USAHA Bakso Cingkrank mulai membuka cabang pertama di Antang, Makassar pada bulan Juli 2016. Setelah itu, membuka cabang ke dua dalam waktu 6 bulan. Melalui sistem syirkah atau bagi hasil, Ashari dan teman temannya telah mampu membuka cabang ke enam di dalam kota Makassar.
Laporan: JUNI SEWANG
Bahkan dalam menjalankan usaha baksonya, Nur Ashari mewajibkan seluruh karyawatinya untuk mengenakan hijab dan pegawainya muslim.
“Semua pegawai muslim, semua pegawai perempuan wajib jilbab, ini adalah usaha sembari berdakwah,” tuturnya.
Merintis usaha itu dari nol, namun setelah semua orang mengenalnya, Ashari berharap merintis usaha Bakso Cingkrank sistem Syirkah hingga keluar kota Makassar
“Saya memulai bulan Juli 2016, cabang pertama di Antang, Makassar, menjadi agen untuk usaha kami ini, usaha Bakso Cingkrank sistem Syirkah ini amanah untuk berdakwah, mempekerjakan saudara saudara muslim,” katanya.
Hingga di tahun 2018 ia merasa jalan Cingkrank sudah tepat sasaran. Karena fungsinya sudah sesuai, untuk mengurus tempat usahanya rupanya, kesabaran memang bisa memberikan hasil maksimal jika terus menekuninya. Bahkan kini ia memindahkan kembali lokasi usahanya ke tempat yang lebih strategis di jalan poros jalan AP Pattartani.
“Selain harus fokus dan sabar, kami juga tak pernah menganggap konsumen sebagai orang lain, tapi jadikanlah mereka sebagai sahabat, sehingga mereka bisa lebih percaya,” tambah Muh Nur Ashari.
Dengan enam cabang yang sudah ia rintis, dengan tujuan membuka lapangan kerja, dengan tujuan usaha adalah dakwah, dimana managemen company, wajib jilbab, dengan usaha makanan digandurungi.
Lulusan STIE Nobel, jurusan Manajemen Bisnis, dengan tekun menjalankan usahanya, kendati beberapa cobaan menghampirinya.
Pria kelahiran 23 Mei 1983 ini memang harus terjun di dunia bisnis usai menyelesaikan study nya, ia sudah menikah dan dikaruniai 2 orang anak. Tak ingin sendiri dalam merintis usahanya, Ashari merintis usaha Bakso Cingkrank sistem Syirkah dengan menjual saham, dimana perlembar saham seharga Rp5 juta.
“Saya merintis pada Juli 2016, awalnya teman teman yang sering sama sama salat, ngobrol biasa bagaimana kalau buat usaha, yang Islami, maka diberilah nama Cingkrank (celana diatas mata kaki), ini awalnya, dari konsultasi, konsep kemudian ajak kerja sama join, bagaimana ini bisnis bisa banyak yang suka,” jelas Ashari.
Ia tak perlu larut dalam bisnisnya, Ia selaku salah satu pemilik saham kembali membuka usaha baru, usaha yang sama, dari cabang pertama di bulan Juli 2016, membuka cabang ke dua dalam waktu 6 bulan, 2018 Ashari dan teman temannya membuka cabang ke enam dalam kota Makassar.
“Semua pegawai muslim, semua pegawai perempuan wajib
Outlet-outlet tersebut, sebelumnya telah ada di Antang, Abdullah Dg Sirua, BTP, Sudiang, Sunu, dan kini di Pettarani.
“Alhamdulillah. Mudah-mudahan outlet ke enam ini, semakin berkah dan memberikan sumbangsih besar pada pencapaian target akhir tahun ini,” ujar Ashari.
Adapun harga menu, kata Ashari, dibanderol mulai Rp16.000 hingga Rp40.000.
Menu-menu yang tersedia pun variatif, bukan hanya bakso saja. Tapi juga ada menu-menu tradisional, dan menu inovasi yang dijamin memiliki cita rasa unik menggoda lidah.
Selain itu, juga ada menu mie pangsit Sami yang yang berlevel hingga level terpedas, juga mie koma, dan mie rica-rica.
“Semua menu kami menjadi andalan pengunjung. Apalagi, kami tetap mempertahankan cita rasa khas kearifan lokal. Ini salah satu daya tarik kami,” katanya.(*)
