Site icon Berita Kota Makassar

Jokowi-Ma’ruf Belum Sisir Kampung JK

MAKASSAR, BKM–Sejak penetapan pasangan calon presiden dan wakil presiden dua bulan lalu, partai politik dituntut untuk terus mensosialisasikan usungannya. Selain kerja kerja partai politik, calon presiden dan wakil presiden juga harus intes turun kelapangan menemui pendukungnya. Seperti yang sudah dilakukan calon wakil Presiden nomor urut 2, Sandiaga Uno yang sudah dua kali mengunjungi Sulsel.
Pertama kali, saat Agustus 2018. Setelah itu, kunjungan keduanya saat berkeliling Pulau Sulawesi awal November 2018 ini.
Sementara calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin belum ke Sulsel yang selama ini menjadi kampung halaman Wakil Presiden Jusukf Kalla.
Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma’ruf, Syamsul Bachri mengakui saat ini capres Jokowi belum punya agenda untuk sosialisasi di Sulsel. Menurutnya, orang nomot satu RI masih sibuk agenda kenegaraan. Sedangkan Cawapres fokus agenda di luar Jawa dan sekitar. “Saat ini pak Jokowi masih fokus agenda kenegaraan. Belum ada agenda sosialisasi di Sulsel,” ujanya.
Oleh sebab itu, kata dia. Saat ini tim Jokowi-ma’ruf dan partai pengusung bekerja di Sulsel. Hal ini dilakukan, mengingat dibantu oleh sejumlah tim dan relawan. “Kita juga kerjasa sama semua partai pengusung. Dibantu tim relawan sudah bekerja sosialisasi,” tuturnya.
Sementara itu, tim Prabowo-Sandi di Sulsel, yakni Rusdin Tabi mengemukakan bila sudah beberapa kali Sandi menyambangi Sulsel untuk bertemu relawan dan masyarakat.
Sedangkan Capres Prabowo belum memiliki agenda kampanye di Sulsel, namun sudah di jadwalkan Prabowo akan berkunjung sekaligus kampanye pada bulan Januari 2019 mendatang.
Menurut Rusdin, ada tiga daerah yang menjadi tujuan Prabowo nanti. Bahkan kunjungan nanri ditemani sejumlah penguris DPP partai koalisi. “Kami juga telah membahas tiga titik lokasi kabupaten Kota yang dijadikan lokasi kampanye pak Prabowo Januari mendatang. Tiga titik kemungkinan Makassar, Sidrap dan Bone,”jelas Rusdin yang juga Sekretaris DPD Gerindra Sulsel itu.
Dosen sosialogi politik Unhas Makassar, Sawedi Muhammad mengatakan, basis Jokowi akan terganggu, namun tidak terlalu besar.
Menurutnya, hanya persoalan waktu sehingga Jokowi atau Ma’ruf Amin belum sempat mengunjungi Sulsel. Dikaremakan faktor lain. “Saya kira ini menyangkut persoalan waktu dan prioritas saja,” ujarnya.
Sementara itu, dukungan dua lintas pada pemilihan Presiden pada 2019 mendatang, akan mengalirkan ikatan dan ketertarikan dukungan pada capres dan cawapres.
Dosen politik dari Unismuh Makassar Andi Luhur Priyanto, menjelaskan bahwa dukungan partai politik di Pilpres, bisa di sederhanakan di dua lintasan, lintasan utama dan lintasan satelit (pinggiran). Lintasan pertama adalah partai politik yang memiliki ikatan dan keterkaitan langsung dengan calon presiden dan calon wakil presiden. Sedangkan di lintasan satelit adalah partai politik pendukung pinggiran, yang tidak memiliki ikatan langsung dengan calon presiden maupun calon wakil presiden. “Partai politik pendukung di lintasan satelit atau pendukung pinggiran memang tidak banyak mendapat insentif elektoral, dari sikap dukungan nya pada Capres/Cawapres. Terutama karena sikap dukungan itu juga, berbasis pragmatisme transaksional serta lebih pada akomodasi aspirasi elit yang bukan untuk tujuan pasca Pemilu 2019. Ikatan dukungan mereka memang serba pragmatis,” ungkapnya saat dikonfirmasi, baru-baru ini.
Luhur menegaskan bahwa memang ada pengaruh elektoral bagi partai, dari pilihan dukungan nya di Pilpres. Tetapi Syaratnya adalah Capres atau Cawapres yang di usung harus memiliki ikatan dan kedekatan dengan partai politik atau pendukung lingkaran inti. “Kalau tidak ada keterkaitan, maka tidak akan banyak pula manfaat suara yang bisa diperoleh dari kandidasi Pilpres,”ucapnya.
Maka dari itu menurutnya partai pengusung utama (primer) akan lebih di untungkan terutama dari aspek keserentakan pemilihan. Partai-partai itu lebih mudah mensosialisasikan partai dan caleg di Pileg. Sedangkan koalisi pendukung sekunder hanya bisa memanfaatkan sisa dukungan yang ada. “Pada situasi seperti itu, wajar saja kalau hanya PDIP dan Gerindra yang memperoleh keuntungan elektoral terbesar,” ujarnya.
Dia menambahkan beberapa waktu ke depan, partai-partai pendukung sekunder seperti itu akan berdinamika dan pada akhirnya bermain safety, untuk fokus di kontestasi Pileg. Berati juga akan melupakan kontestasi Pilpres. Sikap main dua kaki oleh Golkar dan Demokrat, akan segera di ikuti oleh partai-partai lain. “Golkar dan Demokrat akan lebih realistis untuk menatap agenda pileg yang lebih jelas manfaatnya. Daripada tergabung pada koalisi, yang hanya untuk membesarkan kawan koalisi dan Pilpres dukungannya,”pungkas Luhur. (ita/rif)

Exit mobile version