NAMA Prof Dr dr Abd Razak Thaha begitu populer. Terutama di kalangan akademisi, dan praktisi kesehatan. Lelaki bersahaja yang akrab disapa Prof Atja ini, sudah menggoreskan tinta emas dalam perjalanan hidupnya sebagai lelaki yang memiliki dedikasi terhadap tugas dan profesinya.
Bukan hanya di Sulsel. Karena pengalaman dan kedalaman ilmunya, Prof Atja saat ini dipercaya menjadi Dewan Pengawas di Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pusat. Ia kerap dimintai pertimbangan untuk merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan persoalan kesehatan.
Jiwa sosialnya juga cukup tinggi. Terbukti, ketika ditemukan kasus gizi buruk di Asmat, Papua, lelaki kelahiran Tual, Maluku Utara, 23 Maret 1949 terjun langsung ke sana melakukan pendampingan.
Karirnya sebagai akademisi dan dokter sangat cemerlang. Namun, tiba-tiba dia memutuskan untuk terjun ke politik. Dunia yang selama ini dijauhinya. Prof Atja memutuskan bergabung dengan PDIP dan menjadi calon legislatif DPR RI.
Banyak orang bertanya-tanya, bahkan menyayangkan keputusan itu. Terutama kolega dan keluarganya. Kenapa harus mengambil jalan itu. Pertanyaan lain yang muncul kemudian, sosok religius itu kenapa memilih bergabung ke PDIP yang nasionalis. Bukan partai religius.
Ternyata, ada alasan penting dia memutuskan memilih jalan tersebut.
Dia bertutur, keputusan itu diambil setelah melewati perjalanan panjang dan salat istikharah. Juga melalui perdebatan sengit dalam keluarga.
Selama menjadi akademisi dan pengurus besar IDI, berbagai persoalan terkait kesehatan menjadi perhatiannya.
Di berbagai negara, menurut Prof Atja, makin baik pendapatan perkapita makin baik status kesehatan. Tapi, di Indonesia terjadi anomali. Dimana, lanjutnya, kenaikan pendapatan per kapita tidak sejalan dengan status kesehatan.
Prof Atja menjelaskan, pemerintah telah memberikan keberpihakan yang positif. Buktinya, APBN Kesehatan 2017 meningkat 3 kali lipat dibandingkan dengan tahun 2014. Tetapi, katanya, status kesehatan tidak membaik signifikan bahkan penyakit-penyakit tidak menular meningkat tajam.
“Sebagai akademisi, selama lebih dari 40 tahun saya telah bekerja bersama masyarakat melalui dharma pendidikan, penelitian dan pengabdian khususnya dalam bidang kesehatan. Bekerja sekuat tenaga di wilayah hilir mendampingi para kader, pekerja-pekerja sosial serta tenaga-tenaga kesehatan baik pemerintah maupun non-pemerintah,” ujar Prof Atja.
“Dari pengalaman yang panjang tersebut lahir kesadaran bahwa kerja-kerja keras tersebut harus dilengkapi dengan kerja cerdas melalui pembuatan kebijakan-kebijakan di wilayah hulu yang memihak kepada kepentingan masyarakat khususnya kelompok ekonomi bawah. Dan institusi politik yang strategis untuk maksud tersebut adalah lembaga legislatif. Itulah yang memotivasi saya untuk maju sebagai caleg,” ungkap Prof Atja pada sesi diskudi Mempoki ri BKM, Kamis (13/12).
Kenapa mesti memilih PDIP? Prof Atja mengatakan, karena sejauh ini berdasarkan pengamatannya, PDIP menjadi partai yang paling konsisten memberi perhatian pada persoalan kesehatan.
“Saya jadi saksi. Salah satu fraksi yang konsisten memihak perjuangan kesehatan di DPR RI adalah PDIP,” ungkapnya.
Saat ini, Prof Atja merupakan satu-satunya guru besar yang mendaftarkan diri menjadi caleg. Dia tercatat sebagai caleg DPR RI daribPDIP di Dapil I meliputi Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng dan Kepulauan Selayar.
Kendati maju bertarung, Prof Atja mengaku tidak memiliki tim sukses dan tidak memiliki sekretariat. Namun dia percaya ada manajemen ilahi. Artinya, Allah sudah mengatur segala sesuatunya.
Namun, bukan berarti Prof Atja tidak optimis menghadapi pertarungan. Dengan latar belakang profesional, berbagai macam organisasi, dia yakin banyak yang mendukungnya. “Jadi tidak susah untuk kampanye,” tandasnya. (rhm/rus)
