Site icon Berita Kota Makassar

Medsos Jadi Wadah Politik Pemilih Milenial

MAKASSAR, BKM–Media sosial menjadi wadah politik bagi anak muda atau pemilih milenial. Itu terlihat dari partisipasi serta maraknya akun-akun politik yang bermunculan di media sosial. Ketua PSI Sulsel, Fadli Noor menilai, fenomena anak muda berpolitik sudah meningkat dari sebelumnya. Geliat milenial untuk berpolitik cenderung naik karena mereka aktif di media sosial (medsos).

REPORTER: ARDITHA

EDITOR: HAMZAH SAMAL

Saat ini, wacana politik sebagian besar disebarkan melalui medsos. “Anak milenial yang punya kepedulian terhadap kondisi negeri langsung terpolarisasi. Walaupun pandangan politik mereka tidak memiliki kubu politik,” ujarnya, belum lama ini.
Ia pun mengakui masih banyak anggapan masyarakat jika kaum milenial adalah generasi yang cuek dan tidak peduli dengan dunia politik. Itu karena generasi milenial tidak diberikan ruang politik yang cukup. Tapi saat ini, pihaknya melihat partisipasi anak muda lebih baik dari sebelumnya, meskipun memang perlu ditingkatkan lagi.
Lanjutnya, ia mengatakan, ada cara khusus untuk meningkatkan partisipasi politik anak muda. Khusus di PSI, anak muda dipantik semangat berpolitiknya melalui pemberian ruang seluas-luasnya untuk tampil dan aktif bersuara. Sebab ia melihat, sebelumnya anak muda diberikan ruang untuk aktif di partai politik. Tapi mereka tidak mendapatkan ruang yang cukup untuk berpartisipasi dalam mengambil kebijakan.

“Sebelumnya mereka terlibat dalam parpol tidak diberi ruang pengambilan kebijakan. Sementara di PSI mereka diberikan ruang pengambilan kebijakan politik. Mereka butuh ruang, bukan hanya sekadar menjadi alat kampanye, pasang-pasang baliho, tukang kawal-kawal. Di PSI mereka langsung menjadi tokoh,” jelasnya. Anak muda juga perlu diberikan keyakinan jika politik itu tidak seserius yang mereka kira. Makanya, kata dia, PSI senantiasa menggunakan jargon berpolitik dengan riang. Hal tersebut diwacanakan agar anak muda dapat melihat jika aktivitas politik bisa dilakukan dengan gembira.

“Kita bermain isu yang mereka sangat pahami. Misalnya kami di PSI mendorong penguatan ekonomi kreatif. Mendorong kaum muda menyalurkan suara dan aspirasinya. Mereka bukan hanya mendengar tapi menjadi narasumber utama. Dengan begitu mereka merasa diberi ruang yang besar sehingga mereka aktif berpolitik,” tuturnya. Untuk meningkatkan partisipasi politik milenial, perlu ada upaya mengenali karakteristik mereka yang senang berkomunitas. Fadli melihat, milenial punya kecenderungan untuk membentuk komunitas. Dan komunitas yang mereka bentuk unik-unik. Sehingga seluruh pihak yang peduli dengan masa depan politik anak muda memang perlu memasuki ranah komunitas mereka.

Pihaknya sendiri melakukan hal tersebut untuk meningkatkan partisipasi politik anak muda. Sebab kata Fadli, tidak efektif jika mereka didekati dengan intervensi kekuasaan. “Mereka sudah punya komunitas. Yang kami lakukan berkolaborasi dengan komunitas yang ada. Dan memikirkan apa dukungan politik yang tepat untuk mereka. Jadi mereka tetap ekspresif dan tidak meninggalkan aktivitas mereka, tinggal kita mencarikan koneksi politiknya di mana,” pungkasnya. (dit/cha/b)

Exit mobile version