MAKASSAR, BKM–Enam partai politik (parpol) peraih suara terbanyak pada pemilu legislatif (pileg) 14 April 2014 lalu posisinya dipastikan berubah.
Keenam parpol tersebut yakni Partai Golkar, Demokrat, Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Nasdem dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) akan berebut mendapatkan kursi pimpinan DPRD Sulsel.
Dua parpol dikabarkan akan mengalami penurunan suara dan kursi yakni Golkar dan PAN, sementara empat parpol lainnya yakni Gerindra, Demokrat, Nasdem dan PPP akan mengalami kenaikan kursi maupun suara.
Kepercayaan diri PPP untuk merebut posisi pimpinan DPRD Sulsel berdasar pada hasil riset dan militansi kader serta komposisi caleg PPP. Dibandingkan pemilu sebelumnya, komposisi caleg PPP di pemilu kali ini memang memiliki daya jual yang cukup tinggi. “Jika mendapatkan 8 hingga 10 persen suara di DPRD Provinsi Sulsel itu bukan sesuatu yang berat bagi PPP tahun depan. Analisa kami ada empat partai yang berpotensi mendapatkan posisi pimpinan di provinsi yakni Gerindra, Demokrat, Nasdem dan PPP,”ujar Wakil Ketua Umum DPP PPP, Amir Uskara di Warkop Sija Mall Panakkukang, Selasa (20/11).
Menurut Amir yang juga anggota Komisi II DPR RI ini, ada sejumlah strategi yang ditempuh partai berlambang kakbah ini dalam meningkatkan elektoral tanpa harus ikut-ikutan merubah azas partai dari islam menjadi nasionalis.
Dalam diskusi bertema Membedah Perjuangan Politik PPP itu, Amir membeberkan sejumlah strategi yang massif dilakukan adalah memperkenal produk-produk perjuangan politik PPP ke masyarakat luas dan menjadikan PPP menjadi partai ‘sarungan’ bernuansa milenial. “Makanya di PPP, kader diwajibkan tampil dengan gaya milenial tapi pemikiran harus tetap sarungan. Kita juga banyak merekrut caleg-caleg muda yang akrab dengan kaum milenial. Komposisi caleg-caleg inilah yang membuat kita semakin percaya diri bahwa salah satu kursi pimpinan DPRD nantinya akan menjadi milik PPP,”jelas Amir yang juga Sekretaris Fraksi PPP DPR RI ini.
Mantan ketua DPW PPP Sulsel ini mengemukakan bila partainya telah banyak menginisiasi lahirnya Undang-undang yang pro kepentingan umat Islam. Tak banyak yang tahu bahwa perjuangan PPP di Senayan senantiasi berada di jalan sepi lagi terjal.
Amir mengungkapkan beratnya tantangan yang senantiasa dihadapi PPP dalam memperjuangan kepentingan umat Islam di parlemen. Sulit bagi PPP mendapatkan kawan seperjuangan dalam menyuarakan kepentingan umat. PPP justru terpaksa sering berjuang sendirian.
RUU tentang Miras misalnya, sudah genap 4 tahun diperjuangkan PPP namun tak jua gol masuk ke tahap rapat paripurna. Bahkan RUU tentang Pondok Pesantren dan Pendidikan Keagamaan yang telah diperjuangkan 2 tahun lamanya hampir saja mental di parlemen andai PPP gagal melobi agar program tersebut masuk dalam visi misi pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden RI, Joko Widodo-Ma’ruf Amin. “Karena memang kami minoritas di Senayan. Kursi kami hanya 39 dari total 560 kursi DPR. Tapi meski kecil, kami dikenal fraksi yang ngotot kalau sudah menyangkut memperjuangkan kepentingan umat Islam dalam kerangka rahmatan lil alamin,”ujar mantan Ketua Fraksi PPP DPRD Sulsel ini.
Produk-produk Undang-undang yang lahir murni dari rahim PPP sudah teramat banyak. Diantaranya yang populer diketahui masyarakat luas adalah UU tentang Perkawinan, UU tentang Anti Pornografi dan Pornoaksi, UU tentang KPK, UU tentang Alokasi Pendidikan 20%, dan UU tentang Penyelenggaraan Haji dan Umrah.
Pengamat Politik dari Unhas Dr Sawedi Muhammad mengeku khawatir jika umat Islam yang notabene pemilih mayoritas akan kehilangan hak-haknya bila PPP gagal memenuhi parliamentary threshold atau ambang batas parlemen sebesar 4 persen. “Bisa disimpulkan bahwa PPP adalah benteng terakhir umat Islam. Kalau sudah tidak ada PPP di parlemen, siapa lagi yang akan memperjuangkan aspirasi umat Islam. Sementara partai-partai Islam yang lain jelas sulit melewati PT 4 persen. Cuma PPP yang punya peluang lolos PT 4 persen,” kata Sawedi.
Hal senada dikemukakan pengamat politik Dr Arief Wicaksono yang menilai jika PPP bakal menjadi satu-satunya partai Islam yang lolos PT 4 persen. “Karena PPP memiliki mesin yang senantiasa terawat dengan baik dan kader-kader yang militan. Apalagi ditambah dengan tokoh-tokoh kunci di tiga provinsi basis PPP yakni Jabar, Jateng dan Jatim. Sisa memaksimalkan kerja agar potensi 80 persen penduduk Indonesia yang notabene umat Islam itu mayoritas memilih PPP sebagai patron perjuangannya,”pungkas Dekan FISIP Universitas Bosowa ini.
Terkait adanya prediksi jika perolehan suara Golkar akan turun di pileg mendatang bahkan berpeluang tidak mendapatkan posisi pimpinan dewan akhirnya mendapat tanggapan dari wakil ketua DPD I Golkar Sulsel Muhamad Risman Pasigai. Risman menilai bahwa terlalu dini kalau menyimpulkan hasil oileg , sementara partai masih bekerja untuk mencapai target masing-masing (rif)
PPP Diyakini Geser Posisi Golkar dan PAN
