat sastra cyber.

“Tentu saja saat ini kita jadi gamang membahas sastra. Ada beberapa mitos kenapa sastra dihindari dan tidak diminati anak-anak saat ini yakni karena sastra tidak maco, cengeng, lebay. Mitos lain bahwa sastra itu isinya melulu tentang petuah-petuah, nasehat dan pedoman-pedoman hidup padahal sebenarnya sastra tidak demikian,” jelas Iqbal.

Pada prinsipnya kata Iqbal, Pemprov Sulsel sangat bangga dengan kegiatan ini apalagi ada 75 orang yang menyumbangkan makalahx untuk seminar nasional ini.

“Di Indonesia masyarakat kita masih kurang kuat mempertahankan budayanya. Kesan malu dan udik masih mendominasi. Contonhya, sangat kurang kita temukan ibu-ibu rumah tangga maupun yang berkarier mau mengenakan busana kebaya atau baju adatnya ke mana-mana. Paling hanya bisa kita temukan mereka berbusana kebaya itu ketika ada pesta kawinan. Sementara ibu-ibu di Jepang yang berjalan setiap hari dengan segala aktivitasnya mereka masih tetap mempertahankan budaya Jepang yakni mengenakan kimono. Wanita India juga begitu, meski kuliah atau bekerja di negara Amerika, mereka tetap mengenakan kain sari. Sama halnya dengan bahasa mereka. Kalau di Indonesia kadang bahasa sastra dikesampingkan namun lebih marak menggunakan bahasa-bahasa gaul yang sama sekali belum terdapat dalam kamus,” jelas Iqbal.

Karena itu tambah Iqbal, Pemprov senantiasa terus mendorong pengembangan bahasa dan sastra. Salah satu bentuk dukungannya yakni menyiapkan beasiswa guru-guru dan dosen-dosen bidang sastra. Sayangnya minat ini masih sangat kurang.

“Kami yakin UNM sebagai universitas yang sudah cukup lama dalam mendidik guru-guru khususnya guru bahasa sastra bisa eksis mengembangkan bahasa dan sastra kita lebih baik lagi,” jelasnya.

Terpisah Ketua Panitia Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia Febriana mengatakan seminar yang digelar Himaprodi PBSI FBS UNM ini dimaksudkan untuk memberikan wadah bagi para mahasiswa untuk sharing pemikiran dan pendapatnya tentang bahasa dan sastra Indonesia yang perlu dikembangkan lebih baik.

“Seminar ini diikuti sekira 500 orang peserta terdiri dari mahasiswa S1, S2 hingga S3 yang melakukan penelitian dan penulisan ilmiah tentang bahasa dan sastra ini. Pesertanya ada dari Jakarta, Malang, Bandung, Majalengka, Flores, Palu, Makassar, Bulukumba, Maros dan Bone. Jadi dalam seminar ini mereka diajak untuk berkontribusi membahas sastra dalam pendidikan karakter,” kata Febriana, mahasiswi FBS UNM.

Sementara itu, Kadis Pendidikan Sulsel diwakili Kabag Widyaswara, Dr A Budiarman MPd mengatakan salut atas kerja Himaprodi PBSI yang mampu menggelar seminar dan mendatangkan dua pakar bahasa dan sastra dari luar Sulawesi. (saribulan)

Exit mobile version