MAKASSAR, BKM — Masyarakat tani tanaman pangan merupakan masyarakat yang dapat dicirikan dengan kondisi kemiskinan, keterbelakangan, rendahnya kapasitas administratif.
Dalam kondisi masyarakat tani tersebut, pemberdayaan masyarakat merupakan hal yang krusial karena dalam perspektif people centered development, pendekatan pemberdayaan masyarakat digunakan karena diyakini sumber masalah kemiskinan dan keterbelakangan.
Demikian alasan Erik Rahim pentingnya mengkaji implementasi kebijakan pemberdayaan masyarakat tani. Hal ini dikemukakan saat mempertahankan disertasinya pada sidang ujian promosi doktor, Kamis (13/12) di Aula PPs UNM.
Temuan penelitian Widyaiswara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sulsel: pertama, isi kebijakan masih sangat didominasi oleh program/kegiatan pengadaan bantuan, baik sarana maupun prasarana produksi pertanian.
Kedua, lingkungan implementasi kebijakan telah didukung para aktor, namun kurang aspiratif dan responsif keberpihakan dan komitmen kuat dari implementor. Implementasi masih didominasi pendekatan topdown.
Menurut Erik Rahim, unsur kekuatan budaya dapat dijadikan penguat spirit masyarakat tani. Budaya Appalili dapat dijadikan sebagai wadah dalam pemberdayaan masyarakat tani di Desa Barammamase Kabupaten Takalar.
Setelah menjawab sanggahan dewan penguji, Erik Rahim dinyatakan lulus dengan IPK 3,74 atau predikat kelulusan sangat memuaskan. Erik tercatat sebagai doktor ke-762 PPs dan ke-302 Prodi Ilmu Administrasi Publik.
Sidang ujian promosi dipimpin Prof.Dr.Anshari,M.Hum., dengan anggota: Prof.Dr.Haedar Akib,M.Si., Prof.Dr.Andi Ima Kesuma,M.Hum., Prof.Dr.Suradi Tahmir,M.S., Prof.Dr.Manan Sailan,M.Si., Prof.Dr.Fakhri Kahar,M.Si., dan Dr.Farid Said,M.Si. (*)
