Site icon Berita Kota Makassar

Siapkan Berbagai Varian Rasa di Jagung Bakar

SUDAH sekitar 15 tahun, Andi Syam Karaeng Ngalle menghidupi istri dan tujuh orang anak-anaknya dengan berjualan jagung bakar. Awal ia jualan jagung bakar di Lapangan Syekh Yusuf Discovery Gowa.

Laporan: ARIF AL QADRY

Awal tahun 2003, pria kelahiran Gowa, 12 Desember 1953 mulai berjualan jagung bakar dengan rasa yang original tanpa racikan resep bumbu. Jagung-jagung bakar itulah yang ditawarkan setiap malam kepada para pengunjung.
Agar pengunjung dapat merasa lebih nyaman dan santai menikmati suasana malamnya sambil menikmati jagung-jagung bakar, Karaeng Ngalle menyediakan kursi serta meja. Lapak jualannya buka sampai dengan pukul 02:00 malam.
Namun saja jualan jagung bakar hanya bertahan selama tiga tahun saja. Lambat laun, semakin banyak pedagang-pedagang jagung bakar dan menjadi saingan. Sehingga ia memilih untuk berpindah tempat jualan jagung bakar di Jalan Hertasning sekitar 2006 lalu.
“Ponakan saya yang pertama kali jualan jagung bakar di lapangan Gowa. Tapi setelah saya ikut jualan selama tiga tahun dan semakin banyak penjual, pembeli juga semakin sepih jadi saya pindah tempat jualan. Awalnya saya cuma keliling keliling hingga saya dapat di Jalan Hertasning ini untuk jualan sampai sekarang ini,” sebutnya.
Di kawasan Jalan Hertasning ini, bapak tujuh orang anak dari istrinya bernama Asdani Nurung mendirikan lapak semi permanen dari kayu dan tenda. Di kawasan ini dia berjualan sudah sepuluh tahun. Dan semenjak berjualan di Jalan Hertasning, jagung bakar buatan sudah punya rasa beraneka mulai pedas manis, asam manis dan rasa original. Lapak jualan jagung bakarnya buka pukul 14:00 sampai subuh.
Harga jagung bakar per bijinya dijual seharga Rp5 ribu. Cukup terjangkau untuk menikmati jagung bakar gurih, manis, dan sesuai selera. Apalagi jagung-jagung yang di bakar semuanya masih segar-segar dan dibeli langsung di pasar tradisional Gowa dan Takalar.
“Saya sengaja beli jagung kalau stock sudah habis. Jadi jagung-jagung bakar yang saya jual tetap segar karena tidak tinggal dua hari dalam karung. Jagung kuning ini saya olah dan saya sendiri yang beli di pasar supaya bisa memilih jagung-jagung ukurannya gemuk dan berisi,” tambahnya.
Untuk bumbu jagung bakar, Karaeng Ngalle mengaku itu dia beli di pasar. Tidak pernah membuat resep bumbu tuk jagung bakarnya sendiri. Meski demikian dia berharap ke depannya dapat mengembangkan bisnis usahanya lebih baik dan berkembang. Ataukah membuat usaha yang lain lebih maju dengan memiliki toko sendiri untuk jualan.
“Saya cita-cita bagaimana usaha jagung bakar saya ini semakin dikenal luas, dan langganan tetap juga semakin bertambah. Kalau rezeki memang ada pasti bisa terjadi,” tutupnya. (*)

Exit mobile version