Site icon Berita Kota Makassar

Ramlah, Penyandang Disabilitas yang Tetap Berkereasi

MESKI Hj Ramlah adalah penyandang disabilitas atau tunarungu, perempuan kelahiran Makassar 15 Desember 1973 itu merasa kelainan fisiknya bukan batasan untuk mencapai impian. Karena keterbatasan hanyalah tantangan seseorang dalam menjalani kehidupan ini.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Hj Ramlah sebenarnya wanita yang normal saja namun sejak umur dua bulan mengalami demam yang sangat tinggi selama satu bulan di tahun 2001 yang akhirnya membuat wanita ini mengalami ganguan bicara dan mendengar sampai sekarang.
Saat ditemui penulis dirumahnya, ia hanya bisa menjelaskan usahanya dengan menuliskan katanya di dalam kertas. Ramlah telah merintis usahanya semenjak tahun 2009. Di awal memulai menjadi pengusaha ia berjualan pakaian di Karebosi.
Berselang pergantian bulan, ia memutuskan untuk beralih menjadi penjual Brownies Roll selama tiga tahun, kemudian merintis kue donat selama lima tahun.
“Berkat usaha dan dibantu oleh ipar saya Ani, usaha saya lebih maju. Dulunya saya jual kue dengan mengendarai sepeda motor keliling yang dibantu oleh suami saya juga,” ungkapnya sambil gagap.
Selama ini ramlah dan suami dalam merintis usahanya tidak terlalu mengalami banyak masalah, hanya karena masyarakat dan pelanggan yang membeli di cafenya telah memahami dan tinggal menunjuk apa saja pesanannya, maka pegawai dan Ramlah telah memahami maksud dari pelanggannya.
Saat ditanyai mengenai tanggapan dan respon yang selama ini masyarakat berikan untuknya, Ramlah mengaku mendapat respon yang baik-baik saja. Bahkan masyarakat memuji kue donat yang dimiliki oleh Ramlah.
“Semua bilang bahwa kue saya enak dan semuanya senang. Bahkan ada yang memasan banyak. Saya bekerja dengan usaha ini secara pelan-pelan dari bawah kemudian bisa menjadi seperti ini,” ujar Ramlah dalam bahasa tubuh dan tangannya saat bercerita.
Dengan usahanya yang sekarang, ia menjual donat dari harga Rp3.000,Rp2.500, dan Rp2.000, terakhir kalinya Pemerintah Kota Makassar pernah berkunjung di usaha Ramlah ini di tahun 2013. Sedikit pun Ramlah tidak mau menerima bantuan siapa pun, sebab semua usahanya hasil dari kerja kerasnya bersama suami.
Ia menuliskan dalam secarik kertas bahwa “Saya punya usaha Donat ini hasil dari saya sendiri, meskipun saya harus menjual mobil Avansa saya untuk merintis usaha ini,” ungkapnya.
Meski begitu, apa yang telah dijualnya seperti mobil untuk meniti karier lambat laun kembali lagi. Kini Ramlah bersama suaminya telah memiliki mobil baru.
Termasuk, rumahnya ia telah dekorasi seperti cafe yang cukup menampung karyawan sebanyak 14 orang.
Saat ini, Ramlah telah merekrut karyawan cafenya sebanyak 14 orang yang terdiri dari 10 orang perempuan dan 4 laki-laki yang semuanya tunarungu. Saat ditanya alasannya mengambil tunarunggu sebagai karyawan, Ramlah hanya percaya dan lebih lega memperkerjakan karyawan yang tunarungu dibandingkan dengan karyawan yang normal.
“Awalnya saya memperkerjakan dua karyawan yang normal akan tetapi mereka lebih mengeluh dan capek jika disuruh-suruh. Akhirnya saya menjadikan penyandang disabilitas sebagai karyawannya karena rajin dibandingkan karyawan yang normal,” ceritanya.(*)

Exit mobile version