EMPAT tahun lalu, Hotel Claro Makassar yang dulunya bernama Hotel Grand Clarion membutuhkan seorang mengiring musik tradisional yang bisa menyambut para tamu mereka. Dicarilah orang yang dianggap bisa bermain alat musik kecapi dan sinrilik.
Laporan: NUGROHO
Informasi itu sampai di telinga Dg Palagu. Ia yang memang mahir dalam memainkan kedua alat musik ini, datang ke hotel dan memperlihatkan keahliannya. Dg Palagu pun tanpa keraguan langsung diterima.
Itulah sepenggal ceritanya mengapa ia bisa menjadi pengiring musik tradisional di Hotel Claro Makassar.
Tiap jam 10 pagi, Dg Palagu sudah harus berada di hotel untuk duduk bermain musik. Sesekali ia beristirahat, namun ketika ada tamu yang tiba-tiba datang, ia pun langsung mengambil alat musiknya lagi untuk dimainkan.
Hingga pukul 16.00, barulah Dg Palagu menyelesaikan pekerjaannya untuk pulang ke rumah menemui keluarganya. Hal ini ia lakukan tiap hari. Tentu selain memperkenalkan musik tradisional, hal ini dilakukannya juga demi menghidupi keluarga.
Berbagai lagu ia mainkan tiap harinya. Tentu semuanya adalah lagu tradisional Bugis maupun lagu Makassar. Dan ternyata, saat ia sedang memainkan sebuah lagu, kerap kali mendapat respon dari beberapa tamu.
Kebanyakan dari mereka tentu memuji permainannya, serta memuji lagu-lagu daerah Bugis-Makassar yang ia mainkan. Namun lucunya, ada saja biasa orang yang memesan khusus sebuah lagu untuk dimainkan oleh Dg Palagu. Dan lagu pesanan itu biasanya bukan lagu daerah.
“Alhamdulillah banyak yang suka. Biasa juga ada yang mau dimainkan khusus na pesan tamu, tapi biasa ndak ada hubungannya sama lagu daerah. Ada beberapa pelanggan maunya biasa lagu dangdut atau regge, lucu juga. Saya ya biasa bilang minta maaf ndak bisa dimainkan,” kata Dg Palagu sedikit tertawa.
Saat menjalankan pekerjaannya, Dg Palagu juga kerap mendapat situasi menarik. Seperti ia beberapa kali bertemu dengan keluarganya saat sedang bermain. Awalnya sempat canggung, namun lama-lama ia merasa terbiasa.
“Biasa ketemu sama keluarga disini. Dia kaget ternyata disini k. Ya saya bilang saja Alhamdulillah,” tambahnya.
Selain di Hotel Claro, Dg Palagu ternyata juga biasa diundang ke berbagai daerah untuk bermain kecapi dan sinrilik. Bahkan ia mengatakan, sudah berkeliling Indonesia hanya dari memperkenalkan musik dan lagu Bugis-Makassar. Daerah yang paling sering ia kunjungi adalah di Jakarta, Bandung, sampai Sumatera.
Lantunan musik dari senar ini membuat kesan tradisional di hotel berbintang yang amat modern ini. Pemainnya juga bukan orang ‘kemarin sore’ dalam memainkan alat musik itu. Pria 46 tahun yang telah belajar bermain kecapi dan sinrili sejak masih kecil.
Dengan baju yang serba merah dangan menggunakan patonro, Dg Palagu duduk dengan dua alat musik didepannya. Tiap ada tamu yang masuk, ia bergegas mengambil kecapinya untuk segera dimainkan. Setelah kecapi, ia juga biasa memainkan sinrilinya.
Dihadapan penulis, Dg Palagu juga memperlihatkan keahliannya dalam bermain. Dengan senyum yang merekah dan ekspresi begitu menghayati musik, memang begitu indah terdengar ketika ia mulai memetik.
Dg Palagu ternyata memang keturunan keluarga seniman. Ayahnya seorang seniman tradisional. Ayah Dg Palagu selain menyanyi, juga sangat ahli dalam memainkan kecapi.
Kemampuan itulah yang diturunkan kepada Dg Palagu. Dg Palagu pun mengatakan, jika ayahnya memang betul-betul ingin menjaga kesenian ini kepada dirinya. Makanya sedari kecil, ia diajarkan berbagai teknik dalam bermain musik tradisional Bugis-Makassar.
“Bapakku memang seniman dulu. Beliau sudah meninggal. Dulu dia penyanyi, juga main kecapi. Awalnya saya lihat-lihat bapak. Terus dia mi yang ajar k ini, demi menjaga kelestarian seni bugis-makassar,” katanya.
Ia pun terus bermain, hingga akhirnya ditawari untuk main di Hotel Claro Makassar sejak empat tahun lalu.
Ia mengatakan cukup bersyukur bisa dipanggil bermain sebagai pengiring musik kedatangan tamu di Hotel Claro. Ia bersyukur karena dengan pekerjaannya, ia telah bisa menghidupi keluarga kecilnya.
Dg Palagu sendiri telah dikaruniai satu orang anak. Pria asal Kabupaten Gowa ini pun saat ini tinggal di sebuah rumah di Jalan Abdullah Dg Sirua bersama istri dan anaknya.
“Kalau soal penghasilan, ya Alhamdulillah lah. Setidaknya selain bisa terus melestarikan dan memperkenalkan kesenian daerah ini kepada tamu yang datang, penghasilan saya sekarang bisa lah untuk hidupi keluarga,” ujarnya.(nug/B)
