MAKASSAR, BKM–Kehadiran mayoritas calon anggota legislatif (Caleg) milenal dengan gagasan serta gerakan politik baru dinilai akan menjadi salah satu daya tarik calon pemilih pada Pemilu 2019 mendatang. Apalagi, persentase pemilih milenal untuk Pileg 2019 terbilang cukup tinggi, maka konstalasi ini akan menjadi ancaman bagi para caleg incumbent.
REPORTER: ARDHITA
EDITOR: HAMZAH SAMAL
Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Makassar (UINAM), Syahrier Karim menyatakan, jika caleg incumbent tidak kreatif, maka sangat memungkinkan ditumbangkan para caleg pendatang baru, khususnya caleg milenal. “Dibanding caleg baru, caleg incumbent saya kira lebih berpengalaman dan tinggal dituntut untuk lebih kreatif lagi dalam mendekati hati pemilih, khususnya kaum milenial. Kalau incumbent tidak kreatif dalam berkampanye, maka bisa saja disalip oleh caleg-caleg muda,” ungkapnya dalam bincang politik di Warkop Arbobiz Boulevard, Kamis (27/12).
Hal senada dikatakan oleh Direkrur Epicentrum Politica, Sunardi. Sunardi menegaskan, kehadiran caleg milenial dengan gagasan dan gaya baru tentu berpengaruh terhadap caleg incumbent yang lebih cenderung mengandalkan pengalaman. “Pastilah punya pengaruh, apalagi saat ini isu milenial sangat laris dijadikan ramuan kampanye, makanya caleg incumbent harus memperkaya strategi kampanye untuk mengimbangi gerakan milenial tersebut,” ujarnya.
Dia menambahkan, caleg incumbent seharusnya tidak perlu terganggu dengan adanya caleg muda tersebut, justru, kata dia, tantangan ini bagus untuk memperkaya strategi. “Caleg incumbent diuntungkan dengan pengalaman daripada caleg muda,” ucapnya.
Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Makassar, Andi Luhur Priyanto menilai, terganggu atau tidaknya caleg incumbent dengan kehadiran generasi milenial di langgam politik Pileg, tergantung dari masing-masing caleg dan partai politik.
“Saya kira tergantung kesiapan masing-masing caleg dan partai politik. Semua dapil punya karakter dan level persaingan yang berbeda. Caleg senior petahana yang merawat Infrastuktur organisasi dan melayani konstituen dengan baik, tentu punya peluang lebih besar,”katanya. “Tetapi kalau Caleg-caleg lama petahana itu juga stagnan dan monoton dalam interaksi dengan konstituen, maka bisa saja kursi yang selama ini dimiliki, akan direbut caleg muda milenial yang lebih siap dan menawarkan model hubungan dan interaksi yang lebih baik,” tambahnya. (ita/cha)
