MAKASSAR, BKM — Untuk mengantisipasi dan meminimalisir genangan maupun banjir dibeberapa wilayah, kecamatan Biringkanaya, Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar, menurunkan alat berat jenis Amphibi, di kawasan Danau Balang Turungang, Jl Perintis Kemerdekaan (Jembatan Daya) Kecamatan Biringianaya.
Amphibi milik PU itu diturunkan, pada Minggu malam, dan akan bekerja mulai hari ini, hingga beberapa hari kedepan.
Mereka akan menarik dan membersihkan semua tumbuhan yang berada dipermukaan danau, seperti enceng gondok, kangkung. Serta menaikkan semua sampah-sampah yang menumpuk di sekitar jembatan Daya.
Pembersihan danau Balang Turungang tersebut diinisiasi oleh Anggota DPRD Kota Makassar, Abdi Asmara, untuk menjawab dan menindaklanjuti aspirasi warga yang meminta segera, danau tersebut dibersihkan dan dikeruk, untuk mengantisipasi dan meminimalisir genangan maupun banjir di daerah tersebut.
“Warga mendesak, makanya saya selaku wakil rakyat, langsung telepon Pak Wali, meminta Dinas PU menurunkan alat beratnya untuk membersihkan dan mengeruk danau Balang Turungang. Alhamdulillah, tadi malam Amphibi PU sudah tiba di lokasi, dan hari ini mulai bekerja,” ujar Legislator Kota Makassar dari Partai Demokrat ini yang dihubungi via telepon selularnya, sesaat lalu.
“Saya juga sudah koordinasi dengan Pak Camat, dan beberapa lurah untuk kegiatan ini. Saya minta Camat dan Lurah, dan semua elemen seperti LPM, RT RW dan komponen masyarakat lainnya agar turun berpartisipasi, gotong royong membersihkan danau Balang Turungang. Karena persoalan lingkungan adalah tanggungjawab kita bersama,” pungkasnya.
• Harus Ada Saluran Pembuangan ke Laut
Henrik Tetta Ode (39) salah satu warga Daya, mengatakan, pembersihan danau Balang Turungang ini harus menjadi perhatian serius pemerintah kota. Kalau perlu pembersihan danau tersebut dilakukan rutin, minimal sekali sebulan.
Menurut Henrik, Pemerintah juga mesti memikirkan solusinya, agar danau Balang Turungang yang dulunya adalah kubangan kerbau itu, pembuangannya ditembuskan ke laut.
“Itu bukan sungai, bukan juga kanal, karena tidak ada pembuangannya. Salurannya buntu dan tertutup akibat pembangunan Kompleks Ruko Pagodam. Makanya menjadi danau. Airnya tinggal dan ditumbuhi enceng gondok,” tutur Henrik yang tinggal persis disamping danau Balang Turungang.
“Saya yakin kalau ada saluran pembuangan air ke laut, bisa meminimaliair banjir di wilayah Daya, Paccerakkang, Berua, dan beberapa daerah lainnya di Biringkanaya,” ketusnya.
Menanggapi hal itu, Abdi Asmara menjelaskan bahwa, memang seharusnya ada pembuangan air dari Balang Turungang ke laut. Hanya saja, kata Abdi, untuk menembuskan ke laut, saluran pembungannya harus melalui beberapa lahan warga.
“Tapi tidak masalah, kita bisa usulkan untuk dibebaskan lahan warga untuk membuat saluran pembuangan air hingga ke laut,” lontarnya.
“Waktu kami reses, kita sudah tinjau ke lapangan. Memang disitu buntu, karena tertutup dengan kompleks ruko Pagodam. Meski begitu, kita bisa membuat saluran pembuangan hingga ke laut. Kalau hanya persoalan lahan warga, kita bisa usulkan untuk dibebaskan,” pungkasnya.
Abdi menambahkan, bahwa untuk pembuatan saluran pembuangan air di daerah itu, semua stakholder harus duduk bersama. Pemkot, Provinsi hingga pusat harus duduk bersama mencarikan solusinya.
“Saya kira, kita semua harus duduk bersama. Pemkot Makassar, Provinsi dan pemerintah Pusat, mesti memikirkan persoalan ini dan harus segera mencarikan solusinya,” terang Abdi Asmara. (drw)
