Site icon Berita Kota Makassar

None: Ini Fatal, Kepsek akan Dibina

MAKASSAR, BKM — Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel menurunkan tim untuk melakukan penelusuran terkait kasus keracunan yang menimpa siswa boarding school SMA 17, Makassar. Tim saat ini tengah bekerja mengumpulkan data serta informasi.
Kadisdik Sulsel Irman Yasin Limpo membenarkan hal itu ketika dikonfirmasi, Kamis (22/11). Dari hasil pemeriksaan sementara, kata dia, diketahui jika pemilik katering yang mensuplai makanan untuk siswa adalah Herman Hafid Nassa. Ia diketahui sebagai aktifis salah satu LSM.
Namun, informasi yang diperoleh, Herman mengelak jika kasus ini disebut keracunan massal. “Dia mengelak. Hanya tiga orangji bede,” cetus None.
Hal itu bertentangan dengan data yang diperoleh BKM dari internal SMAN 17 Makassar. Sedikitnya ada 12 orang yang menjadi korban. Itu di luar korban yang dirawat di RS Ujung Pandang Baru.
Beberapa nama siswa yang keracunan, di antaranya Novianti, M Fadel Fikran, Muh Shobur Fattah, Rif Rahman, M Ihsan Shiddiq, Alisyah Izmi, Tsabita, Resya Alya, Muh Raihan, Anugrah Hader, Langlang, Joyce Evelyn, dan Afig.
None menyebut, selama ini sudah banyak persoalan yang muncul di SMA 17 Makassar. Sebelum kasus keracunan makanan mencuat, ada kasus penganiayaaan guru bernama Suriana Bando. Termasuk terjadinya kesalahan pada pendataan guru honorer.
“Kita gerak cepat. Disdik sudah turunkan tim pemeriksa ke SMA 17. Kita lagi periksa, apakah (penunjukan katering) sudah sesuai prosedur,” ujarnya.
None sangat menyesalkan pihak sekolah yang tidak melaporkan apa pun terkait kasus keracunan siswanya. Padahal, kejadiannya pekan lalu.
“Satu pelanggaran utama manajemen sekolah, yaitu tidak melaporkan. Itu fatal. Saya pastikan akan membina kepala sekolahnya,” tegas Irman.
Disdik juga bakal mengkaji apakah penunjukan pihak ketiga sudah sesuai standar aturan. “Harus ada laporan ke dinas. Kita periksa dulu,” imbuh Irman.
Dia meminta, tim yang telah diturunkan untuk memberikan hasil pemeriksaan sementara pada hari ini, Jumat (23/11). Apabila hasilnya betul-betul mengganggu sekolah, ASN yang bersoal di sana bakal ditarik ke dinas.
“Kita lakukan pembinaan agar tidak berulang masalahnya. Kita nonaktifkan dulu kalau memang tidak sesuai prosedur,” tandasnya.
Menurut dia, kalau pun sekolah mesti menunjuk katering, kualifikasinya jelas. Karenanya, None terkejut saat mendapat laporan jika katering untuk siswa itu dikelola aktivis LSM.
“Saya tahunya sekolah (yang kelola). Kalau betul menunjuk LSM, itu salah prosedur,” ujar mantan Kepala Disperindag Sulsel itu.
Informasi lain yang diperoleh, selama ini, para siswa boarding school diberi makan rantangan oleh catering milik Herman yang bernama Katering Melda. “Barupi dua hari prasmanan,” ungkap sumber BKM.
Kamis sore (22/11) sekitar pukul 17.00 Wita, None datang langsung ke SMAN 17. Kepada wartawan, dia menegaskan bahwa tim yang diturunkan sementara ini mencari kebenaran informasi. Setelah itu mengolah informasi dan melaporkannya.
”Ada tiga anggota masuk dalam tim. Semuanya dari Disdik Sulsel. Hasil temuannya dilaporkan ke saya, untuk diteruskan Pak Gubernur sebagai bahan guna diambil tindak lanjut,” kata Irman.
Sejauh ini, tambahnya, belum ada sanksi yang dapat diberikan kepada pihak sekolah. Masih menunggu hasil pemeriksaan di laboratorium. Namun dapat dipastikan, jika memang benar siswa-siswi SMAN 17 Makassar yang jumlahnya sebanyak 18 orang dilarikan ke rumah sakit karena keracunan makanan, maka akan ada dimbil langkah slanjutnya.
“Kalau hasil pemeriksaan ada hal yang memang harus ditindak lanjuti maka kami meminta semua pihak untuk fokus bertanggung jawab. Dan kalau sudah tidak bisa ditangani pihak dalam, kami akan libatkan pihak luar,” tambahnya.
Sejauh ini, Disdik Sulsel telah meminta kepada pihak dari sekolah untuk menghentikan sementara pemesanan makanan catering sembari menunggu hasil pemeriksaan.
“Paling penting makanan setelah ini harus benar-benar bersih. Ingat, ada 150 yang tinggal, tapi yang keracunan 18. Ini yang harus diurai dulu apakah karena tempatnya, karena lingkungan, ataukah karena makananya. Harus dicari tahu pastinya,” tegasnya.
None berharap, selama dalam proses pemeriksaan oleh tim, siswa boarding school terbuka. Dia pun memberikan jaminan mereka tetap akan berada dalam sekolah.
“Saya mau anak-anak terbuka. Saya jami tidak terjadi apa-apa,” tandasnya.

Pergantian Pengurus Asrama

Siswa yang mengalami keracunan pada Jumat (16/11) lalu, kembali mengikuti proses belajar mengajar. Meski begitu, kekecewaan tak bisa disembunyikan terkait pengelolaan makanan yang diperuntukkan bagi mereka.
Salah seorang siswi mengakui dirinya telah dirawat sejak Jumat lalu hingga Senin (19/11) di Rumah Sakit Awal Bross, Makassar. Ia mengalami kejadian tersebut usai mengonsumsi makanan katering yang diberikan pengurus asrama.
“Pas sudah makan nasi goreng katering yang dikasihkanki, langsung lemas, sakit kepala, terus muntah-muntah. Sudah itu dibawa ke rumah sakit, diopname,” tuturnya, Rabu (21/11).
Ia mencurigai makanan itulah penyebabnya. Karena pada saat yang bersamaan, ada belasan temannya juga menderita hal yang sama. Namun ada yang hanya dirawat jalan. Ada pula yang sampai dirawat inap seperti dirinya.
Korban lainnya yang hanya mendapat rawat jalan mengatakan, jika dirinya juga mencurigai makanan kateringlah yang menjadi penyebabnya.
Sebab sebelumnya tak pernah ada kejadian serupa. Hal tersebut berlangsung setelah adanya pergantian kepengurusan asrama.
Dia menambahkan, saat kepengurusan sebelumnya, makanan untuk para siswa boarding disajikan dalam bentuk prasmanan. Jadi siswa bisa memilih sendiri makanan yang ingin dikonsumsi. Sementara setelah kepengurusannya diganti, makanan diberikan secara langsung.
“Sejak pergantian kepengurusan memang tidak prasmanan lagi. Dan semenjak katering ini baru ada kejadian begini. Tapi setelah kejadian ini, selanjutnya berubah lagi sekarang jadi prasmanan. Kita juga memang sukanya prasmanan. Tidak seperti kemarin,” cetus siswa tersebut. (rhm-nug-arf/rus/c)

Exit mobile version