TIDAK seperti hari biasanya, kemarin terdengar suara riuh di ruang kunjungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I A Makassar. Tampak wajah ceria dan senang dipancarkan dari sejumlah warga binaan saat bertemu keluarganya. Tak terkecuali Randy Baret warga binaan yang sebentar lagi merayakan Hari Natal di dalam Lapas.
Laporan: JUNI SEWANG
Siang kemarin, juga penjagaan terlihat ketat di areal luar dan dalam lapas. Bahkan para pengunjung dari keluarga binaan harus mengambil nomor antrean dan diperiksa barang bawaannya, hal ini dilakukan untuk memastikan tidak membawa barang terlarang. Semua perangkat telepon genggam wajib dititip di loket khusus, begitupun dompet para pengunjung.
“Maaf pemeriksaan dulu, demikianlah prosedurnya,” kata seorang petugas Lapas.
Di dalam ruang kunjungan, senda gurau, senyuman dan tawa terasa kuat.”Selamat jelang Natal Pak,” ucap seorang warga binaan di lapas, kepada Randy Baret, salah satu warga binaan yang akan merayakan Natal berapa hari kedepan. Randi dibesuk oleh istri dan anaknya.
“Saya baru bisa bebas akhir tahun 2019 mendatang. Artinya masih ada satu kali Natal di dalam lapas ini,” kata Randy Baret.
Dia mengaku belajar banyak di dalam Lapas. Ada sesal mendalam tersirat di raut wajahnya. “Saya agak sakit. Semoga Natal kali ini telah memberi saya satu cerita bahagia,” katanya.
Harus menjalani hukuman selama 9 tahun dan 2 bulan potong masa remisi dinilainnya sebagai proses pencucian diri. Natal kata dia dimaknai sebagai sebuah momentum ‘terlahir kembali’. Makna pertaubatan sebagai manifestasi dari kelahiran Yesus itu telah menginspirasi niatannya untuk berubah.
“Jujur, beberapa hari terakhir jelang perayaan Natal, saya sedih mengenang Natal sebelumnya bersama keluarga dan anak-anak di rumah,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Nada sedih dan sesal terus mewarnai sejumlah warga binaan yang beragama Kristen di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I A Makassar. Ada sekitar 60 warga binaan yang akan merayakan Natal.(jun)
