Site icon Berita Kota Makassar

Ujian Golkar di Sulsel Lawan Penguasa

MAKASSAR, BKM–Partai Golkar di Sulawesi Selatan diperhadapkan dengan tantangan baru. Pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 kali ini, untuk pertamanya partai Beringin Rindang berlawanan dengan penguasa, dalam hal ini Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah.

Di Pilkada gubernur, Golkar sebagai sentra koalisi Nurdin Halid -Aziz Qahar Mudzakkar dan berada di posisi runner up. Ketua Harian Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPD Golkar Sulsel, Syamsu Rizal tidak menepis bahwa kondisi itu adalah sebuah tantangan. Hanya saja, dengan tegas dia mengatakan bahwa tantangan bagi Golkar akan dijadikan peluang. “Tantangan kita jadikan peluang. Momentum strategis ini akan menghidupkan mesin partai. Selama ini memang jarang dihidupkan maksimal. Dulu-dulu dua atau tiga mesin menyala. Sekarang empat mesin partai dihidupkan semua,” ungkapnya, Rabu (2/1). Selain itu, Wakil Wali Kota Makassar ini sesumbar bahwa selama ini, Golkar adalah partai yang memiliki mesin cukup kuat. Dia tidak menepis bahwa tantangan ini akan mejadi daya gedor untuk kader bekerja maksimal. Bahkan, dia mengaku sangat optimis meningkatkan perolehan kursi Golkar di DPRD Sulsel yang saat ini mengontrol 17 kursi. Sedangkan manager strategi lembaga survei dan konsultan politik Jaringan Suara Indonesia (JSI), Nursandy yang dimintai tanggapan menilai, Gubernur Sulsel yang tak lagi berasal dari Golkar tentu akan mempengaruhi kiprah partai menatap Pileg. Meski, dampaknya tak signifikan. “Tantangan Golkar ke depan memang tak mudah, hasil pemilu sebelumnya menunjukkan tren penurunan perolehan suara partai yang diraih,”ucapnya. Dia menilia, ini ujian sesungguhnya dari Golkar untuk meningkatkan perolehan suara partai. “Namun dengan komposisi caleg yang dimiliki saat ini dan ditopang oleh kepala daerah yang berasal dari Golkar, optimisme partai beringin untuk berjaya kembali di Sulsel masih sangat mungkin terjadi,” katanya.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Firdaus Muhammad mengatakan hal itu tentu akan menjadi tantangan, namun masih terbuka alternatif untuk Golkar jika ingin mengantisipasi. “Golkar perkuat strategi dekati pemilih millenial dan tidak bergantung pada kepala daerah. Kemudian perlu penguatan pergerakan progresif dan sinergis atau pola kemitraan,” tuturnya. (ita/cha/c)

Exit mobile version