BARRU, BKM– Di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Barru, Senin siang (26/11). Sesosok perempuan setengah baya terbaring lemah di atas tempat tidur. Beberapa orang ada tak jauh darinya.
Kondisi wanita tersebut cukup mengenaskan. Luka bakar terdapat hampir di sekujur tubuhnya.
Perempuan malang itu bernama Andi Umrah. Berusia 36 tahun. Ia jadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Pelaku adalah suaminya bernama Abd Arham. Berusia 44 tahun.
Korban disiram dengan menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite. Selanjutnya, pelaku menyulutnya dengan korek api. Umrah tak bisa menghindar. Tubuhnya pun terbakar.
Peristiwa berlangsung pukul 07.15 Wita, kemarin. Tepatnya di Kampung Pekkae, Kelurahan Lalolang, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru. Usai menganiaya istrinya, Arham melarikan diri dengan mengendarai sepeda motor.
Saat beraksi, kakak perempuan korban ada di sekitar tempat kejadian. Dia berusaha menghentikan pelaku. Namun, ia juga diancam hendak disiram Pertalite dan dibakar. Akibatnya, dia baru menolong saudaranya setelah pelaku pergi.
Awalnya, Umrah tak menyangka suaminya datang secara tiba-tiba lalu menyiramkan BBM ke tubuhnya. Pagi itu ia hendak mengantar anak ketiganya yang berusia sembilan tahun. Bocah perempuan ini bersekolah pada salah salah satu SD di Pekkae.
Ketika itu korban membungkuk untuk memasang sepatu Fatima. Namun tak disangka, Arham yang belakangan sudah pisah ranjang dengan dirinya, muncul dan langsung melakukan aksi penyiraman dan pembakaran.
Anak perempuan korban tak ikut tersiram dan terhindar dari aksi ayahnya, karena terlindungi oleh ibunya yang sedang bungkuk kala membantunya memasang sepatu.
Kakak kandung Andi Umrah bernama Andi Mustari, memberikan keterangan kepada BKM saat ditemui di RSUD Barru, kemarin. Menurut Mustari, adik bungsunya itu memang sudah lama hendak dihabis oleh suaminya. Bahkan pelaku telah beberapa kali melakukan pengancaman. Dan kali ini dia buktikan.
”Sebagai kakak kandung, saya tidak terima adik saya diperlakukan seperti ini. Korban ini adik bungsu saya. Sudah lama bermasalah dengan suaminya. Arham itu terlilit berbagai kasus. Termasuk kasus penggelapan dan utang piutang, sehingga banyak yang cari,” tutur Mustari yang memiliki tujuh orang saudara.
Sebelumnya, menurut Mustari, Arham pernah memboyong istrinya ke Palu dan beberapa wilayah lainnya demi menghindari permasalahan yang dihadapi. Sebagai kakak sulung, beberapa kali Mustari memberingatkan adik iparnya itu untuk tidak menambah masalah dan menyelesaikannya dengan baik-baik.
Diakui Mustari, Arham begitu pintar dan santun ketika berhadapan. Hanya saja, begitu mendengar banyak masalahnya, keluarga besarnya merasa ikut dipermalukan. Namun, mereka tidak pernah mencampuri urusan rumah tangga Umrah dan Arham.
”Saya minta aparat kepolisian segera menangkap pelaku. Perbuatannya sangat tidak manusiawi. Binatang saja tidak setega itu berbuat,” ketus Mustari dengan nada tinggi.
Pantauan BKM, saat korban dirawat di ruang UGD, beberapa sanak keluarga ikut mendampinginya. Tiga dari empat anak korban tampak menjaga ibu mereka.
Fatimah yang menyaksikan langsung penyiraman dan pembakaran ibunya yang dilakukan ayahnya sendiri, tidak pernah berhenti menangis. Ia terus menerus memanggil ibunya.
Beberapa kali Fatima histeris. Apalagi ketika petugas medis RSUD Barru merujuk korban ke RS Wahidin Sudirohusodo di Makassar. Sedangkan kakak Fatimah, Ian yang masih duduk di bangku SMA, lebih memilih diam. Ia tampak berusaha menahan rasa sakit menyaksikan kondisi luka bakar ibunya.
Sementaar si bungsu Resky yang baru berumur satu tahun, digendong oleh kerabatnya. Ia yang belum mengerti kejadian yang dialami kedua orang tuanya, hanya diam. Matanya sesekali menatap ke arah ibunya yang terbaring lemas dengan luka bakar di sekujur tubuhnya.
Anak pertama dari empat anak korban bernama Agung, tidak berada di Barru. Ia tengah berlayar, setelah selesai menjalani pendidikan pelayaran di Barombong.
Menurut dr Siriyanti, salah seorang dokter jaga di ruang UGD RSUD Barru, korban menderita luka bakar hampir di sekujur tubuhnya. Masing-masing di bagian punggung, dada, sebagian muka dan beberapa bagian lainnya.
“Korban kita rujuk ke RS Wahidin di Makassar untuk memperoleh penanganan medis yang lebih intensif. Di Wahidin bisa memperoleh perawatan khusus untuk luka bakar,” ujar dr Sriyanti, kemarin.
Kapolres Barru AKBP Burhaman melalui Kasubag Humas AKP Sainuddin, membenarkan adanya kejadian ini. Sainuddin menjelaskan, peristiwa ini bermula dari pertengkaran pasangan suami istri tersebut. Korban minta cerai karena suaminya memiliki banyak masalah. Termasuk adanya kasus penggelapan yang melibatkan pelaku.
Diperkirakan begitu banyak masalah yang dihadapi suaminya, sehingga istri minta cerai. Pelaku tidak terima, hingga memicu pertengkaran melalui WhatsApp (WA). Dan akhirnya berujung pada penganiayaan dengan penyiraman BBM dan korban terbakar.
“Masih dilakukan pengejaran terhadap pelaku. Identitas dan tempat tinggalnya sudah diketahui. Mudah-mudahan dalam waktu singkat pelaku bisa kita amankan, ” kata Sainuddin. (udi/rus/b)
Suami Bakar Istri di Depan Putrinya
