Site icon Berita Kota Makassar

Target Punya Toko Kue Tradisional Sendiri

PELAKU Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kota Makassar mengalami perkembangan cukup pesat, utamanya bisnis usaha kuliner makanan ringan. Kue-kue tradisional dan modern paling banyak menjanjikan. Dan peluang bisnis usaha ini ternyata dimanfaatkan dengan baik oleh Fitriyanti.

Laporan: ARIF AL QADRY

Perempuan kelahiran Soppeng, 27 Oktober 1973 membuat merek bernama Rara Cake Makassar. Brand yang berdiri pada 2013 lalu menjual aneka macam jenis kue tradisional dan modern melalui online. Media sosial seperti facebook, IG atau instagram hingga whats up (WA) menjadi media tuk berdagang selain dengan mendistribusikan ke toko-toko offline jualan oleh-oleh.
Dari banyaknya jenis kue yang dibuat, kue kering kelapa krispi paling banyak laku terjual dan di cari. Produk kue ini tidak kalah saingnya dengan produk lokal di Sulawesi Selatan (Sulsel). Hambar rasanya bertolak dari kota ini tanpa membawa oleh – oleh kue tradisional olahan Rara Cake Makassar.
“Jualan kelapa krispi ini berawal dari jualan kue lumpur dan kue nona manis yang saya titipkan dari warung ke warung. Walhasil dari usaha situlah saya mencoba buat kue jenis lainnya dan pasarkan. Responnya baik bahkan banyak pemesan. Hingga saya membuat dengan jumlah banyak dan distribusikan hingga ke toko oleh-oleh di Makassar,” sebut ibu lima anak dari pasangan suami Ir wiyono Barata.
Keberhasilan Fitriyanti melakoni bisnis usaha jualan kue tradisional dan modernya ini tidak semudah dengan apa orang-orang pikirkan. Perlu perjuangan, kesabaran dan konsistensi. Sebelum menjual kelapa krispi, dia dulunya setiap pagi berkeliling menitipkan kue-kue buatannya di warung.
Pukul tiga subuh, Fitriyanti sudah harus bangun untuk membuat kue-kue tradisional. Ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, dia kemudian bergegas meninggalkan rumahnya. Kue-kue dimasukkan dalam rantangan lalu di bawanya ke warung. Tidak banyak jumlah yang dibuatnya, karena kue-kue ini hanya bisa bertahan sampai sore.
“Setelah beberapa tahun jualan kue tradisional, saya kemudian masuk di komunitas masak. Di komunitas ini saya mendapat banyak inspirasi hingga berani untuk membuat inovasi kue tradisional. Sekarang namanya kelapa krispi. Kalau di Soppeng orang sebut kue bangke kaluku dan saya kasih nama kelapa krispi,” ucapnya.
Dalam sebulan, dia mampu menjual paling sedikitnya 150 bungkus kue kelapa krispi. Setiap bungkus isi berat 80 gram dengan harga Rp15 ribu per bungkus. Dia bercita-cita kedepan dapat lebih mengembangkan bisnis usaha lebih luas dan memiliki toko dimana-mana. (*)

Exit mobile version