Site icon Berita Kota Makassar

Pemprov Kembalikan Kejayaan Kakao

MAKASSAR, BKM– Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah penghasil kakao terbesar di Indonesia. Hanya saja dalam beberapa tahun terakhir, terjadi penurunan nilai produksi kakao.
Data Dinas Perkebunan Sulsel, saat ini produksi kakao Sulsel hanya 700-800 kilogram perhektar selama setahun. Padahal jika dimaksimalkan produksi bisa mencapai 2-3 ton perhektarnya.
Kepala Dinas Perkebunan Sulsel, Andi Parenrengi mengakui masalah utama kakao di Sulsel terletak pada benih yang ditanam. Selama ini, benih unggul yang ditanam didatangkan dari Pulau Jawa.
“Padahal Sulsel punya varietas unggul sendiri. Biar bagaimana pun kita bangun emtrisnya, kalau semua sumber benih bukan dari Sulsel akan susah juga. Makanya kita dorong semua benih berasal dari Sulsel,” katanya, usai menghadiri rapat koordinasi tentang kakao di Kantor Gubernur Sulsel pekan lalu.
Parenrengi menyebutkan tahun ini pihaknya sudah menyiapkan 5 juta bibit melalui APBD 2018 dan 1 juta bibit juga akan disebar di awal tahun 2019. Untuk pengembangan sudah ada beberapa daerah yang dijadikan wilayah komoditas.
Pusat pengembangan kakao sendiri ada di Bosowa Sipulu (Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang dan Luwu Raya). Total lahan kakao di Sulsel sendiri mencapai 230 ribu hektar.
Selain masalah perbenihan, upaya lain yang dilakukan pihaknya adalah dengan melalukan pendampingan dan pembimbingan ke petani. Terutama mengantisipasi masalah hama dan busuk buah.
“Kita akan melakukan pendampingan untuk membuat pestisida alami dan pupuk nabati dari kakao sendiri. Kalau kita bisa maksimalkan, produksi bisa 2 sampai 3 ton tentu diawali dengan bibit bersertifikat,” jelasnya.
Direktur Perbenihan Perkebunan Kementerian Pertanian, Muh Anas yang juga hadir dalam rapat tersebut juga mendukung hadirnya bibit unggul bersertifikat di Sulsel. Bahkan pihaknya siap membantu pembangunan pusat perbenihan di Luwu seluas 20 hektar.
Menurutnya, jika pusat perbenihan ada bisa menjadi sumber pendapatan (PAD) bagi Sulsel. Tak hanya untuk memenuhi benih Sulsel tapi juga seluruh wilayah di Sulawesi.
“Kita akan sesuaikan dengan kondisi iklim dan ketinggian di sini. Kalau bibit sudah siap, kita kawal dengan regulasi yang memudahkan petani memperoleh benih itu,” katanya.
Terkait hilirisasi industri kakao, Anas menyebutkan hal itu sangat baik. Kementerian Pertanian akan mendukung penuh program pemprov Sulsel, terutama pemusatan pengembanan kakao di daerah Luwu Raya.
Sementara itu, Wagub Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman mengatakan untuk tahun 2019 mendatang pihaknya akan memberikan 9 juta bibit kakao. Ini dilakukan untuk melakukan peremajaan tanaman kakao petani.
“Kita libatkan semua yang jago-jago pertanian. Intinya kita surplus bibit unggul, jadi kalau produksi kita turun harus digenjot kembali dengan melakukan pendampingan,” pungkasnya. (rhm)

Exit mobile version