MAKASSAR, BKM– Pemberitaan negatif di kalangan nitizen terhadap persepsi industri kelapa sawit, menjadi bahan workshop jurnalistik yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), di Hotel Aryaduta Makaasar, Rabu (12/12).
Workshop jurnalistik kali ini mengangkat tema peran netizen dalam menyongsong masa depan Industri Kelapa Sawit Indonesia atau Membangun Awareness dan Persepsi Positif Industri Kelapa Sawit Pada Kalangan Netizen.
Salah seorang pemateri yang juga Pimpinan Umum Warta Ekonomi, Muhammad Ihsan mengatakan, tugas kita ke depan mengawal informasi industri kelapa sawit di Indonesia. Penyebab majunya industri dan berkembangnya negara luar, karena ditopang pemberitaan media massanya.”Kegiatan ini sebagai bentuk wadah yang mampu menambah wawasan dan pengetahuan jurnalis untuk memahami manfaat dari Industri kelapa sawit,” ucapnya.
Selain itu, sebagai pengurus PWI, ia ingin adanya pembentukan literasi media, agar segala informasi yang diberitakan di media disaring lebih dulu sebelum disebar ke masyarakat.”Saya mau mengusulkan untuk media di Sulawesi ini untuk membentuk literasi media, karena seharusnya kita memberikan informasi dan pengetahuan di masyarakat dengan pemberitaan yang sebenar-benarnya untuk memajukan industri kelapa sawit ini,” bebernya.
Sedangkan Ketua GAPKI Sulawesi, Dony Yoga Perdana yang juga sebagai pemateri workshop menegaskan, saat ini, pemberitaan lebih banyak diserang dengan menggiring informasi yang bersifat black campaign. Seperti, menyoroti isu sustainable palm oil atau pengelolaan minyak sawit yang berkelanjutan yang selama ini dipersoalkan negara eropa dan mendapat banyak sorotan dari media masa internasional maupun nasional.
“Misalnya saja isu deforestasi yang kerap dialamatkan pada industri sawit. Padahal produktivitas sawit jauh lebih besar dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Saya cuman mau sharing mengenai kelapa sawit di tengah nasionalisme media menghadapi persaingan minyak nabati global. Banyak permainan isu pemberitaan media barat mengenai kelapa sawit,” tuturnya.
Sementara itu, Corporate Secretary BPDPKS, Achmad Maulizal Sutawijaya menuturkan, kedepannya untuk meningkatkan daya ekspor kelapa sawit di Indonesia. Pihaknya berupaya untuk menambah lahan kelapa sawit di Indonesia, khususnya Sulawesi dengan menargetkan lahan di tahun 2019 bertambah seluas 200.000 Ha.
“Kalau taret kita ditahun ini sebesar 185 Ha, maka di tahun depan target kami 200.000 Ha hingga ditahun 2022 bisa mencapai 400.000 Ha. Bantuan BPDPKS dengan model pertama memberikan bantuan ke petani kelapa sawit sebesar Rp 25 juta tabungan,” tutupnya. (ita)
PWI Gelar Workshop Cegah Black Campaign
